“Tidak pernah mencabut kata-kataku adalah jalan ninjaku!”

Kalimat epik tersebut mungkin terdengar familiar di telinga penikmat manga atau jejepangan. Yang mengucapkannya adalah Naruto, main hero di komik Jepang itu. Ia punya tujuan hidup mulia, yakni menjadi hokage atau kepala desa demi melindungi masyarakat dan diakui sebagai ninja paling kuat.

Tak mengherankan banyak pembaca yang simpati kemudian berani bermimpi seperti Naruto!

Hal ini tidak lepas dari budaya orang Jepang yang memiliki konsep bernama ikigai alias nilai atau tujuan seseorang dalam menjalani kehidupan. Konsep tersebut bisa menjawab pertanyaan mendasar seperti: mengapa manusia hidup?

Ikigai digambarkan sebagai Diagram Venn yang empat kualitasnya tumpang tindih dan memiliki irisan: apa yang andai sukai, apa yang anda kuasai, apa yang dunia butuhkan, dan apa yang bisa dibayar dari kamu.

Berikut diagramnya.

Nah, penjelasannya kayak gini.

Passion

Saat kamu memilih apa yang kamu cintai dan apa yang kamu bisa, irisan yang tercipta adalah passion. Contohnya, kamu suka dan mahir kegiatan menulis dan paham soal apa yang terjadi di sekitarmu. Maka, yang terjadi kamu akan menjadi seorang pengarang atau penulis yang menyampaikan pendapat lewat cerita atau sastra.

Simpel yo.

Profession

Ketika kamu memilih apa yang kamu bisa dan kamu dibayar karena kemampuanmu, hal itu menjadi profesimu. Misalnya, kamu biasanya ngirim tulisan ke media massa dan dapat honor. Saking seringnya dimuat, sampek isok gawe rabi. Nah, kegiatan menulis tadi yang disebut profesi.

Vocation

Irisan ini tercipta saat kamu memilih melakukan sesuatu demi orang banyak dan kamu dibayar. Maka kamu sedang melakoni vacation atau keahlian. Contohnya, awakmu nulis artikel buat DNK.id dan tulisanmu dibaca banyak orang karena isinya sing goks, akeh faedahnya, dan menghibur para pembaca yang suntuk dengan rutinitas bangsat sehari-hari.

Bakat atau kebisaan yakni keahlian menulis buat banyak orang inilah yang disebut vacation.

Mission

Terakhir, kamu punya hal yang kamu cintai dan hal itu dapat menjawab kebutuhan orang banyak, maka dapat dikatakan kamu sedang memiliki misi.

Misalnya, kamu suka menulis keresahan orang-orang di perkotaan yang makin jarang bahagia karena tuntutan pekerjaan dan kehidupan membosankan. Nah, ketika artikel itu dimuat, kamu secara tidak langsung menyampaikan perasaan orang-orang kota yang ingin dipahami orang lain.

Nah, ketika kamu sudah menemukan semua hal di atas, ini menciptakan ikigai yang membuatmu tetap hidup. Ikigai tiap orang berbeda dan tidak selalu sama, dan untuk menemukan ikigai perlu perenungan panjang dan bertanya pada diri-sendiri.

Ikigai sendiri menjadi resep untuk umur panjang bagi orang Jepang, khususnya di Okinawa. Harapan hidup mereka bisa sampai 80 sampai 100 tahun ke atas, lho!

Orang-orang yang punya ikigai cenderung menjalani hidup mengalir aja, tanpa tahu apa yang ingin dicapai. Satu kali bahagia, satu kali dirundung kesedihan.

Di Negara Samurai Biru, kebahagiaan diartikan sebagai sibuk dan dinamis—bukan hening, monoton, stagnan, sepi, atau menganggur.

Ada sebuah riset yang mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki ikigai berisiko lebih cepat meninggal. Selain itu, mereka tidak menikah, tidak bekerja, berpendidikan rendah, rentan sakit, punya stres tinggi dan mengidap penyakit kronis.

Setelah semua yang sudah saya jelaskan tadi, kalean sekarang pasti sedang bertanya-tanya pada diri sendiri: sudah punya ikigai belum? Ini sejalan dong dengan syair dari Chairil Anwar, “Sekali berarti sesudah itu mati..”