Manusia diciptakan dengan beraneka rupa. Ini menimbulkan suatu ciri khas unik yang jadi pembeda antara satu dengan lainnya. Dalam hal makanan, ada yang suka duren, ada yang suka semangka, dan ada yang tidak suka keduanya. Nah, kondisi ini biasanya berujung pada kefanatikan sing njengkelno.

Akhirnya, mereka pun jadi pilih-pilih makanan. Padahal, semua makanan ada yang diperlukan bagi tubuh. Nggak bisa disalahin sih. Emang ada sebagian orang yang punya alergi dan ada pantangan mengonsumsi satu jenis makanan.

Hal ini menimpa saya sendiri yang suka pilih-pilih makanan. Mulai dari nggak doyan makanan pedas, olahan ikan, bebek, dan sapi. Cuma makan ayam dan tempe-tahu. Ini jelas memancing pertanyaan bernada sindiran dari teman: “Awakmu kok mangane iku-iku ae se, nggak bosen ta?”

Itu sih cuman salah satu gambaran umum yang bakal dihadapi kelompok pilih-pilih makanan. Berikut ini daftar yang lebih komplit.

Fanatik Berlebihan

Kalau kamu punya seseorang yang sudah nyambung dan bikin nyaman, pasti bakal mbuk pertahanin dan dijadikan pasangan hidup. Sudah tahu luar dalam dan kurang-lebihnya, menjadikan kon nggak pengen ngaleh atau mencoba hal baru lain yang belum pasti.

Nah, ini sama halnya dengan wong-wong sing milih-milih makanan.

Mereka ini nggak akan ganti menu meskipun hargane lebih murah dari makanan yang biasane dia pesen. Soalnya, dibanding mbuak duwek karo makanan yang belum jelas enak dan bikin wareg, mending milih menu biasane ae.

Saya pun dengan jujur punya kecenderungan begitu. Kalau malam pas perut keroncongan, suka nyari nasgor. Selain gampang digoleki, isok nggarai adem ati. Heheuheue..

Pasti Ada Sisa di Piring

Ini terjadi ketika makanan yang kamu terima nggak bisa di-request sedari awal. Akibatnya, ada sisa makanan di piring yang kamu makan. Orang lain nangkepe kon nggak sanggup menghabiskan, wis full weteng, padahal ancen kamu nggak seneng ae karo makanan itu.

Mending kasihkan ke temen yang doyan atau siapamu kek yang mau ngabisin sisa makanan. Tapi yo seng rapi rek, ojok diorat-arit. Sakno se koncomu.

Ngerepotno Koki

“Pak nasgore nggak usah onok jagunge, lomboke level minimum, acar sing akeh, sayure sedengan, masake nggak usah suwe-suwe. Aku nggak seneng gosong, pake telur ayam didadar setengah mateng ngaduke searah jarum jam, terus nggak usah dikei micin,” ucapmu.

Lek aku sing dadi bakule, wis tak pisuhi cok! Masako dewe! Ngerepoti wong ae!

Lah, menu sing wis standare ngunu malah diubah total. Mbok yo lek nggak cocok mending cari tempat lain ta masak dewe ngunu. Cobalah untuk toleran pada makanan lain sing belum tau mbok coba. Kalau nggak bisa atau muncul alergi, yo ojok tuku merunu maneh!