Sama pasangan itu nggak boleh hitung-hitungan. Sama pasangan saja begitu apalagi sama orang lain!

Saya sering mendengarkan celetukan ini. Beberapa malah dari cecunguk yang pernah menjalin relasi dengan saya dan sebagian dari orang lain yang saya kenal. Dulu, saya meyakini pernyataan itu sepenuh hati. Ya namanya cinta nggak boleh hitung-hitungan.

Biasanya, kata-kata itu akan muncul ketika pasangan ada maunya. Bisa mau pinjem uang, mau minta tolong kerjain tugas kuliah, atau mau minta dienakin hubungan seksual lebih jauh dengan janji bakal dikawinin.

Betul sih, kamu mau jatuh terpuruk tenggelam dalam luka jeru demi kekasihmu meski tidak mendapatkan perlakuan yang minimal “sama” dengan yang kamu berikan. Itu nggak jadi masalah. Hitung-hitungan toh nggak memastikanmu mendapatkan cinta sesuai espektasi yang kamu inginkan.

Tapi bisa saja kamu menjadi bucin tidak realistis yang menderita terus menerus.

Percayalah, statement itu hanya candu yang akan sebentar menyembuhkan kekecewaan. Bualan itu nggak menyembuhkan luka atau memperbaiki hubungan, khususnya bagi kalian yang sudah atau mungkin akan menjalani agenda pernikahan, termasuk kalian yang mungkin akan hidup bersama (co-habit).

Pernikahan itu berbeda dengan relasi lainnya. Komitmen kalian disaksikan negara dan Tuhan (itu pun kalo situ percaya), ketidakadilan di antara kalian tidak hanya dipertanggungjawabkan pada satu sama lain. Relasi kalian kini tidak terbatas pada ruang privat, ada turut campur negara di dalamnya. Mempertahankan statement “nothing to lose”, hanya akan menciptakan ketidakadilan.

Tapi ini kan masalah cinta? Enggak cuma itu, Juleha! Pernikahan bukan semata masalah cinta. Pernikahan adalah masalah kehidupan. Kamu bisa bertahan mencintai siapapun, tapi kamu hanya bisa bertahan menikah dengan orang yang benar-benar mampu hidup bersama denganmu.

Lagi pula, masalah hidup tidak cukup berlandaskan cinta! Dalam bertahan hidup, kita butuh akal, kita butuh kebijaksanaan, kita butuh banyak pertimbangan. Kita harus menghitung dan menganalisis segala kebutuhan dan upaya apa yang harus kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan kita.

Beberapa orang menikah karena mereka berkeyakinan bahwa mereka nggak sanggup hidup sendirian, bekerja sendirian di siang hari, lalu mengurus rumah dan segala pernak perniknya di sisa waktu. Belum lagi keinginan berkembang biak sebagai naluri dasar untuk bertahan hidup. Kita memang butuh pasangan untuk membantu kita.

Buang jauh-jauh nasihat usang misoginis nan patriarkis seperti, “Nikah itu kudu sabar, kuat tabah, jadi istri harus kuat dipukulin, diselingkuhin setia di samping suami”

Setia memang sangat perlu, namun tentu kita harus menghitung, jika kita tidak ingin pernikahan menjadi beban tambahan di hidup kita. Menghitung biaya rumah, biaya asuransi kesehatan, biaya makan dan kebutuhan sehari-hari, ditambah jika kelak kalian berniat memiliki anak.

Lalu ada lagi urusan kesamaan sudut pandang—seriusan ini hal fundamental banget. Bagaimana kita bisa bertahan dalam relasi pernikahan, jika kita tidak memastikan dulu isi pikiran pasangan sejalan dengan visi misi kehidupan kita?

Menikah dengan alasan cinta pada orang yang selalu berdebat denganmu dalam urusan agama atau pilihan politik misalnya, jelas nggak akan menjamin kebahagiaanmu.

Bangun dari mimpi-mimpi kisah puteri cantik dan pangeran tampan yang hidup serba berkecukupan seperti yang sering ditonton saat masa kecil dulu! Nggak ada yang namanya “Dan mereka pun menikah lalu hidup bahagia selamanya”.

Pernikahan tidak sesederhana meme-meme Indonesia Tanpa Pacaran.

Berhentilah menonton film menjengkelkan perihal kisah-kisah percintaan yang menawarkan candu semata. Jangan juga cepat percaya artikel psikologi populer yang berusaha menguatkan bahwa relasi tidak boleh hitung-hitungan dan harus menerima apa adanya.

Sudah cukup banyak kekerasan, relasi kuasa, hingga angka perceraian yang terjadi hanya karena menyandarkan relasi pada ketulusan dan kasih sayang semata. Kasih sayang, ketulusan, dan cinta itu bersifat sangat emosional dan abstrak. Masalahnya, kita hidup di alam material yang kata Marx, “Cinta dan kasih sayang saja nggak bisa bikin perut kaum proletar kenyang.”

Emosi sendiri merupakan salah satu fungsi psikis manusia. Ia dibentuk oleh ingatan dan persepsi. Jika tak ada hal-hal baik yang dapat memberikan persepsi dan ingatan yang menguatkan hubungan, maka emosi-emosi seperti ketulusan dan kasih sayang akan mustahil muncul.

Jika yang hadir dalam relasi kalian hanyalah pertengkaran urusan finansial, kekesalan yang terpendam karena pasangan memikirkan dirinya sendiri, atau bahkan perdebatan panas soal pilihan politik, maka bukan salah otak kalian jika tak ada emosi kelekatan dan kasih sayang yang hadir.

Bisa jadi emosi perihal kasih sayang dan cinta tersebut bukan hadir dari persepsi, namun dari ingatan-ingatan masa lalu ketika pasangan merayu kalian.

Atau, bisa jadi cinta yang ada hanyalah imajinasi yang kalian buat-buat sendiri, sebagai bentuk mekanisme pertahanan dari rasa sakit.

Sayangi dirimu sendiri dulu. Mulailah dengan menghitung dan menganalisis dirimu dan kebutuhanmu sendiri. Jangan membuka diri untuk orang baru jika kamu tidak memastikan segalanya akan lebih baik bersamanya.

Menikah nggak hitung-hitungan, lalu maumu apa? Ekspetasi apa yang hadir jika kamu nggak menghitung bagaimana cara mewujudkannya bersama pasangan? Inget, kamu hidup di alam material yang semuanya mesti terukur dan logis.

Jangan jadi pecinta tak realistis dan berakhir jadi curhater di Cermin Dramatis. Karena itulah, menikah memang harus hitung hitungan.