Akhir-akhir ini medsos rame lagi sama pertanyaan soal pencapaian hidup anak muda. Kesannya, masih banyak anak muda yang sudah bekerja keras tapi masih belum bisa mencapai prestasi yang gemilang, terutama dalam hal keuangan.

Ketika usia manusia memasuki tahapan umur 25 a.k.a fase quarter life crisis, banyak yang merasa kehidupan mulai berjalan melambat atau monoton. Seperti kata pepatah: “Hanya ikan mati yang mengikuti arus.”

Kamu sudah benar-benar tidak bernyawa dan kehilangan kontrol untuk melakukan sesuatu. Hidupmu mulai terjadwal, berangkat pagi dan pulang dengan jam yang pas.

Gaji yang diterima sama, butuh beberapa tahun lagi untuk naik jabatan. Ketika pensiun, kamu dapat tunjangan sedikit dan menikmati hari tua dengan nggak tenang-tenang amat?

Pertanyaannya, apakah semua orang bisa menjalani hidup seperti itu?

Meski orang-orang menikmati kehidupan zona nyaman mereka, pasti di suatu waktu pernah terbersit pikiran bahwa hidup mereka kok gini-gini saja. Tidak ada kebaruan, hanya mengerjakan yang sudah tersedia dan tak melakukan perubahan berarti.

Semua pilihan kembali lagi padamu. Pengen hidup begitu saja atau pengen mati ae. Tapi kamu kudu menghindari beberapa sikap berikut, biar kamu nggak ngerasa hidupmu gini-gini aja.

Cepat Puas

Jangan diartikan sikap ini sebagai orang yang suka bersyukur, tapi memang dasarnya manusia model begini malas aja berusaha. Jadi, dia belum memberikan seratus persen upaya, namun wis sok-sok an ngomong, “Ealah, gini saja, toh Tuhan udah ngatur rejeki!”

Lah, kamu nggak ngerjain sampai selesai kok wis pasrah ae!

Ucapan tadi itu nyambung sama salah satu kutipan di Al-Quran: “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika mereka tidak mau berusaha mengubah nasib mereka sendiri.”

Tapi, nggak tahu lagi kalau kalean memang males kerja keras untuk menggapai tujuan besarmu. Jadi, ojok ngomong lek ancen rejekimu segitu saja. Faktanya, antum sendiri yang membatasinya!

Mengikuti Arus

Seperti yang sudah disinggung dari awal, hanya ikan mati yang mengikuti arus. Itu bisa diartikan sebagai manusia yang tidak berpendirian atau susah dalam mengambil keputusan.

Doi nggak punya tujuan pasti, hanya mengikuti alur kehidupan dan rancangan Tuhan tanpa ada usaha untuk bergerak atau menentukan pilihan.

Pandangan hidup seperti ini bukannya tanpa risiko. Jangan marah atau sambat kalau orang lain  mengatur segala tindakanmu dalam urusan apapun.

Mengikuti arus bisa diibaratkan sebagai ikut tren. Mudahnya, ketika musim ini laku minuman es karena cuacanya panas, waktu musim hujan yo nggak laku. Hanya orang yang setia pada pendirian atau tujuannya yang bakal bertahan menghadapi tantangan kehidupan.

Tidak Punya Tujuan

Saat manusia sudah mulai memasuki usai yang kian bertambah, ia tak lagi punya semangat menggebu untuk meraih sesuatu. Membatasi diri dengan hal yang mungkin bisa diraihnya dan tak lagi punya cita-cita.

Padahal, hidup seperti itu yang membuat mereka mati dengan perlahan.

Hidup hanya untuk mencari uang agar bisa makan, membuatmu bekerja bukan karena menyukai pekerjaan, tapi lebih untuk bertahan hidup.

Lantas, korelasi atas semua plihan hidup tersebut menjadikanmu nggak punya tujuan. Paling banter sambat nang warkop, “Urip kok ngene-ngene ae!”

Dirimu sendiri asal hidup dan nggak mau repot, malah pengen impian muluk. Yo emploken iku!

Nggak Mau Berproses

Memang enak lihat kesuksesan orang lain, tanpa harus bayangin berapa besar perjuangan mereka untuk meraihnya. Sifat cupet ini sudah tumbuh subur di masyarakat yang terbuai dengan cara instan.

Padahal, semuanya yo ada proses dan temponya tidak sama untuk tiap orang. Ambil contoh, ada kolonel yang baru meraih kesuksesan di usai senja setelah berjualan ayam goreng. Ada juga yang masih umur dua puluh meraih emas olimpiade.

Jadi, jangan pernah bandingin prosesmu dengan orang lain. Ojok sambat ae tapi nggak ndang do it!

Kesimpulannya, bolehlah kamu sambat uripmu kok ngene-ngene ae. Semua orang pasti penah begitu. Tapi, jangan sampai sambatmu menjadi batu penghalang untuk berubah menjadi manusia lebih baik.

Sekian ceramah saya, terima kasih.