Pemilu 2019 telah usai. Hasil-hasil Pemilu telah diumumkan dan disepakati. Tahun ini, PDI Perjuangan yang memenangkan Senayan. Sebanyak 128 dari 575 kursi DPR RI berhasil digondolnya. Menyusul di belakangnya adalah Golkar dengan 85 kursi dan Gerindra 78 kursi.

Kemenangan PDIP sudah barang tentu tak bisa dilepaskan dari sepak terjang ketua umumnya, Megawati Soekarno Putri.

Betapapun mulut netijen sering ringan sekali mencelanya karena menganggap ia kurang kompeten atau hanya menunggangi keberuntungan sebagai anak Soekarno, tak bisa dipungkiri bahwa Mega adalah satu dari sedikit politisi senior yang sudah melalui jalan panjang jatuh bangun babak belur di dunia politik Indonesia.

Putri sulung Pak Karno itu lahir pada 23 Januari 1947, ketika sang ayah sudah menjadi presiden. Jelas hanya dia seorang satu-satunya manusia di negeri ini yang sudah berkalang politik sejak lahir precet. Selama dua puluh tahun berikutnya ia adalah anak presiden yang tak mungkin jauh-jauh dari panggung politik.

Sejak Fatmawati keluar dari istana tahun 1957, Mega sudah mulai mendampingi Pak Karno di acara-acara formal kenegaraan. Ketika ia menangis karena gerah setiap kali harus mengenakan pakaian nasional jarik, kebaya, dan konde, ayahnya hanya mengatakan,

“Simpan tangismu ketika berada di depan umum. Kamu harus tetap tersenyum dan ramah kepada para tamu.”

Orang bisa saja menghitung karir politiknya baru dimulai sejak 1986 ketika dia akhirnya terjun di kancah politik bersama PDI. Tapi bagi Mega, politik bak menyatu dalam urat dan darahnya. Guru politiknya pun bukan orang sembarangan. Ia belajar dari yang terbaik di zamannya: Soekarno, proklamator NKRI itu.

Sejak kecil, Mega diharuskan berlatih tari untuk membentuk postur dan sikap tubuh yang baik yang dibutuhkan negarawan. Pada umur 14 tahun ayahnya membawanya dan Guntur ke Gedung Putih untuk makan bersama dengan Kennedy.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya dengan cepat memanfaatkan situasi awkward ketika Guntur, tanpa sengaja membuat daging steak di piringnya terlontar ke arah Kennedy.

Sambil tertawa ayahnya mengatakan pada Kennedy bahwa putranya sedang mengirimkan misil tandingan untuk mengimbangi senjata termutakhir Amerika saat itu, ICBM (Inter Continental Balistic Missiles).

Informasi yang dikategorikan top secret di masa itu tapi Soekarno tau. Yaa mungkin mau ngomong ke Pak Ken, eh eug juga punya intel canggih loh vroh jangan sepelein eug!

Mega mungkin bukan orator yang ulung seperti bapaknya. Kalimatnya seringkali belepotan ketika pidato. Tapi perihal strategi politik, jelas ia belajar langsung dari masternya. Ketika netijen sekarang ngece-ngece dia kayak baperan banget, lho siapa tau memang dia sengaja begitu?

Mega itu sejak kecil diajari untuk tidak menampakkan suasana hati dalam ekspresi publiknya. Di kalangan teman-teman sekolahnya saja ia terkenal irit ekspresi. Tidak pernah tertawa ngakak apalagi mewek di hadapan teman-temannya.

Lagian kalian pikir jalan terjal penuh liku dan pilunya menghidup-hidupi partai banteng selama orde baru itu bisa dilakukan dengan perilaku baperan mutungan macam buibu yang gelut tiga hari tiga malem lalu nyetatus berjilid-jilid kemarin itu? Nehi!

Lain Mega, lain pula Tutut. Putri sulung Pak Harto ini kebetulan memiliki tanggal lahir yang sama dengan Mega. Usia mereka selisih tepat 2 tahun, Tutut lebih muda.

Tahun 1967 ketika akhirnya Pak Harto menjadi presiden, usianya sudah 18 tahun. Ia mulai mengorbitkan diri melalui kirab remaja serta berbagai kegiatan sosial dan kepemudaan.

Menurut penuturan Tutut di blog resminya, tututsoeharto.id, Pak Harto atas desakan teman-teman seniornya, sudah menawari Tutut masuk dalam kabinet pembangunan sebagai menteri sosial sejak tahun 1988 namun ia menolak.

Kemudian tahun 1993 ia diajak lagi oleh Pak Harto masuk kabinet dan lagi-lagi ia menolaknya. Khawatir menyebabkan timbulnya isu KKN, katanya sih. Hmm…

Bahwa akhirnya ia menerima jabatan menteri sosial pada 1998, menurutnya itu karena Pak Harto membutuhkannya. Bangsa dan negara membutuhkannya, jadi ia tak bisa lagi menolak. Hhhmmmm lagi…

Tutut  terjun langsung ke kancah politik mulai tahun 1992. Tanpa campur tangan ayahnya (yang mana itu tidak mungkin), ia langsung masuk dalam struktur kepengurusan DPP Partai Golkar sebagai bendahara umum. Basah terus pokoknya posisi dia ya. Lima tahun berikutnya pada 1997 ia sudah menjabat Ketua Fraksi Golkar.

Pada 1991 ia mendirikan stasiun televisi yang dimaksudkan menjadi saluran televisi pendidikan, TPI. Belakangan, stasiun itu sempat menjadi saluran tivi azab sebelum ganti nama jadi MNC. Dengan dukungan penuh dari ayahnya, karir politik dan bisnis Tutut berjalan beriringan. Lancar semua.

Enam tahun selepas Pak Harto turun, Tutut mencoba membangun kembali karir politiknya. Ia mendirikan PKPB dan menjadi peserta Pemilu 2004. Namun partainya tak mampu bertahan. Kini nampaknya ia bersama saudara-saudaranya para Anak Cendana sedang berusaha membangun kekuatan lagi di kontes politik Indonesia. Hhhmmm…

Ada Mega, ada Tutut, ada pula Yenny Wahid di daftar berikutnya. Meskipun masa jabatan Gus Dur jauh lebih pendek dibandingkan dua presiden yang sudah diceritakan sebelumnya, tapi siapa bisa menyangkal bahwa karir politik Gus Dur sudah terbangun jauh sebelum itu. Kritik-kritik tajamnya sudah dilontarkan pada Soeharto selama masa Orde Baru.

Yenny mengisahkan bagaimana cara ayahnya memaparkan ia pada politik. Selain melalui berbagai obrolan dalam keseharian, sejak menurunnya kemampuan penglihatan Gus Dur padahal ia masih ingin banyak membaca, maka anak-anaknya lah yang membacakan beliau buku ataupun koran.

Dalam waktu-waktu itu terjadilah obrolan dan diskusi tentang pandangan-pandangan Gus Dur atas berbagai isu yang sedang berkembang di level lokal maupun internasional.

Pada saat Gus Dur naik menjadi presiden yang katanya hanya modal dengkul (itupun disebut dengkul Amien Rais), Yenny sudah bekerja sebagai wartawan di salah satu koran Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age.

Liputannya tentang Timor-Timur pasca referendum mendapatkan anugerah Walkley Award. Tapi Gus Dur kemudian menariknya ke posisi Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik yang memungkinkannya mendampingi ayahanda ke manapun beliau pergi.

Dibanding tiga saudaranya yang lain, Yenny-lah yang paling banyak mendapat kesempatan belajar politik praktis langsung dari ayahnya.

Gus Dur dengan rekam jejak presiden paling banyak bepergian selama masa jabatan, memberi peluang bagi Yenny bisa bertemu dan mengembangkan jejaring dengan banyak politisi tersohor di dalam maupun luar negeri. Pandangan politiknya banyak dipengaruhi oleh pandangan ayahnya yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan pluralisme.

Andai tak ada konflik internal PKB yang menyebabkan suara kubu Gus Dur tersingkir dari PKB, sangat mungkin saat ini Yenny sudah duduk di jajaran petinggi PKB.

Setelah krisis internal PKB itu, Yenny tak banyak bicara soal politik. Tapi nampaknya sejak 2019 kemarin ia sudah akan kembali lagi aktif di kancah politik. Hal ini diutarakannya pada sesi tanya jawab QnA dengan host Andini Efendi.

Karena anak-anak sudah besar, sudah punya waktu yang cukup luang, katanya. Nah, padahal suami Mbak Yenny itu politisi Gerindra, lho. Meski ya sudah mundur sekarang sih. Tapi mereka baik-baik aja ya serumah meski beda pandangan politiknya. Nggak kayak kamu, kamu, sama kamu itu. Geluut ae gak uwes-uwes.