Setelah rumah, tempat kedua yang bakal sering kamu kunjungi guna menghabiskan separuh harimu adalah kantor. Bagi kalean yang diterima kerja di kantor idaman, saya ucapkan selamat dan semoga betah. Hehe. Ini karena nggak semua orang bisa diterima di tempat kerja favoritnya.

Ada beberapa hal yang membuat seorang karyawan bisa nyaman bekerja di suatu tempat. Mulai dari gaji yang layak, sarana lengkap, sampai orang-orangnya enak. Untuk faktor terakhir, ini jadi yang paling penting dan sering jadi pertimbangan seseorang untuk tetap bertahan di kantor—meski upahnya tak seberapa.

Nah dalam kantor, kadang kamu bisa menemui orang-orang yang mungkin cocok denganmu, sejalan sama pola pikir dan gaya hidupmu. Namun jika tidak, pilihannya ada dua: tetap tinggal mbetah-mbetahno atau cari pekerjaan lain.

Sebelum menjatuhkan pilihan, lebih baik kamu kenali dulu deh orang-orang macam apa yang bakal sekantor sama kamu. Dari banyaknya ragam manusia, berikut tipikal temen kantor yang mungkin kamu jumpai.

Pendiam

Di saat semua sibuk mengeluarkan uneg-uneg, bahan obrolan, atau lawakan, ada salah satu yang memang mendengarkan tapi sesekali menanggapi. Mereka lebih fokus pada pekerjaan agar cepat selesai dan bisa pulang cepat.

Rame ing gawe merupakan motto hidup golongan ini. Doi lebih senang menyimpan energi untuk hal yang lebih prioritas.

Walau begitu, bukan berarti doi ansos, nerd, atau bahkan introvert. Bisa saja doi tak menemukan topik obrolan yang nyambung dengan teman kantor atau lagi males ae. Sedang tanpa sepengetahuan teman kerja, tibakne doi bacot ae kalau wes ambek temen ngopine. Hmm..

Rame Karepe Dewe

Dia mungkin bisa jadi orang yang senantiasa menghidupkan suasana krik-krik kantor lantaran sudah kehabisan pembicaraan. Kemampuan ini juga kadang ditambahi dengan lawakan-lawakan yang dapat memancing gelak tawa—meski kadang yo garing cuk dan temen-temen terpaksa tertawa demi rasa menghargai.

Tapi sekali lagi, nggak semua yang berlebihan itu baik. Ada juga yang rame terus nggak tahu kapan waktunya berhenti nyocot. Ini jatuhnya annoying, bikin beberapa temen yang lagi kenek deadline malah nggak mood dan kudu ngamok.

Lek wes ngene yo kudu isok milih, antara ngalih panggonan ta masang headsetan. Jancuk!

Public Enemy

Untuk urusan ini, sifatnya tidak bisa absolut, bergantung situasi dan kondisi. Public enemy di sini adalah orang yang punya kebiasaan merugikan banyak orang, sehingga kalau dirinya nggak hadir, bisa jadi bahan obrolan malah sesi curhat tiap karyawan. Biasane ghibah public enemy ini terjadi ketika orangnya nggak ada.

Misal Si A suka ngutang nang konco-koncone, Si B doyan datang telat ke kantor, Si C suka ngabisin konsumsi waktu acara. Nah yo si gaplek iki seng biasane dirasani. Kadang rekan kerja macam begini bisa memengaruhi rekan lain, semacam toxic. Jadi kantor wes koyok drama cuk, sopo seng betah!

Bahan Bully

Terakhir adalah tipe manusia yang selalu jadi bahan bully. Nggak tahu siapa yang mulai, tapi ada saja tukang bully di mana ada satu sosok yang dianggap pecundang. Mungkin sudah sifat alami bahwa yang kuat selalu menindas yang lemah. Sampah!

Teman-teman lain sebenernya yo sakno, tapi mereka cuma ikut-ikut seolah mendukung dan dalam hati mbatin, “untung guduk aku sing dalam posisi iku..”

Ini juga membuktikan sifat manusia yang lebih senang melihat penderitaan orang lain asal dia tak merasakan hal serupa. Hmm. Lek wes kadung ngene, yang dibully bisa saja keluar dari kantor dan nggak mau masuk kerja. Dan paling parah, merencanakan balas dendam ke pelaku.

Walau sebenernya pembully cuma guyon, tapi please lah, nggak onok guyonan sing nggarai loro ati madafaka!

Akhir kata, kamu memang nggak bisa memaksa lingkungan sesuai keinginanmu. Tapi setidaknya kamu bisa memilih, pergi dari sana atau beradaptasi. Heueheueehu..