DNK

He Netizen, Berhenti Membandingkan Perempuan!

He Netizen, Berhenti Membandingkan Perempuan!

Saya lupa-lupa ingat kejadian tepatnya. Hari itu saya mengunggah satu postingan tentang diri saya. Lalu saya ingat betul ada netijen yang komen kira-kira begini: "Sana bisa baking, ngrajut, nyanyi, poinnya 3-2 menang Tita Rosie". Lupa-lupa ingat saya. Jelasnya postingan itu tidak ada hubungannya dengan Tita Rosie.

Intinya, rupanya netijen itu sedang membandingkan saya dengan Tita Rosie, salah seorang netijen berprestasi segudang yang juga adalah salah satu kawan dekat saya.

Ya jelas saja saya menggerutu. Jengkel. Lho maksudnya apa jal. Saya kok dikalah-kalahkan sama Tita Rosie. Kalaulah penilaiannya fair tentu saja saya yang menang. Misalnya pada kompetensi berat badan. Jelas menang saya to daripada dia. Kenapa kok nggak dinilai sekalian itu berat badannya? Kurang kerjaan betul kan netijen itu.

Apa dia pikir sedang jadi juri di ajang Miss Dumay Universe yang kami berdua turut serta berkompetisi di dalamnya sehingga dia merasa berhak jadi juri dan memberikan skor untuk kami berdua?

Tapi netijen nir etika tur keluwihan tjangkem itu memang banyak sih. Tak ada habisnya kalau mau membicarakan mereka. Jempol netijen itu mirip mulut tetangga. Kadang pedas, tanpa adab dan merontokkan mental.

Baru-baru ini saya membaca unggahan viral tentang Sherly Annavita. Unggahan itu berisi tentang sederet prestasi Mbak Sherly dengan tambahan frasa "perempuan cantik berhijab". Penulisnya tampak sekali memberikan penekanan kuat pada frasa tambahan ini.

"SHERLY ANNAVITA. Perempuan cantik berhijab ini Master Of Social Impact bla bla bla. Perempuan cantik berhijab ini juga lulusan Australia Bachelor of bla bla bla. Perempuan berhijab dan smart ini Leader of Pasukan Garuda Putri bla bla bla. Perempuan berhijab yg cerdas ini sebagai Representative of Indonesia in bla bla bla."

Total ada 9 kali frasa perempuan cantik berhijab disebut-sebut dalam tulisan pendek itu. Dengan penutup yang sangat epic menurut saya.

"Tsamara (Amaniy) lewat, kagak ada apa-apanya."

Oh plis deh maksudnya apa coba, Maemunah? Kenapa tiba-tiba nama Tsamara muncul di sana? Kenapa Tsamara jadi kagak ada apa-apanya? Metode penjurian macam apa yang dipakai? Bagaimana dengan Kalis Mardiasih di hadapan Sherly Annavita? Lalu bagaimana pula nasib Tita Rosie dan Nia Perdhani dalam semesta ajang juri-jurian ini?

Kemudian juga mengapa frasa perempuan cantik berhijab disebut-sebut berulang-ulang yang mengindikasikan ada penekanan pada frasa tersebut? Penulis dan ribuan komentator plus belasan ribu orang yang membagikan unggahan dengan perasaan bangga yang membuncah-buncah itu mungkin tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan justru mengecilkan marwah perempuan berhijab.

Seolah-olah jarang sekali ada perempuan berhijab yang berprestasi sehingga perlu sekali diglorifikasi ketika ada perempuan berhijab berprestasi. Seolah-olah image perempuan berhijab saat ini sedemikian buruk, sehingga dia merasa perlu meneriakkan pada dunia bahwa perempuan berhijab juga bisa berprestasi.

Ini jadi hampir seperti glorifikasi atas pejabat-pejabat publik yang menurut penulisnya kinerjanya bagus dan bersih dari korupsi. Saking sulitnya menemukan pejabat publik yang kinerjanya bagus dan bersih dari korupsi, maka perlu sekali glorifikasi ketika ada pejabat publik yang memiliki rekam jejak seperti itu.

Ini kan ironis sekali di saat kinerja bagus dan bersih dari korupsi semestinya jadi mental dasar para pejabat publik. Kok bisa-bisanya itu jadi prestasi yang luar biasa.

Saya sama sekali tidak merasa kondisi muslimah berhijab sudah sedemikian buruknya sehingga perlu narasi-narasi demikian untuk mengglorifikasi prestasi perempuan berhijab. Sherly berhijab dan berprestasi di bidang yang ia sukai. Tsamara tidak berjilbab dan berprestasi juga di bidang yang ia sukai.

Sah-sah saja membandingkan pemikiran keduanya atas satu atau lain hal untuk menyatakan keberpihakan pada salah satunya. Tapi membandingkan skor keduanya atas laku beragama mereka adalah tidak beradab.

Hijab bagi muslimah yang meyakininya sebagai syariat semestinya bukan sesuatu hal yang patut dibanggakan. Levelnya setara dengan sholat atau bersedekah atau syariat lainnya yang dijalani dalam laku penghambaan pada Illahi Rabbi.

Dalam keheningan, tanpa butuh puja puji semesta karena pelakunya menyadari betul ia tak pernah tau bagaimana penilaian Rabb-nya atas laku yang ia jalani. Apalagi Tsamara Amaniy juga muslimah sama seperti Sherly Annavita.

Bahwa dia tidak berhijab, atau memiliki pandangan-pandangan politik yang berbeda dengan sampeyan, tak ada hak sedikitpun bagi sampeyan untuk merendahkannya.

Tsamara dan Sherly seperti juga Tita Rosie dan Nia Perdhani masing-masing memiliki peperangan mereka sendiri. Kecuali mereka berada dalam panggung yang sama untuk berkompetisi, adalah suatu perilaku tidak punya sopan santun ketika kalian membanding-bandingkan, meninggikan salah satunya dan merendahkan yang lain.

Apalagi kalau dasar penilaiannya adalah laku syariat yang semestinya bukan domain kalian menilainya. Katanya mau digdoyo tanpo aji, menang tanpo ngasorake. Kok selalunya butuh ngasorake (merendahkan) liyan untuk mengglorifikasi kebaikan diri?