“Pada akhirnya, manusia memang harus memilih, antara mencintai atau dicintai.”

Kata-kata klise di atas sering kali muncul di dialog film-film roman picisan. Tujuannya demi membuat baper para penonton, utamanya para jomblo yang mekso ndelok film drama. Kata-kata itu mengandung pilihan yang sulit, sesulit kamu menggapai areknya.

Ya mau gimana lagi, manusia harus menentukan pilihan. Kamu nggak bisa serakah, bisa dicintai dan mencintai sekaligus. Tapi kalau disuruh milih nih, kalean lebih condong jadi orang yang dicintai apa mencintai?

Beberapa hal positif dan negatif dari keduanya bakal dijelaskan sampek juwelas di artikel ini, sehingga kamu bisa memilih dengan keyakinan kuat, untuk kemudian bisa memutuskan yang terbaik.

Dalam Hal Mengejar Areknya, Mencintai Lebih Dulu Banyak Kalahnya

Kalau kamu punya perasaan kagum pada areknya, kamu yang harus inisiatif dan bergerak demi merebut perhatian doi. Setiap hari kamu kudu menunjukan bahwa ada niat baik untuk membuat pujaan hatimu bahagia.

Kalau perlu, kamu harus selalu ada saat dia butuh bantuan. Nggak peduli wis bengi atau ada urusan lain, kamu wajib mengutamakan dirinya.

Tapi, yang namanya memberi cinta atau perhatian, nggak semua akan dapat sambutan baik. Wong ngelamar kerjo ae belum mesti diterima, apalagi untuk urusan cinta. Bakal lebih susah buatmu. Kamu yo harus terima kenyataan kalau ternyata dia hanya ngganggap kamu teman atau saudara. Ancen perih se. Tapi mau gimana lagi, urusan perasaane wong nggak isok dipekso, cuk…

Tapi Kalau Kamu Dicintai Lebih Dulu, Kamu Nggak Perlu Berjuang Habis-habisan

Biarin aja dia yang nunjukin perhatiannya. Bisa dengan chat duluan dan mendukung apa saja yang kamu lakukan. Kamu tidak bertanya-tanya apa dia punya perasaan lebih, tinggal kamu nantinya harus buktiin bahwa kamu bisa bahagiain doi. Orang yang mencintaimu lebih dulu pasti mudah untuk merasa senang, walau cuma dapat balasan sedikit.

Ketika kamu nggak bales chat, pasti doi nyariin dan bertanya: Ada apa? Kena masalah apa?

Nggak seperti saat mencintai,  kamu selalu perlu ada di saat dia butuh dan mencurahkan semuanya buat pujaan hati. Tapi ketika dicintai, energimu tersimpan untuk mengerjakan hal lain. Meski begitu ingat, jangan sampai posisi ini mbok jadikan kesempatan untuk mainin hati anak orang!

Mencintai Tampaknya Lebih Mulia Dibanding Dicintai

Ada suatu nasihat yang mengatakan bahwa lebih baik memberi daripada menerima. Sama halnya dengan itu, kamu yang mencintai duluan sudah sejajar dengan kemuliaan. Nggak mudah untuk memberi sesuatu pada orang yang belum tentu membalas kebaikan kita. Namun intinya, jangan berharap layaknya orang bersedekah.

Mencintai memang tak selalu manis, namun buahnya dapat dipastikan nikmat. Percayalah, hukum tabur tuai akan berlaku. Jika mungkin kalean sekarang berjuang mati-matian untuk mendapat perhatian doi, percayalah suatu saat, entah doi atau orang lain pasti membalas kebaikanmu itu.

Mbuh kapan tapi, enteni wae. Wkwkwkwk!

Toh Dicintai Sebesar Apapun, Kamu Belum Tentu Bisa Balas

Jangan sok kegantengan atau cantik kalau disukai duluan. Kamu harus mikirin dia, dan sebisa mungkin membalas perasaannya—dengan jelas menerima atau menolaknya. Bukan berarti orang yang dicintai memfasilitasi anak manusia jadi bucin. Intinya, jangan sampai kamu nyia-nyiain doi yang udah berkorban segalanya. Bisa jadi dia sadar lantas meninggalkanmu.

Emang sih manusia mahluk yang kadang nggak tahu diri. Sudah dikasih nikmat sama Tuhan, tapi masih aja serakah minta lebih. Kalau orang Jawa bilang, wis dikei ati ngerogoh rempela! Intinya seh, kamu harus kasih kepastian bila ngerasa nggak bisa balas mencintai. Jangan terus kasih harapan! Ingat kata Pengkor dalam film Gundala, harapan itu candu dan bisa membunuh!

Akhir kata, mencintai atau dicintai adalah suatu yang pasti pernah kamu alami. Manusia yang bergaul dengan lawan jenis, sudah pasti merasakan hal itu. Tapi yang lebih penting dari itu adalah, esensi cinta harusnya bisa saling melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain.

Huwenaak!