2015 yang lalu, Presiden Joko Widodo menandatangani KEPPRES yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, hal ini juga untuk menepati janji kampanyenya di 2014 untuk menetapkan satu hari di Indonesia sebagai perayaan khusus para santri, walaupun dulu yang diusulkan adalah tanggal 1 Muharram.

Tanggal 22 Oktober sendiri dipilih karena juga bertepatan dengan Resolusi Jihad yang diserukan Kiai Hasyim Asy’ari pada 1945 untuk merespon NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yang kala itu ingin mencoba menjajah Indonesia kembali.

Isi Resolusi Jihad itu menegaskan hukum membela tanah air itu wajib (fardu ain) untuk setiap umat muslim di Indonesia. Setelahnya, kalangan santri dari berbagai daerah berbondong-bondong ke Surabaya untuk membantu perang melawan penjajah yang pecah di tanggal 10 November.

Bagi masyarakat awam, saya yakin bayangan santri itu adalah orang yang alim, rajin mengaji, rajin salat, serta anti terhadap segala jenis maksiat termasuk LGBT. Tapi nyatanya, pengalaman saya menempuh jalan suci pesantren selama 6 tahun di dua pondokan mendapat jawaban sebaliknya.

Jika masih ingat, di salah satu episode Indonesia Lawyer Club (ILC) yang tayang pada 19/12/2017, Dede Oetomo, pendiri organisasi GAYa Nusantara mengatakan, “Banyak juga homoseksual yang tidak melakukan seks anal, misalnya di pesantren”.

Kalimat itu memancing banyak kecaman dari kalangan santri dan ustadz. Dede dianggap menghina institusi pesantren sebagai tempat pendidikan berbasis Islam yang jelas-jelas mengajarkan bahwa perilaku LGBT adalah haram.

Saya punya pendapat yang berbeda. Saya membenarkan pernyataan Dede Oetomo, karena saya sendiri adalah penyintas kekerasan seksual di institusi pesantren dan saya melihat sendiri bagaimana homoseksualitas ada di sana.

Hampir semua teman-teman saya hari ini mengunggah kenangan dan bernostalgia masa-masa menjadi santri di story Instagram, FB, WA, dan platform media sosial lainnya.

Bagi saya, itu justru membangkitkan ingatan kolektif tentang pelecehan seksual yang saya alami.

Menuliskan artikel ini pun rasanya sangat berat. Kepala saya pusing, kaki saya berkeringat, dan seperti ada yang menekan dada saya. Saya bingung harus mulai dari mana.

Pelecehan seksual yang saya alami terjadi di tahun 2010 silam dan dilakukan oleh ustadz (pengajar) saya sendiri. Waktu itu, saya memang cukup dekat dengan dia karena saya menjadi pengurus asrama santri baru. Ditambah, dia juga terhitung masih tetangga saya, karena jarak rumah kami berdekatan.

Suatu malam, entah kenapa, dia datang untuk menginap di kamar saya. Saya tidak menaruh curiga, wong dia ustadz saya. Sampai kemudian saat semua orang sudah terlelap, barulah dia melakukan aksinya.

Saya cuma bisa terdiam pasrah, tak bisa bergerak. Saya ingin melawan, tapi tak bisa. Freeze!

Beberapa bulan kemudian, akhirnya kasus tersebut terungkap, dan rupanya bukan saya saja yang menjadi korban. Ada banyak santri lain yang menjadi korban, sekitar 20-an anak.

Hal yang paling saya sayangkan adalah kasus ini tidak diselesaikan secara hukum. Si pelaku hanya dikeluarkan dari pesantren.

Saya sempat bertemu lagi dengannya Lebaran kemarin. Tidak sengaja berpapasan sepulang dari masjid.

Yang saya lakukan kepadanya hanyalah: Mengacungkan jari tengah, kemudian lari terbirit-birit ke rumah. Saya lega, tapi juga marah.

Pengalaman di atas hanya satu dari banyaknya cerita kekerasan seksual di pesantren yang saya temui. Tidak bisa saya ceritakan semuanya karena membuka diri masih benar-benar berat dan membutuhkan tenaga.

Mungkin ada di antara kalian yang tidak terima dan mengatakan kalau “Ah, itu mah di pondokmu doang, kamu nggak bisa menggeneralisir pengalaman kamu”.

Ya, benar. Tapi kekerasan seksual yang saya alami bukan di satu pondok pesantren itu saja, karena saya sempat menempuh SMP dan SMA di dua pesantren yang berbeda.

Saya juga sempat menanyakan ini kepada teman-teman saya di pesantren lain, dan jawabannya sama. Kekerasan seksual bukan hanya terjadi di tempat umum saja, tetapi di institusi pendidikan Islam yang umatnya justru paling banyak mengecam hal ini.

Pelecehan seksual di pesantren tidak hanya bisa dilakukan oleh ustadz kepada santri, tapi juga oleh sesama santri, utamanya santri senior kepada junior. Sasarannya yang paling umum adalah adik kelas dengan kulit putih yang dianggap imut.

Bentuk pelecehan seksualnya pun bermacam macam. Paling sederhana adalah catcalling. Ada juga yang nyempet alias petting, yakni menempelkan atau menggesek-gesekkan alat kelamin ke paha adik kelas pada jam istirahat malam.

Di pesantren, perilaku yang menjurus kepada homoseksual membudaya turun-temurun. Teman-teman yang pernah nyantri pasti tidak asing dengan praktik ‘adik-adikan’ di pesantren.

Kakak kelas mendekati adik kelas. Jika si adik kelas juga suka, maka mereka berdua laiknya pacaran: Jalan bareng ke kantin, makan bareng di pantry, atau bahkan ada teman saya yang sampai kelon (tidur bersama sambil berpelukan).

Setelah si kakak kelas lulus, si adik kelas yang sudah menjadi senior mengestafet hal tersebut ke adik kelasnya yang baru.

Kalau masih tidak percaya, silakan googling sendiri. Ada banyak jurnal maupun penelitian tentang praktik homoseksual dan kekerasan seksual di lingkungan pesantren.

Tulisan ini saya tulis bukan untuk menjelek-jelekkan pesantren, saya hanya ingin teman-teman tahu bahwa kekerasan seksual itu NYATA ada di sekitar kita, bahkan di institusi seperti pesantren sekalipun.

Hal ini melekat, saya tetaplah santri dan saya bangga. Yang harus kita lakukan adalah berani untuk bicara, bukan berdiam dan berdalih agar nama baik pesantren tetap terjaga. Sekian dan selamat Hari Santri Nasional.