Saya nggak pernah tahu ada apa gerangan yang menyebabkan Komisi Penyiaran Indonesia  (KPI) seakan melarang Spongebob menghibur anak-anak Indonesia. Bukan kali ini saja kartun spons berwarna kuning itu kena teguran keras KPI. Di zaman dulu, penghuni Bikini Bottom juga udah pernah ditegur karena menampilkan adegan kekerasan dan vulgar.

Adegan seng koyok opo se cooookkkk!

Come on, saya tak habis, pikir ini cuma kartun bro! Dari jaman baheula ya emang tujuannya menghibur, nggak ada niat nyebarin kekerasan. Anak-anak juga paham kalau apa yang ditonton tidak untuk ditiru, mereka tetap ngguyu nyawang Patrick ta Spongebob dipukuli Squidward.

Untuk itulah peran orangtua dianggap penting dalam mendampingi buah hatinya menonton. Sebisa mungkin sih kudu menyampaikan bahwa adegan itu cuma bercanda, tidak nyata, dan jangan ditiru. Saya jadi curiga kalau anggota KPI nggak pernah nonton kartun selama ini—atau paling nggak, menemani anak mereka nonton kartun.

Di dunia maya, banyak netizen yang mendukung Spongebob ketimbang KPI. Bahkan sutradara Joko Anwar—yang promo filmnya tak luput dari teguran KPI karena ada kata bangsat dalam dialognya—juga ikutan ngecam.

Sutradara film Gundala itu juga membuat cuitan di akun Twitternya.

“Kalau ada lembaga yang anggap tontonan kayak Spongebob melanggar norma kesopanan, lembaga itu nggak layak dipercaya menilai apapun di hidup ini. #Bubarkan KPI.”

Mungkin banyak bacotan dari KPI jadi salah satu penyebab mulai jarangnya acara kartun di televisi. Tidak seperti dulu dimana tiap hari Minggu kartun selalu ada sampek siang bolong. Misal kartun Tom and Jerry yang tiap episodenya selalu ada adegan kejar-kejaran (namanya juga kucing dan tikus, nggak pernah akur lurd). Sesekali mereka juga membawa bom, sajam dan pentungan.

Saya nggak tahu apa parameter kartun yang aman dan cocok untuk ditonton menurut KPI. Sedangkan faktanya, memang ada beberapa kartun memang dibuat untuk orang dewasa dan remaja sehingga tidak cocok bagi anak-anak.

Nggak hanya Spongebob, sebagai penggemar garis keras Naruto, dulu saya mencak-mencak ketika ada adegan tokoh berdarah dalam Naruto harus disensor. Fak! Esensinya lak berkurang!

Padahal dulu, ketika Sasuke melakukan jurus Chidori sehingga punggung Naruto berdarah sampek berlubang, itu belum kena sensor. Sekarang malah adegan itu dihilangkan kalau tayang di televisi. Hanjing!

Itu sih mendingan. Bagi para pecinta Doraemon yang setiap Minggu mantengin televisi, pasti bakalan double bete. Suatu hari, Nobita Cs pergi ke pantai, nah ini permasalahannya. Logikanya, di pantai ya pake baju pantai atau renang.

Shizuka pake baju renang don untuk ke pantai. Dan.. disensor cuk! Stasiun televisinya mungkin takut ditegur KPI karena dianggap vulgar. Padahal kalau dilihat-lihat, sing dipakai yo wajar. Lagian Shizuka sek bocah nggatel.

Tapi mbuh ancen, KPI wedi tabiat Shizuka pake baju renang di pantai ditiru anak-anak yang nonton di rumah—atau bisa jadi bahan bacol? Fuccckkkk hentai lak akeehhh!

Ini yang menyebabkan beberapa orang mulai ogah melihat televisi maneh. Isine wes nggak kayak dulu maneh yang ceria, lucu, dan menggembirakan. Sekarang malah akeh drama-drama dan acara komedi yang buka aib artisnya.

Kalau mau fair-fairan, sinetron di televisi lho onok adegan berantem, kebut-kebutan di jalan, ambek cinta-cintaan. Lah lapo kok nggak dihapus ae acara ngunu? Tontonan yang menampilkan jenazah yang terkena siksaan dan hal lain kenapa masih ada?

Jujur, saya lebih takut melihat gituan ketimbang lihat kartun yang lucu cuk!

Saya pun pernah memposting status di WhatsApp perihal KPI yang menegur Spongebob dan kebetulan direspon oleh teman yang sudah jadi ibu. Doi bilang begini, “Saya biasanya berantem rebutan remot televisi dan hanya Spongebob yang mempersatukan saya dan anak perempuan.”

Yaopo, jleb a?