Ada hal yang masih tidak berubah meski dunia sudah maju dan perkembangan teknologi semakin pesat. Hal itu adalah takhayul atau mitos di masyarakat. Buat kon sing pengen bacot, “Halah, jaman wis onok Mbah Google kok sik percoyo ae ambek Mbah Dukun!”, mending kon meneng sek.

Emang awakmu tau ta ngelakoni kabeh mitos iku?

Jangan salah. Di negara maju, mitos dan hal berbau takhayul masih dipercaya. Contohnya saja angka sial. Tengok saja gedung-gedung yang punya tingkat lebih dari sepuluh, pasti melewatkan angka tiga belas.

Itu yang mendasari istilah “Friday the 13”, Jumat yang dianggap sebagai hari keramat dan kurang baik. Nah, ketambahan angka 13 saja dianggap angka sial, apalagi Jumat keramat. Jelas dobel apese!

Namun, nggak usah kita bahas dulu hal-hal takhayul di luar negeri. Kita akan lebih menyorot mitos-mitos lokal yang sebenarnya kalau dipikir maneh sangat nggak logis, tapi masih aja mbok percaya dan lakoni.

Ojok Nuding Kuburan

Sekali-dua kali, pernahlah kamu melintasi areal kuburan. Sebenere biasa ae sih, apalagi kalau siang hari. Eh, tiba-tiba ada temen yang nanya: “Iku kuburane sopo, sing cidek wit beringin?” Telunjuknya menuding kuburan ding!

Kamu sontak menghardik, “Cok, ojok dituding kuburan iku! Tanganmu keteng engkok!”

Kamu kemudian menyuruh temenmu yang sesat dan ceroboh itu mengemut telunjuknya supaya selamat dari masalah. Sebenernya kalau dipikir baik-baik, mosok seh nunjuk kuburan nggak oleh, lah kan pengen ngasih informasi, bukan berperilaku nggak sopan.

Tapi gimana lagi, mitos iku masih dipercaya sampe sekarang.

Ketika Sunat Nangis Pas Nikah Dapat Janda

Ini mungkin sangat terdengar aneh. Masak gara-gara nangis pas sunat oleh janda. Para orang tua menakut-nakuti anak lelakinya, kalau sunat sampek nangis bakal dapat janda kalau nikah. Saya yang dulu hendak disunat sempat kepikiran, mosok seh gara-gara hal sepele ngene nggak oleh perawan. Lugu banget nggak? Padahal janda juga menggairahkan, lho. Ehem..

Saya sih berpikiran baik kalau hal itu adalah hiburan buat anak-anak biar nggak cengeng atau nangis pas sunat. Caranya ya dibungkus sama mitos itu. Namun, setelah iseng mewawancarai kakek dan kakek, mereka malah memberi jawaban seperti ini:

“Yo, aku dulu sunat nangis, makanya dapat nenekmu yang janda. Temen kakek yang dapat janda takonono lak an, mbiyen sunate yo nangis.”

Saya pun mengumpat dalam hati. Fak! Yo gak popo se tapi lek jandane koyok Tamara Bleszinsky.

Ada Kupu-kupu, Ada Tamu

Saya jadi keingat salah satu cerpen dari SGA yang berjudul seperti itu. Memangnya, kupu-kupu bisa tahu dari mana kalau ada tamu buat kita? Tapi hal tersebut memang masih dipercaya oleh beberapa orang, bahwa kedatangan rama-rama adalah tanda adanya rejeki atau keberuntungan yang datang ke rumah lewat tamu.

Tapi kan, tamu ada banyak maceme, dan mereka nggak cuman bawa kabar baik. Moro-moro tamune iku debt collector sangar sing nagih utang cicilan kredit kendaraaan piye? Wasalam uripmu lurd!

Cicak Jatuh Sama dengan Bencana

Yang terakhir mungkin amat jarang terjadi. Ketika seekor cicak jatuh ke kepalamu, mitosnya kamu bisa kena bencana atau meninggal. Aneh kan? Kenapa seh hal-hal sederhana gini bisa jadi tanda sesuatu.

Jancuk, ngene ae isok nggarai masalah gede. Tapi, saya pernah mendapati pengalaman seperti itu. Untunge seh cicake jatuh, tapi nang pinggirku. Jadi nggak tak pikirlah.

Intinya sih kembali lagi, kamu mau percaya atawa tidak karo hal gituan. Toh sebenernya segalanya berasal dari mindset-mu dewe. Ada kata-kata bijak yang mungkin pas untuk hal ini:

“Takdir adalah apa yang kamu pikirkan.”

Lek awakmu mikir elek ae, yo bakal dadi kenyataan. Kenopo awakmu nggak mikir apik-apik ae?