Fenomena hijrah akhir-akhir ini bisa dikatakan menyamai gelombang tak terbendung, menularkan pandangan baru agar manusia bisa menjalani hidup lebih baik dan benar. Hijrah dianggap hampir sama seperti gaya hidup dan imbasnya, banyak orang seperti ikut-ikutan menjalankannya, baik yang benar-benar paham atau sekadar latah dan ingin tahu.

Hal tersebut tentu memunculkan beberapa macam komentar, seperti:

 “Ssst dia sedang hijrah, mangkane koyok ngunu.”

“Kamu nggak pengen hijrah ta? Ben uripmu tenang.”

Kita tidak bisa memungkiri bahwa perkembangan zaman telah memunculkan cara baru dalam menyampaikan ajaran agama. Ajakan-ajakan ini bisa datang dari mana saja. Bisa lewat broadcast WhatsApp, sampai video pengajian ustad di YouTube. Informasi seputar hijrah beriringan dengan berita artis anu yang sedang belajar agama di guru A, dan lain sebagainya.

Lantas, apa sih sebenernya esensi hijrah?

Buku terbaru Kalis Mardiasih, penulis yang gemar menyorot fenomena Islam yang berjudul Hijrah Jangan Jauh-jauh, Nanti Nyasar! tampaknya bisa jadi referensi buatmu yang ingin lebih dalam mengerti soal hijrah.

Namun, Kalis tentu lebih menekankan pada makna hijrah dalam beragama sehari-sehari, dimana Islam sungguh menyenangkan jauh dari kata menyeramkan.

Kalis memang sudah lama dikenal sebagai penulis muslimah yang getol menyuarakan perihal Islam dan perempuan. Ia banyak diundang sebagai pembicara untuk membicarakan seputar menulis, Islam, dan dunia perempuan.

Membaca kumpulan esai di buku ini seperti menjelajahi sebuah memoar yang merekam pengalaman penulis, baik yang telah lampau atau di masa sekarang. Tiap bagiannya terasa mewakili keluh-kesah sebagian orang yang takut menyampaikan pendapat, apalagi suasana panas akibat Pilpres membuat banyak manusia tersinggung.

Pengalaman Kalis secara tidak langsung relate dengan kondisi yang akhir-akhir ini terjadi di tanah air. Terbagi dalam lima bab, esai-esai dalam buku ini punya jalinan tema di setiap tulisannya. Berikut tema-tema dalam bab yang difokuskan Kalis.

Islam dan Kebaikan Anak-Anak

Dalam bab ini, Islam digambarkan sebagai pembawa kegembiraan yang lekat dengan dunia anak. Ceria, jauh dari pikiran-pikiran ruwet bin njelimet. Polos, sederhana, dan hanya memikirkan kebaikan.

Anak-anak jauh dari kemarahan dan beragama harusnya pun begitu. Namun mirisnya, akhir-akhir ini kian banyak orang yang mudah tersulut hanya karena perbedaan keyakinan dan pilihan politik. Agama yang sepatutnya membawa kedamaian, malah melahirkan kebencian dan rasa tidak nyaman. Ada sekat antara yang satu dengan yang lain. Beragama telah menjadi eksklusif.

Bagian ini juga mengisahkan bagaimana cerita penulis yang memiliki masa kecil menyenangkan dan punya teman mengaji yang baik. Beragama terasa menyenangkan dan candaan “jenggot naga” seperti ketika melihat seseorang kakek tua yang memiliki jenggot panjang, tentu bukan hal yang perlu dianggap sensitif.

Bukan bermaksud menghina atau mengejek apa yang dilakukan orang lain, murni keluguan anak kecil. Layanya beragama, begitu saja harusnya tidak ada yang tersinggung to?

Islam dan Kemanusiaan

Bagian kedua menyoroti soal kemanusiaan. Bagaimana manusia beragama tanpa melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Umat muslim semestinya tidak hanya peduli soal sesamanya, tapi orang lain di luar keyakinannya. Manusia sejatnya tidak bisa lepas dari hubungan masyarakat yang punya multikultur dan ragam jenis.

Beragama juga wajib mengedepankan sisi kemanusiaan, tak hanya sekadar menyampaikan kebenaran namun ujung-ujungnya memaksa dan merasa paling pantas mendapat surga. Hal ini bisa ditemukan dengan munculnya kaum jihadis yang membela agama secara ekstrem dan membuat umat beragama lain takut.

Peristiwa seperti pembantaian muslim di Rohingnya, sempat membuat orang-orang memandang umat Budha adalah pembunuh. Padahal tidak demikian. Sama halnya dengan Islam yang dicap sebagai teroris oleh umat agama lain karena dipicu ISIS yang melakukan tindakan kekerasan dan radikal.

ISIS, menurut pandangan Kalis, tidak menggambarkan islam secara keseluruhan. Masih banyak umat Islam lain yang toleran dan menyebarkan kebaikan lewat jalan yang lebih halus.

Islam dan Akal Sehat

Untuk menggambarkan bab ini, izinkan saya mengutip kata-kata bijak dari fisikawan legendaris Albert Enstein: “Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu lumpuh.”

Senada dengan itu, beragama memang tak bisa dilepaskan dari proses berpikir dan akal sehat yang bekerja. Jika tidak, maka seseorang dapat menelan mentah-mentah doktrin orang lain soal agama tanpa pernah berusaha menanyakan kebenarannya.

Sederhananya seperti kasus soal bagaimana seorang penceramah yang berujar bahwa suatu wilayah terkena bencana alam akibat ulah masyarakatnya yang gemar melakukan maksiat.

Pernyataan ini tidak memikirkan faktor lain yang lebih logis. Pakar keilmuan di bidangnya tidak dianggap punya dasar pendapat dan kompeten untuk dipercaya. Sehingga hanya agama yang dijadikan tolak ukur akibat suatu kejadian. Padahal Al-Quran telah menjelaskan begitu banyak informasi yang bermanfaat bagi manusia, termasuk keilmuan.

Kebiasaan tidak menggunakan akal sehat ini melahirkan orang-orang malas berpikir, maunya instan, dan langsung menerima suatu fatwa tanpa ada penjelasan masuk akal.

Islam dan Contoh yang Baik

Setelah nabi, tiada lagi yang bisa dijadikan contoh berperilaku dalam beragama selain para alim ulama dan pewaris nabi. Hal ini tercermin dalam bab yang menggambarkan bagaimana seseorang harus mencari panutan dalam beragama, terutama pemuka agama yang lebih mengutamakan jalan damai dan menghindari kekerasan.

Termasuk dalam mencari pemimpin, yang tentunya harus bisa menyatukan perbedaan dan mendamaikan pihak yang tengah berkonflik. Kisah tentang meledaknya GAM yang berhasil diredam oleh Gus Dur tentu hal yang sangat menentramkan. Beliau jadi salah satu pemimpin dari kalangan kiai yang menjunjung kasih sayang dan mementingkan kerukunan umat beragama.

Sosok seperti beliau yang kini dibutuhkan, di tengah banyaknya pendakwah yang melontarkan ujaran kebencian dan permusuhan terhadap agama lain, pula merasa paling benar.

Islam dan Modernitas

Bab terakhir di buku ini membahas soal Islam yang mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Menyampaikan dakwah semakin dimudahkan dengan kecanggihan aplikasi. Orang tidak perlu pergi ke pengajian, bisa lewat YouTube.

Namun hal tersebut dibarengi adanya masalah baru yang lebih kusut untuk diurai. Isitilah santri online pun kian banyak ditemui dan disematkan orang yang baru belajar sebentar via internet soal Islam, lalu langsung menghakimi orang lain sebagai kafir.

Mereka langsung meyakini kebenaran pendakwah dari video singkat yang usai ditonton, jauh dari tradisi lampau dimana seseorang harus belajar agama, jadi santri dan mondok bertahun-tahun lantas mengkhatamkan berbagai macam kitab.

Sifatnya yang instan memudahkan banyak orang untuk jadi mendadak paling benar dan menyalahkan orang lain.

Masalah serupa juga hadir ketika banyaknya pesan broadcast instan lewat WhatsApp yang isinya himbauan untuk menjauhi sesuatu karena berpotensi haram atau tidak diridhoi Allah. Ini tidak jelas sumbernya dari mana dan belum teruji secara keilmuan.

Hal ini datang di banyak momen seperti Lebaran, tahun baru, dan lain sebagainya, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman karena semuanya dilarang. Dikit dikit haram, lah terus awakdewe kudu lapo, lur?

Yang lebih penting dari itu semua, perlu kita tanyakan lagi pada diri sendiri. Sejauh mana kita lupa esensi beragama yang hakiki, yakni menyenangkan dan membawa kebaikan. Jauh dari kekerasan dan menghakimi orang lain.

Seperti itulah kira-kira pandangan Kalis Mardiasih dalam buku agak tebal ini. Patut dibaca untuk membuka pikiran dan cara pandang baru soal Islam, hijrah, dan perempuan.