Sebelum baca artikel ini, coba deh liat album foto zaman dulu. Bandingkan sama fotomu di masa sekarang. Apakah ada perubahan, atau masih tetap saja?

Nah, mungkin, perubahan yang paling kentara dan sering dipermasalahin orang adalah tubuh kita tambah gendutan, dan itu paling bisa dilihat dari tembemnya pipimu. Hihihi…

Tapi, perubahan adalah hal yang pasti. Seiring bertambahnya usia, manusia bakal mengalami perubahan, baik secara raga maupun jiwa. Yang paling kentara adalah timbunan lemak makin susah diatur. Padahal sih mangan sedikit, tapi wes nggarai perut mbleber ke mana-mana.

Sialnya, hal ini sering dikomentari karo temen atau sanak saudaramu, mbuh karena peduli atau basa-basi nggak penting. Udah tau kalau ada yang berubah, eh malah bikin pertanyaan retoris. Saya yang juga merasakan hal serupa, ingin sedikit membela para kaum pipi tembem.

Itu tadi cuma satu hal doang. Ada banyak lagi nggak enaknya punya pipi tembem. Berikut daftarnya sudah saya susun!

Kena Body Shaming

Seperti yang sudah disinggung sejak awal, orang-orang demen banget komen kalau bentuk tubuh orang lain berubah. “Kamu kok agak gendutan, pipimu tembem koyok jemblem?”

Kata-kata itu bukannya membuat suasana bertambah baik, tapi bikin koncomu tambah stres pengen kuru!

Ayolah! Hentikan kebiasaan melakukan body shaming! Apapun niatmu harusnya disertai solusi, ojok komen ae tapi nggarai wong loro ati. FYI aja nih, perilakumu itu bisa membawa pada ancaman kurungan penjara sembilan bulan, lho! Sopo ngerti temenmu dendam sama kamu dan nggak atek ba-bi-bu ngelaporno nang polisi. Lak dadi dowo urusane!

Males Foto

Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau hasil jepretan foto membuatmu lebih gemuk dari aslinya?

Kamera punya lensa yang sama seperti satu mata, sehingga daya tangkapnya menjadikan objek memenuhi lensa dan jadi lebih besar dari ukuran asli. Semakin panjang lensa yang dipakai, maka wajah yang difoto jadi tampak semakin lebar.

Lah, orang-orang sing asline wes lemu dan punya pipi tembem terus insecure, bisa jadi malah frustasi melihat fotonya yang kelihatan lebih gemuk. Opo maneh nek cocote konco koyok dalan durung diaspal: gronjalan.

Wes to, belajarlah self-love, mencintai diri sendiri. Nggak usah ngreken omongane uwong. Nek tepak wefie ambek konco-konco terus dicacati tembam-tembem, jarno ae. Niate foto-foto iku lak mengabadikan kebersamaan talah.

Muka Terasa Lebih Berat

Pasti kamu ngerasain ini. Dulu pas bangun tidur, muka enteng-enteng ae, tapi saiki kok rasane ada yang mengendur turun ke bawah, apalagi kalau posisi tidur suka miring. Pipi seperti kena hukum gravitasi dan membuat pemiliknya lebih capek untuk mengunyah atau ngobrol lebih banyak pas nongkrong sama temen.

Tapi, hal itu nggak berpengaruh sama berat badanmu yang masih ukuran ideal, nggak gembrot kayak gentong. Yowes lah cuek ae, tembem juga bisa melambangkan kamu bahagia atau kemakmuran, ketimbang awakmu kuru banget diarani koyok wong lagi sakit. Hiks!

Nggak Bisa Ngancingin Kerah

Biasanya pipi tembem bakal diikuti dengan lemak yang turun ke leher. Coba ae kamu kancingin kerah baju kemeja, isok nggak? Kalau gagal, berarti apa yang pernah saya alami menimpa kon pisan. Nggateli kan, padahal kalau masuk kerja apalagi ke kantor, kamu harus pake dasi dan biasanya kerahnya dikancingkan.

Lah, gara-gara pipi tembem dan lemaknya turun ke leher, kamu nggak isok ngancingin kerah. Siap-siap ae dimarahi bos!

Kesimpulannya, emang sih nggak onok sing pengen punya pipi tembem. Tapi jangan salah, kata orang, pipi chubby isok nggarai awet enom. Jadi nggak usah ngereken cangkeme wong lah! Apa adanya dan jadi diri sendiri lebih asoy, asal kamu bahagiaaa…