DNK

Ngeramut Orang Dengan Gangguan Jiwa Gak Semudah Cocote Netizen

Ngeramut Orang Dengan Gangguan Jiwa Gak Semudah Cocote Netizen

Artikel-artikel yang menuliskan tentang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) sudah banyak sekali tapi entah kenapa tiapkali muncul kasus yang melibatkan ODGJ, netizen selalunya nyangkem asal njepla asal mangap.

Apa mungkin memang sebagian besar netijen beli smartphone khusus buat berantem sama netijen lain?

Ya kalau begitu biar saya ikut meramaikan ring ODGJ ini.

Sebuah komentar terbaca oleh saya di suatu thread pertempuran tentang ODGJ.

"Tapi ya kali gila... Bisa nyetir mobil ga nabrak nabrak mbak..”

Bisa tau jalan pulang..

Kalau ada riwayat sakit jiwa ya udah sih masukin RSJ (Rumah Sakit Jiwa).. Minum obatnya sekalian kan.. Jadi kalau dia pura pura sakit jiwa juga jadi beneran gila kali tuh orang.. Akutuh mendukung ini. Soalnya selama ini yang ngaku-ngaku gila habis kejadian nyerang entah ulama robek robek Al Quran berkeliaran bebas kaya orang normal.

Harusnya ya kalau beneran gila ga main dibebasin aja tapi diobatin masukin RSJ. Kasih obat sesuai penyakitnya . Begitu...

Biar kapok sekalian.. abis itu ga bisa alesan sakit jiwa lagi..."

Dan komentar-komentar sejenis ini banyak sekali saya temui. Mungkin mereka taunya ODGJ itu ya orang gila yang sering mereka temui di jalanan kadang tanpa busana secuilpun menempel di tubuh mereka. Bagi saya, jelas komentar-komentar seperti itu muncul dari orang-orang yang tidak pernah bersinggungan langsung dengan para penderita gangguan jiwa.

Jadi biar ada gambaran, mari saya ceritakan sedikit. Kebetulan kakak sepupu saya menderita gangguan jiwa. Dulunya dia bankir di Jakarta. Tapi bank tempat ia bekerja kena likuidasi. Sekian tahun setelah berusaha mempertahankan kehidupan keluarganya tetap seperti sedia kala, dan mungkin tidak sesuai harapan mereka, ia pun tumbang.

Setiap beberapa bulan sekali ia pulang ke kampung kami. Tinggal beberapa waktu bersama kami. Dari sanalah saya bersinggungan langsung dengan penderita gangguan jiwa.

Hari-harinya di kampung akan menyibukkan kami semua. Ia akan bersepeda keliling kampung sambil meneriaki siapa saja yang dikenalnya. Berhenti untuk menceritakan diri dan masa lalunya pada siapa saja yang  ditemui dan dikenalnya.

Selama bulan puasa kemarin kami tak bisa menahannya untuk tidak keliling kampung jam 2 malam sambil meneriaki para tetangga.

"Pak Cariiikkk, tangii!!!! Ojo kelon waeeee!!!"

"Pak Liirr, tangiii!! Sahuurr!!" Padahal Pak Lir sudah meninggal hampir setahun.

Istrinya di Jakarta tak kalah judegnya. Hampir setiap hari ia mendapat komplen dari tetangga. Ada-ada saja ulahnya. Mencabuti fiber yang dipasang di pagar tetangga, memukuli tiang listrik setiap kali berhasil keluar rumah, dan kegemarannya meneriaki semua orang yang dikenalnya.

Ketika istrinya menguncinya di dalam rumah, ia pergi ke loteng untuk memuaskan hasratnya berteriak-teriak memanggil semua orang.

Kok masih bisa naik sepeda kemana-mana? Ya bisa. Kalau cuma di kampung saja dia masih tau jalan. Bahkan dulu sebelum kejadian motor saya hampir hilang, saya masih memperbolehkannya naik motor sekedar cari makan di warung-warung dalam kampung.

Sampai suatu ketika dia nekad bawa motor saya ke rumah kakaknya di kota, dan waktu pulang ternyata bingung tak tau jalan. Ketika lapar, belok ke warung padahal nggak punya uang, STNK motor saya pun ditinggalkannya sebagai jaminan.

Malangnya, dia tak mampu mengingat sama sekali di warung mana tadi dia jajan. Maka amblaslah STNK motor saya. Ketika bensin motor habis, disangkanya motor mogok. Dicarinya bengkel kemudian ditaruhnya motor disitu. Sementara dia muter-muter mengumpulkan rongsokan botol-botol bekas.

Dan kemudian dia lupa dimana bengkel itu.

Hampir ia digebuki orang karena ngotot motornya ditaruh di sebuah bengkel padahal pemiliknya nggak merasa menerima motor darinya. Pemilik bengkel emosi karena merasa dituduh menyembunyikan motor.

Motor akhirnya ketemu setelah saya posting pencarian di grup komunitas daerah, dan kebetulan istri pemilik bengkel membaca postingan saya. Lokasinya jauh dari yang ditunjukkan kakak saya.

Ada yang menggoblok-goblokkan saya kenapa orang gila dikasih motor. Ya kalau saya tau ketidakwarasannya sampai seperti itu tentu nggak akan saya kasih motor. Wong saya masih waras. Cukup waras untuk tidak menggoblok-goblokkan orang seenak cangkemnya.

Barangkali ada yang bertanya kok tidak ditaruh di RSJ? Sudah. Tapi kan tidak semua pasien dirujuk ke RSJ dan tidak semua pasien gangguan jiwa bisa menghuni RSJ sampai kapanpun keluarga mau.

Apalagi kalau pakai BPJS, asuransi hanya menanggung pasien 2 minggu saja dengan rujukan dokter jiwa. Selama di RSJ itu pun keluarga masih harus mengurus semua kebutuhannya seperti laundri pakaian, makanan-makanan selain makanan utama.

Kalau pasien merokok, petugasnya juga nggak mau pusing-pusing bagaimana mengatasi mereka yang ngamuk minta rokok. Ya asal dikasih saja. Akibatnya biaya dia dua minggu di RSJ malah lebih besar dari biaya hidup bulanan mereka.

Istrinya kewalahan karena mereka tidak bekerja. Kehidupan mereka setiap bulannya hanya mengandalkan kiriman dari keluarga besar, dan sedikit uang bulanan yang masih rutin dikirimkan teman karibnya yang banyak ditolongnya dulu.

Ya kan setidaknya rutin kontrol ke psikiater? Jangan disangka semudah itu urusannya. Membawa mereka ke dokter itu saja sudah satu urusan ruwet tersendiri. Kalau sedang tidak mau, kemudian dipaksa, ia bisa tiba-tiba lepas ikut turun dari angkot bersama penumpang lain yang turun sebelum sampai di klinik.

Urusan meminumkan obat pun satu keruwetan yang lain lagi. Kalo anak kecil sih mudah dipiting kemudian dicekoki. Bayangkan ini laki-laki yang tingginya 175cm, makannya masih banyak. Tenaganya masih kuat. Nggak mau minum obat. Bagaimana caranya memaksa?

Di waktu-waktu tertentu ketika tidak sedang menyebalkan, ia akan bercanda dengan anak-anak saya, menasehati mereka supaya rajin belajar. Ia juga masih bisa pulang ke kampung sendiri naik bis dari Jakarta atau balik sendiri ke Jakarta.

Tentunya ada kami yang mengantarnya hingga bis jalan, dan sudah ada yang standby siap menjemput begitu dia turun.

Dia juga selalu ingat waktu sholat meskipun kata anak saya, kalau mereka jamaah sholat di masjid gerakannya salah-salah terus. Di waktu obatnya terminum dengan benar, perilakunya tidak terlalu mengganggu meskipun sudah jauh berbeda dari dia yang saya kenal dulu.

Tapi kalau obatnya tidak terminum dengan baik, atau ada pemicu lainnya, dia bisa sangat sulit dikendalikan. Mengamuk ingin pergi, berteriak, mencakar, mendorong, tenaganya besar sekali saat kumat.

Kami keluarganya hanya bisa berdoa semoga dia tidak melakukan hal-hal yang bisa membuatnya tersangkut urusan hukum. Karena sangat tidak mungkin rasanya harus mengurung dia 24 jam di dalam rumah. Sudah banyak tempat rehabilitasi penderita gangguan jiwa alternatif yang dikunjungi keluarga. Tapi selalunya terbentur dengan masalah biaya.

Dulu, saya sering diam-diam menghakimi orang-orang yang memperlakukan anggota keluarganya yang terkena gangguan jiwa dengan cara-cara yang tidak manusiawi di mata saya. Tapi setelah mengalaminya sendiri, saya jadi bisa memahami tindakan-tindakan mereka. Seringkali semua itu disebabkan karena keterbatasan biaya dan keterbatasan pemahaman tentang ODGJ.

Maka janganlah jadi orang yang tidak paham tentang ODGJ tapi selalu semangat mencaci dan mencibir, menggoblok-goblokkan keluarganya. Jangan. Karena kalian tak pernah tau bagaimana perjuangan keluarganya melewati hari demi hari menjalani ujian itu.