“Hmm… Leukimia ya. Kalau sakitnya leukimia biasanya penyebabnya karena orang tua, jadi Mbak Dena atau ayahnya Shakira, pernah marah dan disimpan dengan kuat kepada orang tua atau mertua. Kalau titik-titik itu bisa ditemukan, insyaallah akan semakin membaik kondisi Shakira.”

“Atau bisa jadi, Mbak Dena ini kan bertengkar terus dengan ayahnya Shakira. Bertengkar, marah, disimpan. Nah, kemarahan-kemarahan itulah yang merusak sumsum tulang belakang. Jadi ini kan poin ada di orang tua ya sebenarnya. Di Mbak Dena. Jadi Mbak Dena harus bisa menemukan titik-titik kemarahan itu, lalu minta maaf kepada orangnya insyaallah nanti Shakira akan bisa sembuh.”

Itu adalah potongan dialog antara Ustadz Dhanu dengan artis Denada yang putrinya tengah sakit kanker darah dan sekarang sedang menjalani pengobatan di Singapura. Semoga lekas sembuh ya, Shakira…

Denada yang dituduh begini begitu ya hanya bisa senyam-senyum getir saja dengan berbagai solusi sekaligus tuduhan Pak Ustadz yang ditujukan kepadanya.

Beberapa hari lalu, saya mendengar lagi Ustadz Dhanu ngomong hal yang serupa, kali ini kepada seorang ibu muda yang anaknya menderita Down Syndrome, di acara Manajemen Qolbu MNC TV. Sebuah program acara di MNC TV yang tayang hampir tiap hari jam 5.30 pagi, menyajikan tayangan tentang pengobatan Islami bersama Ustadz Dhanu.

Diagnosisnya hampir mirip Shakira. Sama malah sepertinya. Orang tua anak yang memiliki Down Syndrome pasti pernah bermasalah dengan orang tuanya. Memendam marah dan dendam yang sangat dalam dan sebagainya-sebagainya.

Kok saya merasa itu tuduhan yang jahat bener ya. Jahat dan tidak peka blas. Seolah-olah semua penyakit yang diderita anak, karena tidak mungkin menyalahkan anak kecil sebagai pelaku dosa ini-itu, maka orang tuanya lah otomatis pelaku dosanya, yang bertanggung jawab atas sakit dan sembuhnya si anak.

Tontonan ini saya rasa rating-nya pasti tinggi. Kalau tidak, tak mungkin bertahan dari tahun ke tahun. Siapa penontonnya? Kira-kira sama kok dengan para penonton sinetron-sinetron yang tayang habis maghrib dan isya’ itu—rakyat kecil.

Ibu saya misalnya, senang sekali menontonnya, terutama sesi ruqyah di bagian akhir acara. Ustadz Dhanu akan menunjuk satu orang penonton yang hadir, menanyai keluhannya apa, kemudian mengajak hadirin mendoakan si ibu bersama-sama dengan bahasa Indonesia yang lugas tanpa doa-doa panjang. Lalu tiba-tiba berbagai adegan aneh, entah orang yang didoai tiba-tiba kerasukan atau sakit sampe kelojotan, akan terjadi.

Sembuh? Ya sembuh saat itu juga. Tapi apakah betul sembuh permanen sakitnya, ya tidak tahu. Televisi kan hanya butuh rating.

Kemarin-kemarin, ibu getol sekali menyarankan kakak ipar untuk memeriksakan suaminya yang menderita gangguan jiwa ke Ustadz Dhanu. Alasannya, banyak sekali yang sudah sembuh diruqyah. Dua tiga kali kakak ipar nurut. Sembuh? Ya tidak.

Saya sedih membayangkan bagaimana kalau ibu saya ketemu dengan seorang ibu lain dengan anaknya yang berkebutuhan khusus, tiba-tiba ibu saya menceletuk, “Kalau kata Ustadz Dhanu, itu ada masalah dengan orang tuanya bla bla bla, dicoba aja Mbak, barangkali bisa sembuh anaknya…”

Duh ngilu sendiri batin saya membayangkannya. Nggak ada empati sama sekali.

Orang-orang seperti ibu saya ini buanyak sekali. Kadangkala level absurdnya sudah sangat aneh di mata saya. Mereka bisa gitu ya, sakit, terus mendatangi dukun yang bergaya tukang pijat, tapi pijatnya hanya 10 menit sambil meracau bicara sama lemari atau cagak kayu di rumahnya, berharap sembuh.

Sekira dua belas tahun yang lalu, saya menemani ibu mengunjungi sebuah padepokan pengobatan alternatif Islami di Semarang. Ibu mau punya gawe, saya sebagai anak semata wayangnya mau menikah, tapi kakinya sakit. Dari tayangan pengobatan alternatif di televisi, ibu memperoleh informasi tentang pengobatan alternatif yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit di tempat itu.

Kami tiba di sana, padepokan itu sudah ramai sekali. Ada orang tua lumpuh, ada bapak-bapak masih relatif muda yang berobat karena penyakit ginjal, ada seorang anak kecil yang tiap kali banyak bergerak tubuhnya langsung membiru. Kata ibunya, anak itu sakit jantung.

Ibu si anak itu yang menarik perhatian saya. Katanya sudah beberapa kali berobat ke situ dan hari itu ia membawa seekor kambing, karena padepokan memutuskan akan menggunakan cara yang lebih berpotensi berhasil menyembuhkan si anak. Jadi, sakit jantung yang diderita si anak itu nanti akan dipindahkan ke kambing. Hyungalah…

“Ibu bawa kambing dari rumah?”

“Tidak, Mbak. Orang padepokan yang membelikan. Harganya agak mahal sih. Tapi rumah saya jauh e. Ya saya terima beres saja.”

“Adek semoga lekas sembuh ya…,” sapa saya kepada anak sekaligus untuk ibunya. Tetap manis seperti ibu peri meskipun segala makian dan kata kasar memenuhi hati.

Ketika ibu akhirnya dipanggil, saya mengikuti ke dalam. Penasaran saja, diapain sih. Ternyata ya cuma dipijat-pijat sedikit. Lima menit saja paling. Kemudian diberi air mineral kemasan yang sudah didoai oleh pimpinan padepokan itu. Lima botol ukuran 1,5 L dibanderol 50 ribu satu botolnya. Suruh bawa pulang, minum, kalau habis kembali lagi. Sembuh? Ya ndak. Mau jualan air mahal saja kok merepotkan saya ngebis jauh-jauh dari Pati ke Semarang nggandeng ibu.

Urusan saya dengan pengobatan alternatif tidak berakhir di situ. Suatu ketika ibu mengeluh sakit. Ada gatal di daerah sekitar kewanitaannya. Saya ajak ke dokter spesialis kulit tidak mau. Ke dokter umum apalagi. Malah minta ke pengobatan alternatif di Semarang.

Dikasih obat kapsul yang entah apa isinya, sebenarnya bagian ini yang paling membuat saya ngeri, lha iya kalau obatnya itu cocok dan bener sih nggak papa. Lha kalau enggak, apa ya dia mau tanggung jawab? Berapa tarifnya coba? Tiga juta dibayar tunai. Untungnya sembuh.

Lagi, ini yang paling ngeri. Klinik mata alternatif. Klaimnya bisa menyembuhkan minus, plus sampe katarak tanpa operasi. Ibu mengeluh pandangannya makin buram. Kata dokter umum, dilihat gejalanya mungkin katarak. Ke spesialis mata saja. Ibu minta ke pengobatan alternatif yang di televisi saja. Karena bukti keberhasilannya sudah banyak.

Saya antar sampai diperiksa, yang kemudian membuat saya memaksa ibu saya kabur dari tempat itu. Soalnya orangnya itu maksa banget harus ambil paket pengobatan. Satu paket harganya 5 juta. Biasanya 1 paket cukup katanya. Saya tanya, kalau 1 paket belum sembuh gimana, katanya disuruh ambil paket yang lebih mahal karena ada garansi. Ho, lha kampret. Kadal kok dikadali.

Saya bilang mau ke ATM dulu ambil uang, eh dia ngotot bayar dulu seadanya uang, biar bisa diproses obatnya sementara saya ambil uang di ATM. Plus ibu suruh tinggal di situ saja karena mau diterapi. Wah, ini sudah ndak bener ini, batin saya.

Saya tidak mau nurut, ibu biar ikut saya lagian belum makan, punya sakit maag, mau saya ajak makan dulu, saya bilang begitu. Dia pun ngotot, tinggalkan uang seadanya biar obat bisa diproses. Saya bilang tak ada uang lagi di dompet. Hanya ada 300 ribu buat bayar terapi yang sudah dia lakukan tadi. Wah, eyel-eyelan sak pol’e. Saya makin yakin kalau penipuan belaka.

Akhirnya ya saya tarik saja ibu kabur. Eh, dia ngomel-ngomel marah-marah. Dasar gwembel jaran.

Itu terakhir kalinya saya mau mengantar ibu ke pengobatan alternatif. Setelahnya, kalau minta diantar lagi, saya selalu mengungkit-ungkit kejadian itu.

Padahal semua informasi pengobatan alternatif tadi ibu dapat dari televisi. Orang-orang itu punya program rutin di televisi. Tapi ya lolos saja oleh KPI. Lhah, Spongebob yang nggak menimbulkan kerugian apa-apa saja harus menanggung dosa jadi diburem-buremin segala.

Sekarang Ustadz Dhanu yang sedang naik daun. Teknik pengobatannya yang cerdas nampaknya akan membuatnya bertahan lama. Bagaimana tidak cerdas, dalam kamus pengobatannya, segala bentuk penyakit sumbernya adalah penyakit hati dan akhlak penderitanya.

Selama penderita belum bisa mengubah akhlak buruknya, maka sakitnya akan nempel saja terus. Bayangkan, sudah sakit kanker misalnya, bukannya dikuatkan dan diberi pikiran-pikiran positif, malah dihakimi kalau semua yang kamu derita ini akibat perilakumu sendiri. Betapa menyedihkannya.

Lha, memangnya ada manusia yang bisa terbebas 100 persen dari penyakit hati? Mana ada orang yang tidak pernah jengkel dengan tetangga, teman, saudara, orang tua. Mana ada orang yang tak pernah marah pada anak atau pasangan. Mana ada manusia yang terbebas dari penilaian buruk manusia lain. Makanya saya bilang teknik pengobatannya itu cerdas.

Cerdas dalam membodohi publik. Dan seperti biasa, banyak manusia mudah dibodohi. Apalagi kalau embel-embelnya sudah pengobatan Islami, manajemen qolbu, bengkel hati apalah apalah. Heleh heleh…