Kaum hedon adalah istilah untuk mereka yang katanya menganut hedonisme. Menurut KBBI, hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Memang, seiring dengan kemajuan zaman, manusia punya banyak pilihan untuk mencari kesenangan. Bisa dengan membeli barang-barang branded, atau pergi ke tempat yang baru sambil menghabiskan uang.

Sikap ini pun didukung oleh medsos—yang harusnya jadi tempat untuk berbagi kabar atau informasi—tapi malah beralih fungsi sebagai tempat pamer atau riya’.

Tak hanya Instagram, YouTube yang notabene jadi sarana menyimpan video atau ruang menaruh iklan, jadi wadah para kreator melakukan unboxing produk yang nggak semua orang bisa menjangkau. Ini jadi semacam pancingan orang yang mendadak kepengen beli.

Namun apa daya, budget nggak cukup. Harus ngenteni diskonan ketika Harbolnas, atau paling mentok ya beli barang KW. Bagi sobat hypebeast, pamer barang original adalah suatu kebanggaan yang hakiki. Inilah yang menjadikan budaya hedon atau konsumtif terpupuk dengan baik.

Dan, kalau tidak dikendalikan, siap-siap aja tagihan kartu kredit menanti dan kamu akan makan nasi pake kerupuk di akhir bulan. Untuk mengetahui sejauh mana seseorang udah terjangkiti virus hedonis, berikut ciri-ciri yang perlu kamu pahami.

Jangan-jangan, kamu udah terjangkit virus hedon juga?

Nggak Bisa Nabung

Sepertinya, kaum hedon nggak pernah dengar lagu “Mari Menabung” sewaktu kecil, sehingga dengan entengnya mengeluarkan uang tanpa mikir.

Ya, mau gimana lagi, kalau udah kebiasaan beli sesuatu sesuai keinginan dan bukan kebutuhan, sebanyak apapun uang ya bakalan habis!

Kalau udah gini, ya mending solusinya kredit sesuatu untuk jangka panjang, seperti motor atau rumah biar uangnya kelihatan ada rupa. Ketimbang habis buat jajan di mall atau beli barang-barang yang nggak penting.

Kurangi juga plesiran ke tempat-tempat mahal dan menguras kantong. Terakhir, ikut arisan biar uangnya nggak habis cuma buat belanja online!

Pilih-pilih Temen Hedon Branded

Tuhan tidak membedakan ciptaannya berdasarkan kekayaan dan tampang, namun lewat amal perbuatan. Kok manusia hedon suka pilih temen berdasarkan brand yang dipake?

Manusia tentu lebih nyaman segolongan dengan orang yang punya pemikiran sama dan strata sosial sederajat. Mana mau kaum hedon bergaul sama temen yang ke kampus cuma pake sepeda butut atau jalan kaki.

Di pikiran mereka, hanya kelompoknyalah yang paling the best, tahu segala tren yang tengah digemari. Tanpa disadari hubungan mereka sebenarnya fake sebab berlandaskan kegemaran semu. Miris.

Money Oriented

Hedon tak bisa dipisahkan dengan uang, mereka satu-kesatuan sempurna. Orang yang punya budaya hedon atau konsumtif cenderung menilai sesuatu dari uang.

Hal ini bisa mendorong orang tersebut melakukan jalan pintas demi memenuhi kebutuhan membeli barang branded.

Tengok saja pejabat yang melakukan korupsi bukan karena kebutuhan, namun karena keinginan memiliki barang mewah. Mereka tak peduli apa itu uang haram atau halal yang penting bisa memenuhi hasratnya.

Kaum hedon juga tak pernah sayang tubuh, yang penting ada nominal lebih di rekening. Orang seperti ini nih yang patut dikasihani.

Kaum Hedon Penggila Kebahagiaan

Hedon menitikberatkan pada upaya manusia untuk mencari kebahagiaan sebesar-besarnya, dengan cara melakukan apa yang dia sukai. Dan apesnya, ini merujuk pada kesenangan manusia untuk membeli sesuatu yang mahal.

Padahal, tidak semua manusia bisa menggapai, apalagi finansialnya memprihatinkan.

Mereka suka berpesta, melakukan hal yang tidak penting dan jauh dari bermanfaat bagi sesamanya. Membuang waktu demi pesta semalam dan tak memperdulikan orang lain.

Padahal sekali lagi, hidup bukan cuma soal pesta atau senang-senang. Pada saatnya, mereka akan di posisi titik nadir dan tidak siap menerimanya.

Poin pentingnya, semua manusia punya potensi dan hak untuk mencari kebahagiaan, cuma harus tahu batas. Gampangnya, bergayalah sesuai isi kantongmu! Ojok sok-sok an sugeh!