DNK

Membuka Rahasia Bacaan Eka Kurniawan yang Membuatnya Jadi Penulis Moncer Level Tinggi

Membuka Rahasia Bacaan Eka Kurniawan yang Membuatnya Jadi Penulis Moncer Level Tinggi

Setelah Pram, nampaknya hanya Eka Kurniawan yang digadang-gadang jadi sastrawan Indonesia yang paling moncer dalam kancah sastra dunia. Meski banyak sastrawan lain yang lebih tua atau segenerasi yang sama-sama diterjemahkan karyanya, semuanya tak mampu menutupi fakta bahwa Eka-lah yang paling banyak diperbincangkan dan menarik pembaca asing.

Apalagi, segenap penghargaan internasional telah diboyongnya. Mulai dari World Reader’s Awards, Emerging Voice 2016, nominasi panjang Man Booker Prize 2016, dan yang terbaru Prince Claus Award 2018.

Buku-bukunya hampir semua cetak ulang, berganti sampul, bertengger bersama buku best seller lain di toko buku. Salah satunya bahkan masih dalam tahap untuk difilmkan, yakni novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Pertanyaanya, bagaimana bisa Eka menjadi sejempolan itu? Bagaimana bisa karya-karyanya bisa dengan gagah bersanding bersama penulis besar dunia lainnya?

Jawabannya mungkin bisa kamu baca di buku nonfiksi terbaru Eka, Senyap yang Lebih Nyaring. Buku yang diklaim merupakan tulisan jurnalnya mulai 2012 sampai 2014 itu, nyatanya memberikan hal yang lebih dalam.

Jurnal Eka Kurniawan yangsempat dimuat dalam blog pribadinya, agaknya dipakai sebagai medium baru untuk menulis guna meletakkan jejak bacaan serta pikiran yang mungkin sewaktu-waktu berguna. Tulisan esainya memilih bentuk dalam satu paragraf berisi satu tarikan gagasan sepanjang 500-600 kata.

Saya meyakini bahwa karya yang bagus tidak terlepas dari kegemaran penulisnya yang haus akan bacaan. Itulah yang saya temui dalam esai-esai Eka Kurniawan. Berbagai penulis lintas jaman tak lepas dari radar jangkauannya. Mulai dari Hemingway, Faulkner, Kawabata, Hamsun, Tolstoy, Dostoyevsky, Chekhov, Cervantes, sampai Shakespeare.

Bacaan itulah yang membuatnya bisa satu level di hadapan penulis dunia. Konsumsi sebagai bahan penulisan yang jelas tak main-main.

Bukan hanya nama-nama itu saja yang ada dalam bacaan Eka. Jika beruntung, nama-nama baru dapat ditemukan dan layak diperbicangkan karyanya. Bukan hanya sekadar pembacaan, Eka juga memberi ulasan terhadap karya mereka,sehingga pembaca sekaligus tertolong mendapat gambaran isi buku yang sekiranya menarik minat baca.

“Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca novel-novel Roberto Bolano adalah betapa sedikitnya saya membaca karya para penulis dari generasinya. Ia lahir 1953. Saya membaca esai-esainya, yang dikumpulkan di buku berjudul Between Parentheses dan terkejut oleh kenyataan ia membaca karya–karya penulis yang selama ini kurang-lebih juga saya baca.” (Hal 19).

Tulisan Eka seolah menyetujui bahwa karya bagus dan menarik selalu layak didiskusikan dan tak lepas dari pembacaan penulis lain. Kesamaan dan selera bacaan bisa dilihat dari menariknya isi buku hingga tak lekang oleh waktu.

Selain itu dalam esai-esai di buku terbarunya, Eka juga menyelipkan kiat menjadi penulis dan menulis sebuah karya, meski tak terlalu gamblang dan sering dibahas. Di antaranya dapat membantu kamu yang ingin mengikuti jejak Eka. Sama seperti Milan Kundera, Mario Vargas LLosa dan penulis lain yang menulis esai soal penulisan, petuah-petuah Eka juga disampaikan melalui pengalaman dan gagasan.

“Bosan dengan cerpen yang kalimatnya jauh lebih indah daripada ceritanya, seperti kursi yang ornamennya lebih hebat dari kualitas kayunya. Barangkali bisa diobati dengan membaca cerpen-cerpen Maupassant. Cerpen-cerpen sederhana dengan ironi yang tidak sederhana. Setidaknya, meskipun umurnya sudah tua, beberapa cerpennya masih bisa menggedor-gedor kepala kita yang waras dan terpuji ini dengan pesan-pesan moral yang bangke.” (Hal 306)

Eka juga membagi pengalaman soal bagaimana ia sebagai penulis pemula menerbitkan karya pertama kali. Ia mengawali mengirim puisi di majalah anak-anak ketika umur 11 tahun. Kemudian, mengirim cerpen ke surat kabar Media Indonesia dan koran Tempo.

Intinya adalah, karya yang baik akan selalu diterima redaktur. Tapi kamu harus tetap memulainya terlebih dahulu, menuliskan apapun, sebelum berkembang dan semakin matang.      

“Penulis cerpen di Kompas (atau Koran Tempo) belajar dari penulis lain yang diterbitkan Kompas (atau Koran Tempo), bagi saya seperti mengawini saudara sendiri. Inses! Jika Anda tak percaya dosa, paling tidak anda percaya hal ini: perkawinan sedarah cenderung menguatkan penyakit bawaan. Dalam ranah pemikiran, perkawinan sedarah menguatkan kebodohan. Percayalah anda butuh kawin silang.” (Hal 204)

Kesimpulannya, membaca esai-esai Eka Kurniawan dalam buku terbarunya bisa jadi sarana bagimu untuk menjadi penulis berbakat. Tentu saja, jalan itu masih panjang karena karya yang baik dan menarik tak bisa langsung tercipta begitu saja. 

Tapi jika mengutip kata Eka, “semua penulis terkenal dan tua, berawal dari penulis muda dan pemula,” sepertinya harapan itu masih terbuka luas.

Jadi, sudahkah kamu menulis hari ini?