Selain Pram, Iksaka Banu dan Djokolelono, Yudhi Herwibowo adalah salah satu dari sekian banyak penulis Indonesia yang menggarap novel berlatar sejarah. Beberapa karyanya seperti Pandaya Sriwijaya (2009), mengisahkan pemilihan pendekar terbaik pada masa kerajaan Sriwijaya.

Novel-novel sejarah karya Yudhi berikutnya juga mengisahkan tentang tokoh seperti Untung Suropati (2008), Halaman Terakhir (2016) tentang sosok Hoegeng, dan yang paling mutakhir Sang Penggesek Biola (2018) yang menceritakan sosok WR Soepratman.

Jujur saya belum pernah membaca novel-novel Yudhi Herwibowo, tapi malah lebih akrab dengan cerpen-cerpennya yang beberapa kali menghiasi media massa ketika Minggu. Oleh karenanya, ketika buku kumpulan cerpen Empat Aku (2019) karya Yudhi terbit, saya tak perlu berpikir dua kali untuk memboyongnya dari toko buku.

Empat Aku sendiri bukan kumpulan cerpen pertamanya. Lagu Senja (2001) dan Air Mata Kumari (2010), sudah terlebih dahulu ada, namun tentu saya harus berupaya lebih keras untuk mendapatkannya karena sudah masuk terbitan lama.

Dari dulu, tema yang dibahas dalam karya Yudhi selalu kental kritik sosial, tapi disampaikan secara halus lewat kisah satir nan menarik. Empat Aku pun juga memakai pola yang sama. Berikut poin-poin menarik yang sempat saya catat.

Potret Daerah di Nusantara

Yudhi tidak hanya menampilkan satu latar dalam buku ini, melainkan banyak sekali lokasi: kampung kumuh, wilayah perkotaan, desa permai, hutan penuh pepohonan, daerah tertinggal, Papua, NTT, dan lain sebagainya.

Meski salah satu cerita memakai latar luar negeri, tak menjadikan kumcer ini terasa timpang atau malah jauh dari lokalitas, namun menambah semarak dan ragam. Malah latar tersebut yang menjadi dasar konflik dari cerita itu sendiri.

Cerpen-cerpen seperti “Kampung Rampok”, “Kisah Kera-Kera Besar Menuju Langit”, “Kisah Akhir Para Tiku dan Langda” dan “Suatu Ketika”, menunjukan bagaimana penulis dengan kuat mengangkat lokalitas.

“Singgahi kampungku, kampung rampok! Letaknya tak jauh dari jalan besar di ujung kota, di setapak kecil berbatu yang selalu berbau anyir. Kau cukup bertanya kepada orang-orang yang kau temui disitu dan mereka akan dengan mudah menunjukkan arahnya. Tapi, jangan pernah kau coba meminta mereka mengantarmu, karena yakinlah, mereka akan segera menggeleng keras-keras menolakmu, berapa pun kau berani membayarnya!” (Kampung Rampok, hal. 3)

Gambaran Manusia

Secara garis besar, kumpulan cerpen ini menampilkan banyak sekali gambaran manusia, pekerjaan, dan latar belakang tokoh yang beragam. Mulai yang tradisonal dan dekat dengan budaya, sampai dengan kehidupan modern lekat dengan kaum urban.

Yang menarik, Yudhi menyisipkan salah satu cerita yang lagi-lagi berbeda dari cerita lain di buku ini. Seperti cerpen “Empat Aku” yang mengingatkan saya pada film M. Night Shyamalan, Split (2016).

“Jadi keputusan ini akhrinya kuambil: aku harus membunuh aku yang ketiga. Kupikir ia sudah menjadi bedebah sejati yang memang layak untuk mati. Mulutnya busuk, sebusuk otaknya, aku sampai berpikir saat sang pencipta menciptakannya, iblis diam-diam menjatuhkan kotoran di bibirnya, sehingga sekarang hanya ungkapan kotor yang dapat didengar dari mulutnya.” (Empat Aku, hal 29)

Semua Berawal dari Dongeng

Hampir semua kisah di buku ini kebanyakan berawal dari dongeng atau cerita dalam cerita yang dikisahkan tokoh lain atau narator sebagai pencerita. Ada yang berasal dari mitos yang berkembang, dongeng ajaib, sampai legenda tokoh yang diagungkan di masyarakat. Ini memberi satu konklusi bahwa manusia tidak lepas dari cerita dan bahkan, hidup dari cerita.

Cerpen “Kisah Pencuri Bahagia”, “Kota Yang Ditinggalkan”, dan “Kisah Para Tiku”, menguatkan hal tersebut.

“Dan semua tahu, kisah-kisah ini berasal dari laki-laki tua itu. Namanya, mungkin terlupakan. Namun orang-orang menyebutnya, Sang Pengarang. Itu merupakan gelar dari penguasa kota untuk dirinya. Gelar satu-satunya yang ada di sini.”(Kota yang Ditinggalkan, hal 53)

Membaca cerpen ini bisa membuat kalian tahu kondisi yang tengah terjadi dewasa ini. Situasi riil yang dengan mudah kita temui sehari-hari, membuat kumpulan cerpen ini sangat relateable tentunya.

Akhir kata saya berharap dapat membaca karya Yudhi Herwibowo lain—yang saya yakin yang tak kalah hebat dari kumpulan cerpen ini.