Beberapa hari ini, untuk menebalkan nyali menyuarakan haknya, banyak orang di negeri ini seperti merasa perlu untuk mengutip sepak terjang Greta Ernman Thurnberg. Perempuan belia berkebangsaan Swedia yang pada 2018 silam berani memutuskan mogok sekolah sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang dianggap tidak kunjung menjalankan agenda pengurangan dampak perubahan iklim sesuai kesepakatan Paris.

Tidak berhenti pada mogok sekolah saja, Greta bahkan memaksa orang tuanya untuk secara drastis mengubah gaya hidup agar sejalan dengan upaya mengurangi dampak perubahan iklim. Luar biasanya, kedua orang tuanya cepat berpikir dan memutuskan. Mereka secara sadar membenarkan, memenuhi, dan mendukung perjuangannya.

Puncaknya, agar lebih didengar, dia secara sadar memilih untuk melawan dengan cara berdemonstrasi setiap pekan di depan gedung Parlemen Swedia. Duduk seorang diri hanya berteman poster dengan tulisan skolstrejk för klimatet, mogok sekolah demi iklim! Apa sekolahnya mendukung? Apa “simboknya” yang membiayai segala kebutuhannya menyuruh Greta berhenti?

Orang tuanya jelas tidak tega dan mencegahnya. Mereka memahami, sekaligus menguatirkan keterbatasan Greta sebagai anak autis yang juga didiagnosis obsesif kompulsif. Teman sekolahnya menolak bergabung, apalagi anggota parlemen, jelas membiarkannya. Kita paham betul tabiat sebagian besar dari mereka.

Tapi dunia melihatnya lain, dunia tidak diam. Anak-anak ‘bau kencur’ dari berbagai negara yang mulai berjejaring dan menyuarakan perlawanan. Bukan makhluk-makhluk dewasa yang sarat ilmu. Keberaniannya dalam menyuarakan perlawanan terbawa angin, tersemai dengan baik, berkecambah, dan kemudian seperti membesar begitu saja!

Dia menjadi role model puluhan ribu remaja sedunia dalam menyuarakan agenda perubahan iklim melalui aksi mogok. Suaranya mulai didengarkan para pemimpin dunia. Forum multilateral dengan skala global seperti KTT Aksi Iklim yang mempertemukan aktivis lingkungan dari penjuru dunia menunggu kehadirannya, dan fatwanya. Pemimpin dunia menyediakan waktu, juga kupingnya untuk ditusuk-tusuk dengan kalimatnya yang tajam, tanpa tedeng aling-aling, dan penuh luapan emosi!

Bagaimana di Indonesia?

Saat gerakan rakyat menyuarakan isu RUUKPK, RKUHP, RUU Pertanahan, Minerba hingga kasus pembakaran hutan mulai mengemuka, justru dibelokkan sebagai upaya sistematis untuk menggulingkan pemerintah! Banyak kaum terpelajar malah punya keinginan kuat untuk menghambat aksi terus melaju. Sebut saja mereka dengan istilah Generasi K atau Karatan, kumpulan orang yang secara sengaja hendak mereduksi protes dari generasi milenial. Peserta aksi mereka tuduh sebagai kaum yang kurang membaca, tidak paham aksi mereka dimanfaatkan, sudah pasti ditunggangi petualang politik, dan mempunyai arah yang tidak jelas.

Ada juga yang dengan sarkasme luar biasa keji berusaha memahami apa yang membuat #GejayanMemanggil memang pantas dibanjiri peserta aksi. “Oh, memang sudah betul sih mereka melakukan aksi. Negeri ini memang tengah dalam kondisi gawat dan nyaris runtuh. Kelaparan merajalela, terjadi PHK masal, inflasi meroket, mata uang anjlok, kerusuhan, penculikan dan pembunuhan meledak tidak terkendali. Kita harus menyelamatkan negeri ini!”

Adakah yang menyuarakan tuntutan itu?

Tidak ada! Tidak ada elemen masyarakat yang menyoal ekonomi makro mulai dari isu kelaparan hingga inflasi. Gejayan menjadi tempat dimana semua peserta aksi menjadi tuan rumah. Tidak ada nama menonjol di sana, mereka tau betul bagaimana aliansi rakyat kerap hanya berakhir sebagai label karena dibajak para bandit politik.

Mereka menyediakan sendiri menu aksi yang beragam secara prasmanan. Anda yang punya perhatian isu keadilan gender bisa menyerukan segera disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang sudah lama terkatung-katung. Jika Anda punya kepedulian menolak pelemahan KPK, ada juga massa yang menolak Revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi. Demikian juga yang menyuarakan soal RUU Pertanahan dan RUU Mineral dan Batubara, bebas menyuarakan keberatannya terhadap pemerintah dan DPR.

Apakah semua peserta aksi harus paham lembar demi lembar draft yang mereka tolak? Kesombongan atas nama intelektualitas yang nir perasaan itu terus didengungkan untuk “memukul mundur” mahasiswa agar tetap duduk diam di ruang kuliah saja sebelum lembar demi lembar draft RUU mereka baca. Sekilas bijak, tapi menyesatkan! Apakah pemerintah bersama DPR juga sudah memahami lembar demi lembar draft RUU yang mengganggu akal sehat tersebut?

Satu pasal atau bahkan satu ayat saja dirasakan merendahkan nalar manusia yang beradab, siapa saja berhak menyuarakan dan melawannya. Itu esensi demokrasi. Satu saja pasal bermasalah, tidak serta merta membuat ratusan pasal lain yang bermanfaat dapat digunakan untuk menutupi kesalahan yang terjadi.

Greta tau benar isu kesejahteraan bukan hal yang penting untuk dibicarakan. Angka-angka indikator kemajuan pembangunan ekonomi, di matanya tidak berharga sama sekali jika sampai harus mendegradasi kualitas lingkungan. Dia tau benar bagaimana manusia telah merusak planet yang ditempatinya, dia pun menantang dirinya sendiri bagaimana cara hidup yang tidak merusak hampir di semua aspek kehidupannya.

Untuk datang dan berbicara di KTT Aksi Iklim PBB di New York, Greta terlebih dahulu berlayar menyeberangi Samudera Atlantik dengan kapal Malizia II.  Apa yang ada di dalam benaknya? Harus menggunakan moda transportasi yang tidak saja rendah emisi karbonnya, tapi dia pastikan sendiri memang tidak ada emisinya. Dia tentu tidak sendiri lagi, ada orang-orang dewasa yang berpihak dan menyokong perjuangannya.

Di Jogja kemarin, orang-orang tua yang berbicara atas nama otoritas kampus justru tergoda membuat seruan untuk menjegal aksi yang dilakukan anak didiknya. Mereka seturut sepemikiran dengan generasi karatan yang mengatakan Gejayan akan menjadi ajang balas dendam politik atas kekalahan di pemilihan presiden, menjadi tempat barisan sakit berusaha menjungkalkan presiden terpilih, dan sama sekali bukan aksi yang didorong keberpihakan pada rakyat banyak.

Mana ada sejarah pergerakan di Indonesia yang didului ijin resmi dan restu dari otoritas kampus? Mana ada asosiasi mantan demonstran yang sejak awal memberikan dukungan penuh saat mahasiswa tengah menjemput takdirnya sebagai agen perubahan? Mana ada paguyuban orang tua yang iklas sejak awal memekikkan mantra sakti “panjang umur perlawanan” seraya tangannya terkepal?

Tidak ada! Nanti saat keberhasilan sudah di depan mata, baru mereka mengaku bangga dan berbaris menyatakan dari dulu mendukung perubahan. Kalau perjuangannya gagal, terjadi chaos, dan penumpang gelapnya tertangkap mata berkeliaran menyaru mewakili rakyat, mereka pun akan berebut tampil pertama menyatakan: dari awal sudah kami peringatkan tetapi mereka lebih suka ditunggangi!

Satu hal, penumpang gelap adalah keniscayaan. Setelah kesuksesan aksi di banyak kota kemarin, pasti akan banyak penumpang gelap yang masuk gerbong. Itu risiko yang tidak bisa ditawar dan dihindari. Tetapi apakah diam menjadi pilihan yang jauh lebih baik?

Greta sudah mengalami dan melewatinya. Di masa awal dia bergerak, pasti banyak orang mencibirnya. Seandainya mereka tau anak tersebut autis, pasti mereka akan menyalahkan orang tuanya yang membiarkan dia sendirian tak tentu tujuan. Pasti juga banyak orang tua yang menyayangkan mengapa dia tidak tinggal di kelas saja, demi masa depan yang lebih baik.

Pada 23 September 2019, sejarah telah mencatat ada 3 pihak yang berbicara di waktu yang hampir bersamaan. Pertama, mahasiswa di Indonesia mendobrak kedunguan dan kebuntuan yang terjadi di DPR dan pemerintahan dengan beragam tuntutan perbaikan produk legislasi. Kedua,  seorang Kepala Staf Presiden yang menyatakan bahwa alasan revisi UU KPK karena badan tersebut dapat menghambat investasi. Ketiga, Greta yang marah karena dunia terlalu menggantungkan dia dapat mengubah wajah dunia tanpa mereka berusaha sendiri.

“Ini jelas salah. Saya tidak seharusnya di sini. Saya seharusnya kembali ke sekolah di seberang lautan sana. Berani sekali Anda sekalian berharap pada kami yang muda ini? Seluruh ekosistem kolaps. Kita berada di awal kepunahan massal, dan semua yang bisa Anda bicarakan hanyalah uang dan pertumbuhan ekonomi yang abadi.”

Ada benang merahnya saat anak muda seperti Greta dan mahasiswa berbicara. Mereka lebih jeli dalam melihat kerusakan dibandingkan orang yang memahami ilmu tapi tak sanggup melihat secara jernih. Pasti ada yang bertanya mengapa DPR lebih digedor dibanding Presiden dalam aksi kemarin. Bukankah Presiden sebagai lembaga punya andil keliru dalam hiruk pikuk ini semua?

Karena DPR adalah perwujudan dari rakyat. Sebagai lembaga, presiden sangat mungkin salah saat membuat kebijakan. Tetapi bisa diluruskan selama DPR kita mau mendengar aspirasi rakyat, menyerapnya, dan menuangkannya ke dalam produk hukum yang sesuai dengan harapan rakyat banyak.

Oligarki bisa juga mengaku rakyat, tetapi mereka menelikung kita melalui program-program pembangunan yang sepintas pro terhadap kemajuan tetapi justru mendekatkan pada kerusakan lingkungan dan mengganggu pembangunan manusia.

Terakhir, jangan pernah merasa pintar dan lebih tau dibandingkan anak-anak kalau Anda masih gemar berbicara teori konspirasi. Tuhan kerap “mewujud” ke anak-anak muda seperti Greta dan Malala Yousafzai. Malala bahkan hampir terbunuh oleh peluru Taliban saat menuntut hak pendidikan, juga di saat belia. Dia tidak tumbang dan tetap berdiri tegak melawan penindasan Taliban asli, bukan Taliban kaleng-kaleng yang kalian sangka bersemayam di tubuh KPK.

Tidakkah Anda semua merasa terpanggil jika Tuhan sudah berfirman melalui anak-anak muda, wahai generasi karatan?