25 Desember lalu adalah momen spesial untuk berkumpul bareng keluarga, utamanya bagi Umat Kristiani. Lantas bagaimana keluarga yang multiagama merayakan Natal?

Hari Natal setiap tahunnya memang datang bersama kebahagiaan. Banyak hadiah bertebaran di bawah pohon cemara. Ada Santa Claus di mall dan juga patung rusa. Cuman sayang, salju tidak turun di Indonesia. Hehehe..

Tapi keadaan ini tidak berlaku di media sosial, yang masih ramai membahas boleh atau tidaknya mengucapkan selamat Natal bagi umat Muslim.

Apalagi setelah ada imbauan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, yang meminta umat Muslim tidak mengucapkan selamat Natal pada umat Kristiani karena dikhawatirkan bisa merusak akidah Islam.

Namun, ini bertolak belakang dengan MUI Pusat yang mengeluarkan pernyataan bahwa tidak melarang umat Islam mengucapkan selamat Natal. Hal ini jelas membuat umat Muslim kebingungan mau ikut yang mana.

Ironisnya, tidak setikit orang-orang yang katanya enggan mengucapkan selamat Natal pada saudara atau handai tolan, tapi menikmati diskon Natal dan senang ketika libur. Kok jek onok umat sing koyok ngunu. Hmm..

Melihat kondisi ini, saya pun teringat punya teman muslim yang keluarganya mempunyai keyakinan bermacam-macam atau multiagama. Putri (23), teman saya yang muslim, seperti tahun-tahun sebelumnya, bercerita pengalamannya merayakan Natal bersama neneknya yang beragama Kristiani.

Ini jadi cerita yang seru tentang Natal di keluarga multiagama.

“Jadi, aku sudah ikut Natalan di rumah nenek sejak kecil. Berangkat naik bus sama Ayah. Ibu tidak pernah ikut karena mabuk kendaraan,” ungkap gadis berkerudung tersebut.

Ia kemudian menyatakan, inti merayakan Natal di rumah neneknya adalah semua keluarganya berkumpul, maka dari itu semua anaknya diharuskan datang. Putri menambahkan bahwa perayaan tersebut layaknya hari raya Idul Fitri, tetangga dan keluarga datang makan bersama.

“Ada kue kering, tapi nenek nggak pernah masak babi karena ada anak, cucu, dan keluarga lain yang Islam. Jadi biar tetep bisa makan bareng, palingan masak daging sapi dan ayam,” imbuhnya.

Ketika tiba di sana, musik rohani senantiasa mengalun dan orang-orang tak lupa mengucap shalom.  Putri pun mengenang momen saat diberi angpau oleh neneknya. Tentu hal ini berhenti ketika kini ia sudah bisa mencari uang sendiri.

Lantas bagaimana kesan Putri merayakan Natal bersama nenek?

“Ya terasa, ah gini ya kalau beda-beda agama. Tapi, kami nggak pernah mempermasalahkan dan merasa beban. Semua damai-damai saja. Kalau Idul Fitri keluarga nenek ya datang ke rumah. Sama aja, kumpul bareng dan makan-makan,” ujar Putri.

“Hal yang paling penting, kita mampu menempatkan diri kita masing-masing. Asal tidak menyakiti orang lain, tidak ada salahnya jika Natal juga ikut berbahagia. Mereka juga butuh merayakannya bersama-sama. Urusan dengan Tuhan adalah urusan masing-masing. Meski Tuhan kita berbeda, tapi semua Tuhan mengajarkan untuk baik kepada sesama umat,” tambahnya.

Hal serupa pun terjadi di kosnya. Ia yang tinggal di Surabaya berbagi tempat dengan para pendatang lintas daerah. Kebetulan, sebagian besar teman kos adalah orang-orang timur, tepatnya Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Aku hidup lama di kos yang mayoritas Katolik dan orang-orang dari timur. Mereka sebelum Natal pasti banyak persiapan, beli baju dan menata ini-itu. Saat aku longgar, ya aku bantu,” ujar Putri.

Itulah yang membuat Putri tidak terlalu pusing terhadap pro-kontra di media sosial. Baginya sebagai manusia, sudah sewajarnya memiliki rasa toleransi atau tenggang rasa terhadap sesama.

“Kita hidup dalam satu dunia, Indonesia memiliki dasar negara Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.  Jadi, sudah sepantasnya saling menghormati tanpa menyakiti satu sama lain,” pungkas Putri.