Amanatia Junda adalah salah satu penulis perempuan moncer dari Jawa Timur. Lahir di Malang dan besar di Sidoarjo, nama Amanatia tengah bergema di dunia sastra Indonesia.

Selain buku petamanya, Waktu untuk Tidak Menikah yang menjadi best seller, ia juga dikenal aktif di program Seniman Mengajar yang diadakan Dirjen Kemendikbud–dan ditempatkan di Banda Neira.

Penulis kami yang baik hati, Mufa Rizal, sempat melakukan wawancara dengan Amanatia Junda. Membahas banyak hal yang mungkin belum pernah dibahas sebelumnya. Tentang sastra, perempuan, dan masih banyak lagi.

Berikut hasil wawancara Mufa dengan Amanatia Junda.

Mufa: Bagaimana cerita awal Mbak Amanatia bisa bergelut di dunia tulis menulis? 

Amanatia Junda: Awalnya, saya suka menulis sejak saya kecanduan membaca ketika duduk di bangku sekolah dasar. Saya pikir, menulis adalah alih wahana saja dari tabiat saya yang suka ngoceh sejak kecil.

Bercerita dan didengar menjadi kebutuhan yang tak dapat saya abaikan, tapi menemukan pendengar yang sabar tentu susah, jadi saya memilih menulis, sembari berharap lebih banyak yang mau membaca cerita saya alih-alih mendengar saya bawel.

Siapa penulis yang menginspirasi Mbak Amanatia jadi penulis?

Dulu, saya tergila-gila dengan J.K. Rowling. Pernah juga Andrea Hirata. Selanjutnya, karena bacaan berkembang dan semakin bervariasi, banyak penulis yang mempengaruhi cara saya membaca fiksi belakangan.

Haruki Murakami, Kazuo Ishiguro, Suzanne Collins dan Arundhati Roy bolehlah saya sebut sebagai sedikit nama yang terus membuat saya tertarik. Saya juga berhutang banyak kepada Kuntowijoyo, Umar Kayam dan Mahfud Ikhwan.

Sehari-hari Mbak Amanatia sibuk apa sih?

Saya sering kesusahan menjelaskan kesibukan saya sehari-hari. Kadang saya benar-benar mengerjakan suatu hal yang berguna, kadang tidak juga. Tidur lama bagi saya  berguna sekali meski saya juga sering merasa hanya membuang-buang waktu.

Intinya, saya menjalani hidup dengan cara kebanyakan pekerja lepas bekerja. Bisa teramat sibuk, bisa sungguh-sungguh luang dan jadi kaum rebahan seharian.

Ceritain sedikit dong tentang karya terbarunya Mbak. Apa yang membedakan karya ini dengan karya sebelumnya? 

Kedua buku itu secara terang-benderang berbeda. Yang pertama, kumpulan cerpen. Yang kedua, novela. Yang satu berisi sekumpulan perempuan sebagai tokoh utama, yang satunya lagi mengenai seorang laki-laki bercerita tentang keluarga besarnya.

Apa alasan Mbak Amanatia memilih bentuk novela ketimbang novel?

Sebenarnya, saya merencanakan membikin buku berseri. Tiap seri tipis saja, jadi bentuk novela sepertinya yang paling cocok untuk serial Keluarga Besar dan Seisinya ini. Seri pertama berjudul Kepergian Kedua yang terbit bulan ini di Buku Mojok.

Seri kedua hingga keempat menyusul. Karena di tiap seri tokoh utamanya berbeda, saya rasa, memberi ruang satu buku penuh untuk satu tokoh seperti membelikan sepetak tanah untuk masing-masing orang agar mereka dapat membangun rumah idealnya sendiri sebebas mungkin.

Belakangan ini beberapa penerbit mengeluarkan buku berjenis novela, apa tanggapan Mbak dengan fenomena itu? 

Novela seperti udara segar untuk pembaca fiksi saya kira. Meski medium ini bukan sesuatu yang baru, tapi belakangan dan saya yakin ke depan akan menjadi tren untuk orang-orang yang semakin mudah lelah membaca buku tebal akibat efek samping penggunaan gawai secara intens.

Selama Oktober sampai Desember 2019, Mbak Amanatia melakukan residensi penulis ke Poso. Ceritain dong bagaimana residensinya. 

Ini pertama kalinya saya bermukim dalam waktu yang cukup lama di Sulawesi, di Poso terutama. Pengalaman nano-nano, ya. Saya banyak belajar mengenai konflik yang pernah terjadi di Poso beserta bagaimana cara orang-orang setempat memandang sejarah kekerasan yang terjadi dalam rentang sembilan tahun dan segala stigma yang masih melekat di kabupaten tersebut.

Sederhananya, di sana saya mencoba merasakan menjadi pendatang yang ingin tahu banyak sekaligus memikirkan segala bias dan jarak yang membuat saya perlu mengendapkan ide cerita awal saya tentang Poso cukup lama.

Mbak Amanatia kan juga tergabung dengan Perkawanan Perempuan Penulis. Itu apa sih?

Perkawanan Perempuan Menulis merupakan kolektif yang awalnya terbentuk ketika kami berenam bersepakat mendaftarkan proposal Merekam Ingatan Perempuan Pasca Reformasi ke program Hibah Cipta Media Ekspresi 2018.

Kami membuat kumpulan cerpen dari enam daerah terkait tema tersebut. Tujuan kami lalu berkembang menjadi sebuah keinginan membentuk sebuah ruang belajar menulis yang nyaman.

Apakah anggota Perkawanan Perempuan Penulis bakal bertambah? Adakah syarat khusus buat gabung? 

Tentu suatu saat akan bertambah. Selalu menyenangkan menambah pertemanan apalagi sesama perempuan dan berkarya bersama. Tapi, sementara ini kami belum menyepakati satu agenda lanjutan maupun mekanisme keanggotaan setelah kumpulan cerpen Tank Merah Muda terbit.

Beberapa usulan kegiatan sudah bermunculan. Perlu waktu khusus untuk membicarakan ini semua secara internal. Mungkin setelah launching Tank Merah Muda di Yogyakarta yang semoga dalam waktu dekat, kami punya kesempatan membahas lebih jauh arah kolektif ini.

Apakah dalam berkarya Mbak Amanatia memang lebih concern pada isu perempuan?? 

Secara alamiah saya cenderung lebih berfokus pada isu-isu perempuan, karena saya perempuan. Namun, saya juga memahami bahwa isu perempuan tidak terpisah dari isu-isu lain yang juga tak kalah rumit dan menarik.

Menghimpun berbagai suara perempuan di kumcer Waktu untuk Tidak Menikah adalah pilihan yang membuat saya setahun belakangan banyak mendengar atau membaca ulasan buku ini dari perspektif feminisme.

Ini justru membuat saya antusias untuk mencoba kemungkinan mengembangkan satu versi lelaki yang dapat dibaca dari berbagai sudut pandang. Mempertanyakan bagaimana caranya menggambarkan laki-laki yang terasa laki-laki dengan seperangkat kerumitannya tersendiri merupakan eksperimen yang mungkin terdengar biasa saja, tapi menantang bagi saya.

Menurut Mbak, bagaimana sih kondisi penulis perempuan di dunia kepenulisan Indonesia saat ini? 

Kondisinya bervariasi karena penulis perempuan di Indonesia pun beragam, dari yang berfokus pada genre religi hingga kriminal. Sekilas mungkin tampak baik-baik saja, tapi ketimpangan masih banyak terjadi dalam memandang tulisan perempuan dan bagaimana cara memosisikan perempuan penulis dalam peta yang begitu banyak bertaburan nama laki-laki penulis mapan.

Apakah mereka sudah banyak mendapat panggung, atau bahkan, menyamai para penulis laki-laki?  

Berbicara tentang panggung, alangkah baiknya juga melihat siapa yang membuat panggung dan mengapa panggung itu dibuat dan bagaimana cara orang-orang menaiki panggung. Semakin banyak perempuan penulis yang bermunculan di atas panggung tentu suatu hal yang positif.

Tapi apakah setelah itu karya mereka mendapat ruang diskusi seperti cara orang-orang membahas karya laki-laki itu persoalan lain.

Ketika membandingkan atau menyandingkan karya para perempuan dan laki-laki baik dari sisi kuantitas maupun kualitas kita akan selalu dihadapkan pada situasi politik, sosial, pasar dan kanonisasi yang melatarbelakangi kelahiran mereka.

Oleh karena itu, dibutuhkan lebih banyak kritikus, ajang apresiasi karya dan media peduli terhadap ekosistem kesusastraan yang sehat.

Kasih rekomendasi buku-buku favorit Mbak sekarang dong.

Saya merekomendasikan trilogi Hunger Games-nya Suzanne Collins saat ini. Entah mengapa. Judul ini loncat begitu saja dari dalam tempurung kepala saya.

Terakhir, untuk pembaca yang ingin menjadi penulis, boleh dong minta tips dan kiat menulis ala Mbak Amanatia?

Saya tidak ahli memotivasi, tetapi saya pikir kerjakan saja apa pun itu yang membuatmu merasa hidup, jauh dari rasa bosan dan bakal terus kamu butuhkan bagaimana pun zaman mengubahmu.