“Apa yang kau bicarakan? Apa kau sudah gila?! Putraku punya masa depan yang cerah dengan kariernya. Bagaimana bisa kau bersikap begini impulsif?”

Ibu mertua Ji Young marah ketika mendengar rencananya perihal kembali bekerja, padahal suaminya sudah setuju dan untuk menggantikan baby sitter yang tak juga mereka dapatkan, suaminya akan mengambil cuti orang tua selama setahun untuk mengasuh Ah Young, putri kecil mereka yang masih batita.

Saya sih tidak paham apakah paternity leave (cuti untuk mengasuh anak yang masih kecil) di Korea memang benar bisa sampai satu tahun atau ini hanya wacana saja di film yang diangkat dari novel Kim Ji-young: Born in 1982 ini.

Ji Young suka bekerja. Sebelum punya anak, ia bekerja. Waktu itu hidupnya terasa “hidup”, penuh semangat menghadapi hari, ia begitu mencintai pekerjaannya. Tapi seperti yang dialami oleh berjuta-juta wanita di bumi ini, ia kemudian menikah, punya anak, lalu mendadak dunianya menjadi sangat berbeda. Tiba-tiba saja satu-satunya pilihan yang tersedia baginya adalah berhenti bekerja dan mengabdikan diri untuk mengurus keluarga.

Lama-lama Ji Young jadi sering bertingkah aneh. Kadang ia berbicara seolah ia adalah ibunya, neneknya, atau kakak perempuannya yang sedang membela dirinya, ketika ada perkataan orang lain yang melukai hati atau mengingatkan pada kesedihannya.

Suami Ji Young menyadari ada yang salah dengan istrinya. Tapi tidak dengan Ji Young. Ia merasa fisiknya baik-baik saja, hanya mudah sekali merasa sedih dan setiap kali matahari terbenam ia merasa kosong.

Itu adalah sedikit cerita dari film Kim Ji-young: Born in 1982 yang sudah mulai tayang sejak bulan lalu.

Kim Ji Young mengisahkan kehidupan wanita Asia, belahan bumi bagian timur, yang konon ingar bingar seruan feminisme lebih lambat bergaung daripada di barat. Di belahan bumi bagian ini, jika perempuan yang sudah punya anak kecil teriak-teriak minta me time atau bepergian seorang diri, biasanya masyarakat atau minimal sanak kerabat akan segera mencibirnya, seolah-olah ia adalah ibu yang tidak bertanggung jawab dan egois.

Namun ternyata, kisah Nicole Barber dalam film Marriage Story menggambarkan bahwa diskursus tentang bagaimana semestinya perempuan menempatkan dirinya setelah menikah dan punya anak ternyata bukan hanya domain orang-orang Timur yang katanya lebih patriarkis.

Nicole yang lahir dan tumbuh di Amerika, di daratan tempat gaung perjuangan feminisme menemukan tempat terbitnya, ternyata tak jauh berbeda.

Nicole tumbuh di kawasan perfilman Los Angeles, di tengah-tengah kehidupan aktris, produser, sutradara, dan tetek bengek kehidupan layar kaca lainnya. Tapi, pertemuannya dengan Charlie membuatnya jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah, kemudian mengikuti Charlie beserta seluruh peri kehidupannya

Ia meninggalkan kariernya di dunia film yang sedang beranjak naik, bergabung dengan Charlie di dunia seni teater yang lebih sepi dan sederhana.

Nicole menggambarkan Charlie sebagai laki-laki yang cerdas, kreatif, pemberani, pantang menyerah, dan sangat mandiri. Charlie mengerjakan banyak pekerjaan rumah tangga, bisa menerima semua suasana hati Nicole dengan sangat stabil, tak mudah menyerah ketika Nicole marah.

Charlie juga suka menjadi ayah, ia menyukai segala kerepotan menjadi ayah seperti menghadapi tantrum, bangun malam hari, dan rela tidurnya terganggu. Rasanya akan tampak seperti tidak bersyukur sama sekali ketika memiliki laki-laki dengan segala kebaikan itu, kemudian seorang istri masih menganggapnya kurang dan bahkan meminta bercerai, bukan?

Jadi, apa masalahnya? Apa yang membuat Nicole begitu terluka sementara suaminya adalah laki-laki yang baik?

Akarnya adalah, suara hati Nicole ternyata tak bisa dipaksa untuk hanya menerima eksistensinya sebagai “konco wingking”. Ia rindu melakukan hal-hal yang membuat orang melihatnya sebagai Nicole saja, bukan sebagai istrinya Charlie atau ibunya Henry.

Ia ingin punya karya, diapresiasi atas karyanya, pergi ke tempat-tempat yang diinginkannya, atau membeli barang-barang sesuai seleranya. Tapi Charlie, seperti berjuta laki-laki di dunia ini, tak paham perasaan-perasaan seperti itu.

“Aku nonton film dokumenter tentang George Harrison dan aku berkata pada diriku sendiri, ‘Jadilah seperti istri George Harrison. Jadi istri, ibu, sudah cukup.’ Lalu aku sadar aku bahkan tak bisa mengingat namanya. Dan tiba-tiba tawaran casting datang. Ini syuting di LA, dibayar mahal.

“Mungkin terdengar bodoh tapi setidaknya ini milikku. Andai saja dia memelukku dan berkata, ‘Sayang, aku sangat senang dengan petualangan barumu. Tentu saja aku mau kau punya sepotong duniamu sendiri’, kami mungkin tak ‘kan bercerai. Tapi dia menertawakannya, dia cemburu, dan lalu dia sadar soal uang itu.

Dia bilang aku bisa menyalurkan kembali uang itu untuk teaternya. Saat itulah aku sadar, dia sungguh tak memandangku. Aku memintanya menyebutkan nomor teleponku, dan dia tidak tahu. Jadi, aku memutuskan pergi,” kata Nicole pada Nora, pengacaranya.

Aduh, Sis Nicole, jangankan memahami gejolak perasaan kaum perempuan setelah menikah dan punya anak, bahkan perdebatan di masyarakatku sini masih seringkali berkutat pada pantas atau tidak pantas perempuan berpikir seperti itu.

Saya saja nih ya, sudah hampir 12 tahun menikah, baru sekali saja pergi ke luar kota menginap sendirian untuk kepentingan saya sendiri, itu pun kursus ya alasannya. Bukan buat hal-hal non prinsipiel seperti misalnya piknik sendirian atau bersenang-senang ketemu teman-teman. Bah, apa kata duniaaa… hahaha. Oke, ini sambat.

Saya juga pernah merasa menjadi orang yang murung dan sedih melulu menjalani hari. Merasa kosong, jenuh, tak berharga. Berulang kali saya katakan pada diri: kurang apa lagi, aku punya suami yang baik, yang selalu terlibat dalam pengasuhan anak, selalu bersedia berbagi pekerjaan rumah tangga, tak pernah aneh-aneh di luaran, bekerja dengan penuh tanggung jawab, nggak pelit…

Ah, daftarku pasti akan panjang kalau mau mencatat kebaikan-kebaikannya. Tapi, mengapa aku masih saja merasa murung dan sedih. Rasanya kok jadi seperti tidak bersyukur.

Sayangnya, menasihati diri secara konsisten ternyata juga tidak menyembuhkan kesedihan. Akhirnya, saya memutuskan untuk bekerja. Karena tak ingin menimbulkan konflik dengan orang-orang di sekitar saya apabila mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka, maka saya memulai dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang bisa saya lakukan sendiri tanpa mengganggu siapapun. Segala sesuatu di rumah tetap berjalan seperti biasa.

Ternyata saya menikmati semua yang saya lakukan. Mengelola warung online kecil lewat Facebook mempertemukan saya dengan banyak orang, mereka mengapresiasi masakan saya, mengapresiasi cara saya berinteraksi dengan orang-orang, sehingga saya kembali merasa berharga.

Bekerja juga memungkinkan saya bepergian keluar rumah tanpa ada yang bisa mencibir-cibir keluyuran terus. Ya karena saya sedang bekerja, mereka mau bilang apa kalau alasannya bekerja, hah! Dendam ini namanya, Alehandro, hahaha.

Saya senang pergi ke pasar induk dan dikenali oleh para pedagang cabai di sana. Saya menikmati pergi ke pasar ikan dan disambut oleh pedagang ikan langganan dengan obrolan khas pasar yang ramai. Saling ejek, saling teriak, gembira. Saya menikmati pulang dari pasar dengan membawa belanjaan seperti tukang sayur mau ider dagangan.

Saya menikmati kesibukan packing, saya menikmati berkejaran dengan waktu supaya paket bisa sampai tepat waktu di ekspedisi dan ikan-ikan terangkut sesuai jadwal. Saya menikmati semuanya. Saya berbelanja barang-barang yang saya inginkan tanpa beban karena cashflow kami membaik dengan bantuan pemasukan dari saya.

Dan ketika orang-orang terdekat saya mengapresiasi apa yang sudah saya lakukan, hati saya makin mekar. Saya tak lagi sedih dan murung karena merasa tak berdaya dan tak berharga. Sungguh perasaan tak berharga adalah seburuk-buruk emosi negatif, dan itu sangat merusak.

Jadi, dear bapak-bapak suami, dan ibu-ibu istri, bagi sebagian orang bekerja itu bukan hanya masalah uang, uang, dan uang saja. Bukan juga tentang memanjakan ego atau mau menang sendiri. Kadang bekerja itu justru obat yang menyembuhkan mereka dari emosi negatif yang tak cukup disembuhkan dengan pelukan atau pujian saja.

Toh di dunia ini ada orang bekerja dan berbuat seenaknya mengabaikan keluarga, pun ada orang yang tidak bekerja tapi melakukan hal-hal buruk yang sama. Jelas bukan bekerja atau tidak bekerja biang keroknya.

Banyak perempuan punya suara hati yang mendorong mereka untuk selalu aktif dan berkarya di masyarakat, dalam berbagai bentuk. Memaksa mereka menafikan suara itu dan menerima takdir sebagai pengurus keluarga saja, bisa berujung membuat mereka sakit jiwa, membuat mereka membangun tembok pertahanan yang kokoh hingga kau tak akan lagi diizinkan memasuki hatinya. Pikirkan dan khawatirkan itu, wahai Society!