Saya tidak paham kalau di dunia ini ada orang yang langsung bisa merasa paham isi satu buku yang tebalnya beratus-ratus halaman setelah membaca sebuah cerita tentang buku itu sepanjang 2-3 paragraf saja.

Bahkan, apabila ditunjukkan 1-2 halaman isinya pun saya tidak menyangka ada orang yang kemudian bisa merasa paham tentang buku itu, dan karena sudah paham, jadi enggan membeli.

Dalam benak saya, orang sampai pada keputusan untuk membeli buku itu macam-macam alasannya. Bisa jadi karena pengarangnya, bisa karena penasaran buku tersebut banyak dibicarakan orang, atau karena membaca komentar para pre-reader yang biasanya ditampilkan di sampul buku, atau karena sedang membutuhkan literatur terkait dengan tema yang diangkat buku tersebut.

Tidak, saya tidak sedang main kontra-kontraan sama spoiler di dunia perbukuan. Walaupun nggak seheboh anti spoiler radikal perfilman yang bisa melaknat-laknat tukang spoiler, saya rasa di dunia perbukuan pun ada wacana semacam itu.

Meskipun, kalau dipikir-pikir, spoiler yang berbentuk cuplikan-cuplikan adegan sekalipun dalam dunia film tetap dibutuhkan oleh calon penonton. Dan sengaja dilakukan oleh para produser untuk alasan pemasaran.

Dunia periklanan film bahkan mengenal ada trailer yang panjangnya antara 2-3 menit dan isinya potongan-potongan adegan, ada teaser yang durasinya lebih pendek dan tujuannya emang semata buat menggoda supaya calon penontonnya geli-geli gemes jadi bernapsu ingin nonton, atau clip yang durasinya jauh lebih pendek lagi.

Selain tiga bentuk video bocoran adegan masih ada featurette, TV-spot, dan behind-the-scenes yang mana semuanya pastilah mengandung cuplikan-cuplikan adegan dan semua itu tidak apa-apa.

Apakah dengan menonton 2-3 menit video trailer bisa membuat calon penonton paham garis besar isinya lalu malah jadi ogah nonton? Ya bisa jadi. Kalau begitu, kenapa harus dibuat ada video-video itu segala? Karena pada dasarnya semua produk industri itu sudah memiliki target pasar yang dibidiknya.

Bodoh sekalil sajalah kalau ada pelaku industri yang menjual produk tanpa menentukan segmentasi pasarnya terlebih dulu. Jadi kalau setelah melihat video trailer suatu film seseorang malah justru memutuskan untuk tidak melihat filmnya, ya itu semata karena dia memang bukan kelompok konsumen yang disasar.

Demikian pula halnya dalam proses memasarkan buku. Tere Liye jualan novel yang laku segitu banyaknya, tiap hari ya dia bahas aja terus itu novel-novelnya.

Kadang dia kasih bocoran barang satu atau dua halaman di status-status fanpage-nya, sekadar untuk menggoda pasar. Biar geli-geli gemes dan penasaran sama keseluruhan ceritanya.

Misal kamu bocorkan 10 halaman saja dari 200 halaman kan itu hanya 2 persen dari alur cerita. Kurang lebih sama dengan 3 menit dari 90 menit trailer film.

Anti spoiler-spoiler club itu biasanya hanya akan ngamuk kalau sebagian besar bahkan sampai ending filmnya dibeberkan. Saya, meskipun nggak bisa merasakan bagaimana sakit hatinya mereka, ya udah aja pilih mengalah daripada dimaki dan dilaknat kena azab tukang spoiler.

Bagi saya pribadi yang emang enggak sabaran, spoiler adalah anugerah.

Wong kalo baca novel aja kadang saya lompat dulu ke halaman terakhir. Apalagi nonton drakor serial itu. Wajib banget tau ending-nya dulu karena saya enggak bisa mentolerir kisah-kisah yang sad ending. Bagi saya, penulis novel atau skenario yang ngasih sad ending buat para pembaca atau penontonnya itu yang boleh dilaknat. Tukang spoiler jangan.

Tapi itu kan novel atau film ya. Masih masuk akal kalau ada orang yang benci sekali dengan spoiler atau cuplikan adegan. Karena bisa mengganggu orgasme… eh, kenikmatan menonton.

Ya kan kehilangan perasaan berdebar-debar karena udah tau jalan ceritanya itu mirip kehilangan orgasme sih. Jadi bisa dimaklumi.

Masalahnya adalah sungguh rasanya tidak masuk akal kalau ada orang yang memposisikan buku-buku literatur, atau kumpulan essai, atau kumpulan cerpen atau film dokumenter dengan cara pikir yang serupa.

Membaca buku-buku seperti itu kan tidak sama dengan membaca novel. Kita perlu membaca semua bagiannya untuk memperoleh informasi-informasi yang kita butuhkan.

Masa iya orang bisa enggak jadi beli buku Biografi Gus Dur karya Greg Barton yang tebalnya 500-an halaman itu hanya karena sudah membaca 3 paragraf cerita tentang isinya?

Kalau ada yang begitu, saya kok yakin orang itu emang nggak niat beli alias ya memang enggak usah diperhitungkan keberadaannya karena memang bukan tipikal orang yang haus bacaan tentang itu.

Jika dalam film ada trailer, teaser, dan aneka macamnya itu, dalam dunia perbukuan juga ada dikenal yang namanya blurb, resensi, sinopsis, dan review. Masing-masing beda gaya penulisannya, beda sudut pandang penulisnya, dan beda tujuannya.

Blurb (tulisan yang biasanya ada di sampul belakang buku) memang ditujukan sebagai konten pemasaran. Ia adalah tulisan promosi, rentet kalimat atau paragraf pemikat agar buku itu layak beli-baca.

Di dalam blurb biasanya dimuat juga cuplikan isi bukunya. Diambil dari bagian buku yang dianggap bisa menyihir pembaca agar penasaran, yang kemudian dibarengi pula empat atau lima atau bisa juga lebih kalimat-kalimat ‘sihir’ lainnya.

Gaya blurb ini yang saya pakai dalam karir menjual buku melalui platform sosial media. Terkadang, saya hanya menuliskan ulang saja blurb yang ada di sampul belakang buku, terkadang saya ubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan gaya tutur saya.

Terkadang, tidak saya pakai sama sekali dan saya gunakan blurb ala saya sendiri yang bisa saja lebih panjang dari blurb aslinya. Rasanya sah-sah saja apa yang saya lakukan itu.

Blurb ya jauh sekali berbeda dengan resensi. Orang membuat resensi tujuannya untuk membahas konten suatu buku. Ada kaidah-kaidah yang perlu ditaati untuk bisa membuat naskah resensi yang bagus seperti yang dimuat di koran-koran nasional itu.

Peresensi harus sudah bisa membuat analisis tentang isi termasuk jelek-jeleknya dan baik-baiknya, membuat kritik, dan membuat perbandingan dengan karya-karya serupa lainnya untuk meneguhkan analisisnya.

Di platform media sosial, saya pikir sah-sah saja membuat konten marketing buku sejenis dengan blurb yang diperpanjang isinya. Sah-sah saja memberi informasi mengenai isi buku kepada para pengunjung toko/calon pembeli. Termasuk memperlihatkan daftar isinya.

Kalau gara-gara itu lantas calon pembeli malah kabur gimana? Lha, ya ikhlaskan saja. Toh kalau mereka pergi ke toko offline sebangsa Gramedia malah bisa yak-yak’an membredel plastik pengemas bukunya lantas baca-baca dulu isinya. Kalau enggak cocok, ditinggal begitu saja.

Jadi, Gaes, inti dari semesta pembahasan tentang spoiler, trailer, teaser, burger, mblenger, apalah-apalah itu adalah janganlah suka menyama-nyamakan hal-hal yang tidak sama.

Nggak semua cuplikan adegan itu spoiler yang patut dilaknat-laknat. Nggak semua pembahasan tentang buku itu resensi yang harus memenuhi kaidah-kaidah resensi. Bisa saja itu adalah blurb atau sekadar copywriting saja. Pintar-pintarnya penjual dalam memasarkan dagangannya supaya pembelinya tertarik untuk membeli.

Kalau nggak pengen beli ya nggak usah pakai alesan “gara-gara udah baca blurb-nya jadi mengerti garis besar isi bukunya dan nggak pengen beli…”

Ah, elaaah! Dah, jajan cilok aja sana ga usah jajan buku!