Eka Kurniawan, nama yang tak asing di dunia sastra Indonesia. Selain buku-bukunya yang berhasil diterjemahkan di berbagai bahasa, sekarang Eka juga aktif mengelola Moooi Pustaka, penerbitan yang fokus pada naskah terjemahan. Penulis kami, Mufa Rizal, sempat melakukan wawancara mendalam dengan Eka Kurniawan. Membahas sastra, dan–ya, apalagi selain selain dunia kepenulisan.

Mufa menghubungi Eka Kurniawan via email untuk sesi wawancara ini. Selain karena kendala lokasi yang berjauhan, penulis sekelas Eka Kurniawan mengaku tak punya nomor WhatsApp untuk wawancara. Kalau wawancara Eka Kurniawan selama ini hanya terpaku pada proses kreatifnya, kali ini Mufa juga mencoba membedah ranah penerjemahan novel yang jadi concern Eka saat ini.

Berikut hasil wawancara Mufa dengan Eka Kurniawan.

Mufa: Bagaimana awal berdirinya penerbit Moooi Pustaka?

Eka: Idenya sederhana, karena saya sering baca karya sastra. Saya sering membayangkan buku-buku yang saya baca tersebut, banyak di antaranya asyik, bagus, dan penting, juga bisa dinikmati pembaca Indonesia dalam bentuk terjemahan.

Memang kadang kala ada yang sudah diterjemahkan, tapi sayang sering kali diterjemahkan dari Bahasa Inggris, padahal karya aslinya berasal dari Bahasa lain.

Dari diskusi dengan banyak penerjemah dan pembaca buku di banyak tempat, seringkali hal ini menjadi sejenis kekecewaan. Di Inggris dan Amerika, mulai bermunculan penerbit-penerbit independen yang mengkhususkan diri dalam karya terjemahan.

Saya semakin kepikiran untuk mendirikan hal sejenis di Indonesia. Saya bicara dengan beberapa orang, dan beberapa mengulurkan tangan untuk mewujudkan impian itu.

Seperti apa cita-cita Moooi Pustaka ke depannya?

Misinya sederhana: menerjemahkan karya sastra global dari Bahasa aslinya, dan menerbitkannya.

Apa saja sih kendala menjalankan penerbitan, apalagi penerbit yang berfokus menerjemahkan karya asing dari Bahasa aslinya?

Kendala paling utama, tentu saja penerjemah. Selama ini, industri kita terlalu dimanjakan oleh penerjemahan dari Bahasa Inggris sehingga talenta-talenta penerjemah dari Bahasa lain tidak cukup untuk memperoleh tempat, untuk berkarya maupun bertumbuh.

Memang ada dan beberapa penerbit juga memiliki komitmen yang sama, tapi secara kuantitas masih sangat jarang.

Menurut Mas Eka, bagaimana kondisi penerjemahan sastra asing di Indonesia saat ini?

Kalau secara kuantitas, apalagi jika menghitung penerjemahan dari Bahasa Inggris, tentu sangat subur. Hampir semua penerbit, menerbitkan karya sastra asing dalam terjemahan. Menerjemahkan karya sastra dari Bahasa kedua membuat kita semakin berjarak dari kualitas karya aslinya.

Memang tak ada jaminan bahwa menerjemahkan dari Bahasa aslinya juga akan menghasilkan terjemahan berkualitas, tapi setidaknya meminimalisir jarak Bahasa.

Mas Eka pernah menjadi penerjemah karya asing, contohnya Cannery Row karya John Steinbeck. Apa saja suka-duka menjadi penerjemah atau menerjemahkan karya asing?

Sukanya, tentu saja karena saya merasa belajar dan berproses kembali. Sebagai penerjemah, saya seolah mendudukan diri di kursi sang penulis, menulis ulang karyanya dari jarak sangat dekat sekali.

Selain itu, karena saya menulisnya dalam Bahasa Indonesia, sementara ekspresinya sudah tertuang oleh penulis aslinya, memaksa saya untuk belajar kembali penggunaan Bahasa Indonesia. Memaksa saya menjelajahi kekayaan kosakata Bahasa Indonesia, sekaligus mencoba mengakali perbedaan tata bahasa.

Dukanya, tentu saja kadang-kadang saya terbentur kepada suatu ekspresi yang mungkin tidak saya pahami. Selalu ada konteks dalam setiap karya, tak hanya serentetan kata atau kalimat.

Menerjemahkan kalimat mungkin saja kita bisa bersikap harfiah, tapi konteks seringkali harus dipelajari. Di saat seperti itu, kadang saya harus memecahkan problem satu kata, satu kalimat, atau satu paragraf berhari-hari, untuk mencari tahu konteks yang lebih luas.

Kadang saya harus baca biografi penulisnya, review-review atau perdebatan tentang karya tersebut dan sejenisnya. Dan, dengan semua itu, belum tentu juga berhasil. Bisa saja tafsir saya kemudian ternyata salah.

Tahun 2019, kemarin Moooi Pustaka melakukan debut pertamanya dengan menerbitkan dua novel terjemahan. Untuk 2020 ini, ada rencana apa saja?

Kami ingin memulainya dengan pelan tapi pasti. Tahun pertama hanya menerbitkan dua buku. Tahun kedua tentu kami berharap menerbitkan lebih banyak, tapi juga menahan diri untuk tidak terlalu ambisius.

Kami menargetkan menerbitkan delapan buku di tahun 2020 ini. Ada karya dari Perancis, Inggris. Kami juga mencoba melirik ke karya sastra dari Spanyol, Norwegia, Arab, Italia dan tentu yang lainnya, termasuk kembali menerbitkan karya dari Jepang dan Jerman.

Dari banyaknya karya sastra asing yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, beberapa nama sudah sangat familiar seperti Gabo, Hemingway, Tolstoy dan Murakami. Kenapa tidak ada nama baru yang mungkin bisa jadi referensi lain untuk sastra asing? Kalaupun ada, kenapa penulis tersebut karyanya lolos dari jangkauan pembaca?

Nama-nama itu memang tak terelakkan, bagaimana pun mereka nama-nama terkenal di kesusastraan global. Akan selalu ada penerbit yang menerbitkan karya mereka. Menyangkut nama-nama baru, ya kadang itu menyangkut keberanian penerbit, atau daya jelajah editornya.

Jika penerbitnya memiliki visi dan editornya memiliki pengetahuan luas untuk memperkenalkan suara-suara yang terasa asing, tentu kita bisa melihat beragam karya sastra dari nama-nama yang sebelumnya tidak akrab.

Memang perlu diperkenalkan bagaimana pun, sehingga pembaca pun tahu dan berani mencobanya. Saya rasa seluruh pihak dalam dunia perbukuan dan kesusastraan ya bertanggung jawab untuk melebarkan variasi bacaan ini, sehingga tak tercipta sejenis monokultur. Sejenis selera yang nyaris seragam.

Tahun lalu, Moooi Pustaka menerbitkan karya penulis Jepang seperti Mori Ogai yang membawa referensi baru penulis dari Jepang, tanpa melupakan Murakami, Kawabata maupun Akutagawa.

Kemudian disusul oleh Hans Fallada yang menurut ulasan adalah penulis Jerman yang terkubur dan bangkit kembali‚ÄĒditemukan karyanya. Apa saja patokan Moooi Pustaka untuk menerbitkan karya penulis asing?

Pertama-tama, patokan kami tentu saja karya itu memiliki kualitas, atau memiliki makna penting dalam satu atau beberapa konteks, juga menimbang faktor kesejarahannya dalam jagat kesusastraan. Sebagai contoh, baik Mori Ogai maupun Hans Fallada, selain memiliki kualitas, juga memiliki konteks penting dalam kesusatraan negeri masing-masing.

Novel Fallada juga memiliki konteks penting dalam wacana politik identitas hari ini di seluruh dunia. Tapi, tentu ada pertimbangan-pertimbangan lain. Jika karya atau penulis tersebut sudah diterbitkan penerbit lain, atau bahkan sudah sangat popular di kalangan pembaca, mungkin kami tak akan menerbitkannya.

Setidaknya tidak saat ini. Lebih baik kami mengadvokasi karya-karya yang memang belum terjamah.

Untuk urusan mengurus hak penerjemahan, boleh sedikit bercerita bagaimana sistemnya?

Untuk mengurus hak penerjemahan, tentu ada berbagai cara dan scenario. Kalau karya tersebut sudah public domain, jauh lebih mudah karena tak perlu izin apa pun. Jika masih terlindungi hak cipta, kita harus mencari literary agent-nya, atau berhubungan dengan penerbit aslinya. Kalau sudah bertemu kontak yang tepat, ya negoisasinya kurang-lebih sama dengan penulis lokal.

Kita tinggal bilang, rencananya mau menerbitkan sekian eksemplar, mau kasih royalti sekian, dan mau memberi uang muka sekian. Akan ada negoisasi tentu, tapi secara umum tak jauh berbeda.

Dari sekian penerjemah di Indonesia, adakah penerjemah yang Mas Eka idolakan?

Saya tak memiliki referensi banyak saat ini. Kelemahan saya, sejujurnya, karena saya juga terlalu banyak membaca karya dalam Bahasa Inggris. Ada satu-dua penerjemah yang saya kenal, dan kebetulan saya baca karyanya, tapi rasanya tak adil jika saya menyebut mereka, hanya karena mereka yang saya kenal.

Saat ini lebih baik saya membuka lebar perkenalan saya dengan berbagai penerjemah, dan jika mungkin, bekerja sama dengan mereka untuk memperkenalkan karya-karya terbaik di dunia ke pembaca Indonesia.

Mas Eka dengar-dengar juga suka dengan salah satu girlband Korea bernama SNSD. Kira-kira Moooi Pustaka bakal menerjemahkan karya sastra dari sastrawan Korea? Misalnya Han Kang atau nama yang belum pernah diterjemahkan?

Ada satu-dua penulis Korea yang ingin kami terbitkan, tapi masih melihat antrean buku kami. Tapi, pasti kami akan menerbitkan karya dari Korea juga, sebagaimana kami berharap menerbitkan karya dari berbagai Bahasa, dengan berbagai latar belakang penulisnya.

Bagi mereka yang ingin menjadi penerjemah sastra asing. Apa saja tips atau hal yang perlu dilakukan?

Menjadi penerjemah, sejauh pengalaman saya, tips-nya sama seperti menjadi perenang atau pesepeda. Langsung lakukan. Ambil buku atau karya yang menarik, langsung terjemahkan. Paling mudah, sebagai pemula lebik baik mulai dengan karya-karya public domain, sehingga tak perlu berurusan dengan perkara administrasi legal.

Lalu, berapa sih nominal yang didapatkan oleh penerjemah dari hasil kerja mereka?

Nominal? Saya tak bisa menyebutkannya, karena ini menyangkut rahasia dapur penerbit maupun penerjemah. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya, sekali lagi menceburkan diri jadi penerjemah dan nanti pada akhirnya akan bernegoisasi dengan penerbit. Apalagi pada umumnya ada berbagai skema, tergantung penerbit dan penerjemahnya juga.

Terakhir, untuk pembaca pemula yang ingin membaca sastra asing terjemahan, sebaiknya lebih disarankan membaca buku atau karya sastra milik siapa terlebih dahulu?

Siapa pun bisa dibaca. Tentu menyesuaikan dengan minat masing-masing. Saat ini karya sastra terjemahan sangat beragam, baik dari tema maupun kelompok umur.