Tulisan ini bukan untuk menyombongkan diri karena sudah ikut aksi, namun lebih kayak me-roasting diri sendiri dan share pengalaman semata.

Konroversi banyak RUU yang dibikin DPR jelang berakhitnya masa bakti mendorong banyak orang turun ke jalan. Mereka mendemo gedung dewan yang ada di daerahnya masing-masing. Nah, kemarin saya berkesempatan ikut aksi #SurabayaMenggugat yang digelar di depan Gedung DPRD Jatim (26/9).

Saya yang nol putul, cupu, pecundang soal demo, mendadak bingung harus ngapain di jalan. Untungnya saya tidak sendiri. Bersama rombongan DNK.id dan kawan-kawan lain, saya pun mengambil langkah berani.

Jam sepuluh siang kami berangkat dari markas besar DNK.id menggunakan ojol mobil. Nggak wani bawa sepeda motor takut dibakar atau jadi amuk massa. Kata teman sih gitu, saya hanya mengiyakan karena tak punya pengalaman.

Mobil melewati jalanan yang lengang karena manusia lain sudah paham bakal ada aksi sehingga malas bepergian. Siswa-siswi SD sampai SMP di Surabaya diliburkan. Melihat kondisi ini, saya jadi keingat film Resident Evil.

Tak ketinggalan, Pak Supir menyalakan radio demi mengetahui suasana terkini soal demo dan jalan mana yang sudah ditutup atau dipadati mahasiswa.

Bisa dibilang, aksi #SurabayaMenggugat ini memang dipelopori mahasiswa. Mereka wani keluar kelas demi memperjuangkan keadilan bagi buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota. Eh malah nyanyi..

Mobil yang kami tumpangi terpaksa turun di SPBU seberang gereja BPIB Immanuel karena jalan telah dipenuhi mahasiswa yang berjalan kaki sambil membawa spanduk. Mereka  meneriakan yel-yel dan mengatur barisan.

Bodohnya, saya lupa membawa poster untuk mendukung aksi. Padahal, saya pengen tuntutan saya dibaca oleh anggota DPR dan polisi yang berjaga mengamankan gedung dewan.

Soal poster, sejauh pengamatan, banyak sekali kata-kata satir bernada lucu namun mengena dibawa oleh mereka. Misalnya: “DPR wayahe kerjo turu, mbokep, mbolos. Wayahe lengser gawe perkoro.” Super savage nggak seh?

Bukan hanya mahasiswa yang turun ke jalan, anak STM pun ikut memeriahkan. Seragam mereka kelihatan mencolok.

Sementara itu, mahasiswa ditandai dengan jas almamater beraneka rupa. Nggak hanya Surabaya tok, mahasiswa yang dari Malang dan Madura juga ikut serta. Jalanan sekitar Tugu Pahlawan pun dipenuhi sepeda motor yang diparkir.

Kami berjalan kaki mengikuti mahasiswa yang ada di depan, lalu sampai gedung DPRD. Semuanya kompak menyanyikan lagu buruh tani sambil menuntut agar anggota dewan keluar.

Namun, polisi lewat speaker menyuruh mereka tenang. Dari seberang jalan, TOA masjid malah mengumandangkan Asmaul Husna.

Orator menyuruh kerumunan pendemo mendengarkan lantunan tersebut hingga selesai. Kemudian ia berteriak, “Kami sudah mendengarkan Anda Ibu Polwan, giliran kami yang didengarkan!”

Mulailah mereka menyampaikan orasi ketidakkesetujuan terhadap RUU KUHP yang menyulitkan masyarakat—terutama kaum pekerja di malam hari.

Kawat berduri membentengi sekeliling gedung. Mahasiswa yang tak sabar menunggu anggota dewan keluar, sempat menggoyang pagar. Akhirnya tak lama kemudian, beberapa anggota dewan keluar di depan mahasiswa.

Mereka dimaki-maki oleh pendemo. Berbagai sebutan binantang dan alat kelamin keluar. Tapi toh anggota DPRD melengos tak peduli.

Memasuki waktu Asar, demo sedikit mereda. Saya mencari pentol dan minuman karena lelah berdiri sejak siang. Baru setelah salat Asar, aksi mulai kembali. Kali ini ada provokator yang mengajak ricuh. Lemparan botol dan benda mengarah ke polisi.

Drone dari udara tak henti-hentinya mengawasi. Polisi segera bergerak ke kerumunan, menciduk para provokator. Sempat ada kericuhan tak jauh dari sana. Beberapa orang malah sudah membakar sesuatu.

Saya tentu bersiap untuk menjauh saat tanda ricuh bakal terjadi. Pengalaman ini mirip ketika konser dan ada orang-orang mabuk atau kesal hendak tawuran. Saya kelihatan pengecut ketika itu, padahal teman saya tidak bergerak sedikit pun. Teman yang lain malah mendekat untuk mengambil gambar.

Saya pun memutuskan pulang jam setengah lima sore. Badan rasanya remuk semua dan yang paling penting, kulit lebih gelap dari sebelumnya. Entah saya akan ikut lagi atau tidak kalau ada demo serupa. Yang pasti, DPR nggatel!