DNK

Perempuan Pesisir dalam Kubangan Androsentrisme

Perempuan Pesisir dalam Kubangan Androsentrisme

Tahun 1911 Charlotte Perkins Gilman menulis “kebudayaan androsentris kita” dalam subjudul bukunya The Man-Made World. Sejak saat itu kata androsentris populer di dunia.

Delapan tahun sebelumnya, kata ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang sosiolog yakni Lester F. Ward dalam bukunya The Pure of Sociology terbit pada tahun 1903.

Menurutnya, teori androsentris melihat jenis kelamin laki-laki lebih penting dari perempuan. Dengan kata lain, androsentris adalah berpusat pada laki-laki. Padanan kata yang tepat untuk androsentris adalah maskulinis dan falosentris. Dan lawan kata bagi androsentris adalah gynosentris.

Seberapa dalam androsentris merusak dan merasuk pada kebudayaan Indonesia, adalah pertanyaan yang sedikit licin. Tentang bagaimana cara kita berbahasa misalnya, androsentris terasa sangat akrab dan hangat.

Bahasa Inggris terdapat kata yang berpasangan, yaitu “husband and wife” yang berarti suami dan istri. Penggunaan kata suami yang mendahului istri memperlihatkan dengan jelas, bahwa dalam struktur mayarakat tersebut, laki-laki adalah primer dan perempuan sekunder.

Sayangnya, struktur bahasa itu juga eksis dalam frasa bahasa Indonesia kita.

Barangkali bagi laki-laki yang nyaman dengan segala surplus justice hal tadi akan dianggap sepele, tapi bagi perempuan yang akrab dengan injustice, tidak demikian. Bahwa relasi kuasa yang tidak berimbang antara lelaki dan perempuan tidak akan menghasilkan apapun keculi jenis ketidakadilan yang purba dan abadi.

Adalah Gloria Jean Watkins, salah satu perempuan yang berani mendobrak bahasa dan kata dalam kungkungan androsentris. Aktivis asal Kentucky, Amerika Serikat, ini menggunakan nama “bell hooks” sebagai nama pena.

Sepintas tidak ada yang istimewaHooks mengambil nama pena tersebut dari nama ibu dan neneknya. Tapi jika kita teliti, ada yang tidak lazim dari nama tersebut.

Struktur penulisan nama sejatinya diawali dengan huruf kapital, tetapi Gloria Jean Watkins menolak dan mendobrak struktur tersebut. Ia lebih memilih menggunakan semua huruf kecil pada namanya. "bell hooks", bukan "Bell Hooks".

Dalam kacamata bell hooks, struktur penulisan nama yang harus diawali dengan huruf kapital adalah salah satu upaya penyelundupan patriarki yang mencerminkan sikap injustice, maka ia menganggap bahwa tidak boleh ada dominasi sepihak dalam hal apapun.

Itu sebabnya, tidak boleh ada huruf yang lebih besar berdampingan dengan huruf yang kecil dalam satu kalimat. Maka, kita bisa melihat, kendati ada androsentris yang diselundupkan dalam kata dan bahasa, tetap ada perlawanan yang sengit dari manusia yang sadar. Di mana ada penindasan, di sana ada perlawanan.

Lebih jauh lagi, dunia akademik kita memiliki tatanan ilmu pengetahuan yang sangat androsentris, berpusat pada kepentingan laki-laki. Contohnya, bias-bias yang ada di psikologi.

Dulu, orang hanya meneliti pria kemudian hasilnya digeneralisasi untuk perempuan. Atau karena peneliti di zaman dulu lebih banyak laki-laki maka masalah-masalah atau penelitian yang banyak dikaji dan dikembangkan melulu yang menarik perhatian mereka, dan tidak bertujuan untuk mengakomodasi perempuan.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak misalnya, kita selalu melihat bahwa perempuan dan anak tersebut memiliki karakteristik yang menyebabkan orang ingin melakukan kekerasan. They blamed the victim.

Ada banyak sekali kritik terhadap penelitian akademik yang konvensional, misalnya gender yang tidak dilihat sebagai alat analisis yang penting. Mereka tidak menyadari adanya ketidakseimbangan posisi antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat

Kritik lain, ada standar ganda dan stereotip pada laki-laki dan perempuan. Misalnya, masalah seksualitas.

Mengapa orang mempermasalahkan perempuan harus perawan sementara mengabaikan dan tidak mempertanyakan keperjakaan laki-laki. Perempuan yang tidak perawan selalu mendapat stigma buruk, sementara lelaki yang tidak perjaka tak pernah dipakai sebagai alat evaluasi.

Perempuan Pesisir

Badan Pusat Statistik menyebutkan terdapat 964,2 ribu rumah tangga nelayan di Indonesia pada 2014. Dari jumlah tersebut, Banten menduduki peringkat pertama dengan populasi mencapai 84,6 ribu. Selanjutnya, Sumatera Utara menjadi provinsi kedua terbanyak dengan 58,2 ribu dan disusul D.I. Yogyakarta dengan 58,2 ribu rumah tangga nelayan.

Dalam konteks ini, rumah tangga nelayan adalah rumah tangga yang melakukan aktivitas memancing ikan di laut. Usaha dilakukan oleh anggota keluarga maupun nelayan yang dipekerjakan.

Yang kemudian menjadi fokus penulis dalam wacana rumah tangga nelayan adalah bagaimana pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin pada lingkup keluarga di masyarakat pesisir Banten.

Pembagian peran dalam keluarga menjadi dasar dari pembagian peran tenaga kerja masyarakat. Oleh karena itu, dalam masyarakat pesisir Banten membagi produksi dari segi gender dan ruang (sphere) yang disebut ruang “publik” dan “privat”.

Laki-laki pergi ke laut dan menangkap ikan sementara perempuan mendapatkan jatah yang lebih ringan dengan memilih hasil tangkap atau mengolahnya menjadi ikan asin. Tetap, perempuan bertugas di “rumah”, sedangkan laki-laki bekerja di “lapangan”.

Pada beberapa kasus, penulis mendapatkan fakta (penelitian di Kecamatan Sumur, Pandeglang) bahwa upah perempuan dihitung berdasarkan jam, dengan upah sebesar Rp 5000,-. Hal ini membuat peran perempuan seolah sepele.

Susan Herawati, Sekjen KIARA, lembaga yang bekerja untuk kesejahteraan nelayan pesisir, menyebut hasil studi lembaganya mengindikasikan perempuan nelayan berkontribusi besar dalam perekonomian sektor perikanan. Menurutnya, kontribusi perempuan nelayan dalam keluarga nelayan mencapai 48 persen.

Perempuan diberi tanggung jawab untuk ruang privat, sedangkan lelaki diberikan akses ke ruang publik yang disebut juga dengan lokus dari imbalan kehidupan sosial yang sesungguhnya uang, kekuasaan, status, kebebasan, peluang untuk tumbuh dan berkembang.

Pembagian kerja laki-laki dan perempuan sesungguhnya didasari oleh ideologi patriarki atau supremasi laki-laki yang ada di wilayah privat atau domestik maupun publik.

Keluarga sebagai satu tempat pertarungan di mana pembagian kerja secara seksual melemahkan dan merugikan perempuan dan mereproduksi secara ketat pemisahan peran gender antara laki-laki dan perempuan.

Pembagian kerja secara seksual dalam rumah tangga dan dunia kerja menunjukkan secara empirik pembedaan peran gender dalam keluarga dan membentuk pola bagi ketimpangan gender di dunia kerja.

Upaya Menghapus Androsentrisme

Upaya kita untuk menghapuskan dominasi dari kaum lelaki terhadap kaum perempuan patut diwaspadai. Apakah langkah kita adalah murni untuk menegakkan new kind of justice atau disertai dengan kepentingan di dalamnya, baik kepentingan politik, sosial, ekonomi, atau budaya.

Kartini kita kini, berada dalam pusaran androsentrisme. Konstruksi masyarakat kita tidak lagi berlandaskan kepada asas human centered atau antroposentrisme, tetapi berangkat dari man centered dan androsentrisme yang penuh dengan logika patriarki.

Logika itu mendasari perilaku dominatif, cara pandang manipulatif yang hanya menganggap perempuan sebagai entitas parsial untuk dieksploitasi serta ditundukkan untuk kepentingan laki-laki.

Langkah paling sederhana untuk menghapuskan androsentrisme secara perlahan dari bumi Indonesia adalah dengan membaca, memahami, dan mempraktekkan gagasan Ethics of CareEtika Kepedulian dari Carol Gilligan.

Etika Kepedulian lahir dari kritik Gilligan terhadap konsep keadilan yang semu dan androsentris. Keadilan semu yang dimaksud Gilligan adalah konsep keadilan yang bias, yang hanya menggunakan standar moral laki-laki sebagai tolak ukur.

Padahal, suatu konsep yang hanya menggunakan standar moral laki-laki sebagai tolak ukur keadilan adalah ketidakadilan itu sendiri, Sebab konstruksi injustice antara laki-laki dan perempuan sangatlah berbeda.

Ketidakadilan pada laki-laki adalah karena tidak terpenuhi hakego, sedangkan jenis ketidakadilan pada perempuan adalah akumulasi dari segala jenis ketidakadilan baik politik, ekonomi, sosial, budaya, agama bahkan ketidakadilan tentang masa depan yang cerah.

Itulah mengapa jenis ketidakadilan pada laki-laki kerap disebut misfortune sedangkan pada perempuan disebut misery.