DNK

Beragam Jenis Manusia yang Bisa Dijumpai di Warung Kopi Pinggir Embong

Beragam Jenis Manusia yang Bisa Dijumpai di Warung Kopi Pinggir Embong

Ngopi adalah budaya yang mungkin ada sejak biji kopi pertama dijadikan minuman. Tampaknya, ngopi sudah jadi rutinitas harian. Bahkan ada orang yang mengaku pusing kalau belum minum kopi. Lelah letih lesu lunglai ngantuk.

Inilah yang memicu menjamurnya warung kopi. Terutama di Surabaya dan Gresik yang kental dengan kultur cangkruk.

Warkop bisa ditemukan di berbagai sudut di seantero kota. Tipikalnya selalu sama: sedia kopi hitam —meskipun disambi jual Marimas dan minuman energi.

Seiring perkembangan teknologi dan pola society, warkop pun berevolusi. Tidak bisa ditolak, warkop yang dulu hanya berfungsi untuk cangkrukan, ngopi disambi ngudud, sekarang memunculkan jenis manusia baru.

Berikut jenis manusia budak warkop yang sering kita temui di berbagai warung kopi, khususnya yang strategis di pinggir embong.

 1. Pemburu Wifi

Tipe pengunjung macam begini biasanya hanya pesan kopi telungewuan sak cangkir, tapi wifi-an sampek dobol.

Triknya, hamba ini biasanya menyeruput kopi dikit-dikit. Mereka sebenarnya nggak suka kopi banget, hanya butuh wifi untuk download semata.

Tanpa tahu diri, biasanya yang macam begini suka main serobot bandwidth. Kadang bawa perangkat supercanggih sampai Netcut segala. Iki duduk warnet, bro. Ndilalah kadang sampai tujuh-delapan jam hanya pesan satu cangkir kopi item.

Biasanya, mereka ini memang malas keluar uang buat bioskop. Mending download yang CAM aja di warung kopi..

2. Rajin Nugas

Entah kenapa mereka milih ngerjain tugas kuliah di warkop. Padahal di perpustakaan yo enak. Kadang saking hebringnya, satu warkop pada panik sekaligus nggak bisa berkata-kata saat mereka tiba-tiba datang, duduk melingkar, dan kerja kelompok.

Rame, cuy.

Ya nggak apa-apa sih, monggo aja nugas. Tapi ya jangan ganggu yang lain. Masak bawa laptop semua, rebutan colokan semua, terus request biar lagunya Nella Kharisma di warkop dimatiin aja karena lagi belajar.

Kita kan jadi nggak berkutik kalau mau rame. Ayolah rek, ojok gini amat. Huhu..

3. Penggila Bola

Biasanya hanya dolan ke warkop kalau tim favoritnya main. Pencinta keramaian sejati, karena nonton di rumah biasanya sepi. Nggak ada musuh buat maido.

Tipe ini biasanya akan bertahan dan bekerja sama dengan penjaga warkop. Caranya, pesan lebih dari satu cangkir.

Bisa saja nanti ada pasokan Indomie, tahu goreng, atau Surya eceran saat laga berlangsung. Pokoknya, tanpa sadar segala sesuatunya harus masuk ke mulut. Entah itu gacoannya nge-golin atau nggak, intinya adrenalin harus terjaga.

Makanya, biasanya pemilik warkop bahagia get pas ada El Clasico atau Derby Manchester.

4. Gamers

Mereka ini nih yang biasanya ngeramein warkop dengan teriakan ‘kebun binatang.’ Sing asu lah, jaran, babi, tapir. Plis poo, rek. Awakmu lo chicken dinner-an, lapo kok moro-moro mbengok tapir.

Bermodal charger, wifi banter, dan headset, para gamer bisa betah di warkop. Mereka nggak buru-buru ngabisin kopi. Lebih fokus ke handphone yang miring sambil berteriak kalau sinyal ilang atau kalah dalam misi.

Maka dari itu, sekarang bermunculan warkop spesialis gamer. Menyediakan wifi dan wahana buat arek-arek njerat-njerit. Kopi sachet tidak mengapa, asal kami bisa war!

5. Pure People

Dengan penuh respek saya masukkan mereka ke daftar pemungkas. Mereka ini adalah sebenar-benarnya pencinta kopi dan obrolan hangat. Seperti Ben dan Jody dalam Filosofi Kopi. Suka kopi, tahu jenisnya, dan bagaimana penyajiannya.

Tanpa orang-orang ini, warkop kehilangan daya romantisnya. Tiada lagi puisi berbahan dasar kopi pahit dan kerinduan. Tiada lagi prosa yang pekat dengan biji kopi pilihan, yang harum aromanya menguar mesra, menelusup dalam kenang.

Halah opo seh!