Apa sebenarnya ukuran seseorang untuk bisa dibilang dewasa? Sudah bisa nyari uang sendiri, umur yang tak lagi muda, atau seneng liat film dewasa? Poin terakhir ini kayaknya kamu banget ya..

Berbicara soal kedewasaan, kadang temen atau keluarga sering kali menuntut dengan bilang, “Wis umur sak mene kok durung dewasa seh kon!”

Padahal, ukuran seseorang dianggap dewasa terlihat samar dan absurd. Abaikan soal umur karena hal itu sama sekali tidak relevan sebagai tolak ukur.

Nah,  berikut tanda yang bisa jadi acuan untuk menilai kelakuanmu. Sek childish opo nggak. Nggak masalah kamu doyan kartun, tapi saat kudu bersikap dewasa, ya jangan sok kekanakan dong! Imut enggak jembek iyo!

Plin-plan

Padahal cuma urusan milih makanan atau baju, kamu bisa membatalkannya detik itu juga. Alasannya, kamu masih bingung dan belum yakin dengan pilihannya. Mungkin tindakan ini disebut banyak perhitungan atau nggak gegabah.

Tapi masalahnya, kamu lho wis mutusno sesuatu dan nggak komitmen sama itu semua. Gampangane: nggak isok dicekel omongane!

Tapi, mau gimana lagi, manusia semacam itu banyak populasinya. Contoh sederhananya yo pejabat. Janjine ngene hasile ngunu, isuk dele sore tempe. Kalau bertemu orang seperti itu, mending diem aja atau iyain pas ngomong. Koyok arek cilik nggak nduwe pendirian!

Suka Ghibah

Kegiatan yang satu ini memang bisa jadi pemersatu bangsa, golongan, atau kelompok. Tapi opo nggak bosen ngomongin orang terus? Sementara bangsa lain sudah bisa mendaratkan manusia di bulan, kamu sek ngurusi aib artis dan bicarakan hal-hal unfaedah. Koyok arek SD tel!

Ini nih yang jadi pembeda antara si childish sama yang udah beneran dewasa. Kamu masih aja ngurus masalah orang lain sampek lupa dengan dirimu sendiri, padahal mereka yang kamu omongin nggak peduli, malahan dosamu nambah gara-gara keseringan ghibah.

Kon kan bukan akun gosip yang memang cari uangnya dengan jalan seperti itu. Sadaro!

Lifestyle Hedon

Kamu suka lapar mata kalau liat barang diobral dengan harga miring walau sebenarnya bulan kemaren udah shopping. Jiwamu konsumtif, menjerit menghadapi promo sale di hari belanja nasional dari sejumlah aplikasi belanja.

Akibatnya, di hari tua atau pertengahan bulan, uang di kantong udah ludes. Saldo minim, nggak bisa diambil. Kayaknya ini waktumu ngatur uang secara lebih dewasa deh!

Orang Lain Selalu Salah

Peraturan pertama, bos selalu benar. Peraturan kedua, jika bos salah, kembali ke peraturan awal. Masalahe kamu bukan bos atau tukang suruh.Kamu hanya kaum pekerja biasa, kok sewenang-wenang, mau menang sendiri dan selalu nyalahin orang lain.

Jengkelno deh ketemu mahluk yang merasa bener tok, nggak mau ngaku salah. Padahal doi iku goblok, tapi anti kritik. Kalau mentok begini, kamu tinggal tunggu aja manusia jahanam tersebut sadar. Atau kamu bisa mendekatkan mulut ke kupingnya dan berteriak ‘jancuk!’ sekencang-kencangnya.

Suka Ngeluh

Sambat memang menyenangkan. Dunia emang nggak selalu adil dan berpihak dengan nasibmu. Tapi ingat kata Patrick Star, ‘Hidup memang tidak adil, maka biasakanlah!”

Kalau udah tau nggak adil, kok awakmu jek ngeluh dan nggak berbuat sesuatu?

Dengan kamu sambat beban di hati, segala uneg-uneg bakal tersalurkan. Tapi solusi dari masalahmu nggak akan berakhir. Ini yang bedain kamu sama orang sing dewasa. Mereka mungkin pernah mengeluh sesekali, tapi nggak lupa untuk nyari kunci atau jalan keluar.

Akhir kata, menjadi dewasa itu pilihan sekaligus tuntutan. Tapi, jangan jadi dewasa sampai kamu lupa cara untuk menikmati hidup. Jangan sampai kamu membunuh kebahagiaanmu dengan terlalu serius. Childish boleh, but at the right time, at the right place!