Di penghujung tahun 2019, saat manusia sedang merenungi perjalanan dan pencapaian mereka setahun ke belakang kemudian sibuk membuat resolusi untuk tahun berikutnya, media sosial dan televisi dihebohkan oleh sosok Uha, seorang laki-laki asal Bandung yang dijuluki Manusia Gorong-Gorong.

Berita tentang Uha ramai setelah seorang warga Twitter mengunggah video berdurasi sekitar 45 detik di akunnya. Dalam video tersebut, tampak seorang laki-laki yang bertelanjang dada masuk ke dalam bukaan gorong-gorong yang hanya berukuran mungkin sekitar 60×60 cm persegi dan airnya sedang meluap.

Air dari gorong-gorong itu hitam, kotor, saya rasa pasti juga sangat berbau busuk, tapi Uha masuk begitu saja dengan satu-satunya alat bantu berupa tangga, bukan kacamata selam atau tabung oksigen seperti yang biasa digunakan oleh penyelam-penyelam profesional itu. Tak lama setelah kepala Uha menghilang dari balik permukaan air gorong-gorong kotor itu, luapan air pun perlahan surut.

Rupanya banyak sampah yang menyumbat gorong-gorong sehingga air tak mengalir lancar dan Uha membersihkannya. Mengambil dengan tangan tanpa jijik aneka sampah yang dibuang oleh warga kota mulai dari plastik, kayu-kayu bekas, hingga pembalut dan popok sekali pakai. Sungguh rasanya ingin sekali mengutuk orang-orang yang membuat susah Uha itu jadi pembalut bekas!

Gara-gara video yang viral itu, Pemkot Bandung berinisiatif memberi hadiah untuk Uha si pengangguran yang ternyata sudah melakukan profesi masuk gorong-gorong sejak 20 tahun lalu itu. Nah, sekarang saya jadi ingin mengutuk Pemkot Bandung dan jajaran dinas pemangku kebijakan terkait jadi popok bekas eek!

Lha, yang benar saja, sudah 20 tahun masa baru tau ada warganya yang jungkir balik begitu. Lama lho 20 tahun jadi ahli membersihkan gorong-gorong itu, tidak cuma sak nyuk seperti bakal calon walikota atau calon presiden yang lagi kampanye menarik simpati publik.

Tidak masuk akal sama sekali ketidaktahuan mereka itu, kecuali memang abai dan tidak peduli dengan sesuatu yang seharusnya jadi bagian dari tanggung jawab mereka.

Uha sudah membersihkan gorong-gorong mampat sejak 20 tahun lalu, karena ketika ada luapan yang disebabkan oleh gorong-gorong mampat dan warga menghubungi layanan pemerintah kota, sering kali tidak ada respon.

Atau, kalaupun ada respon, datangnya ketika hujan sudah reda dan luapan sudah surut. Persis kayak adegan polisi yang selalu datang terlambat di film-film bioskop yang lakonnya bukan polisi.

Orang-orang yang membuang sampah pembalut dan popok sekali pakai sembarangan hingga membuat gorong-gorong mampet seperti itu mungkin tak pernah terpikir sama sekali kalau sampah mereka bisa sangat menyusahkan orang lain. Menyusahkan sampai level yang sulit diterima akal sehat.

Mungkin membersihkan got memang panggilan jiwa Uha ya, meskipun begitu sulit diterima akal. Kok ada orang yang mau-maunya menyusahkan diri menyelam di got untuk mengurangi kesusahan orang lain yang kebanjiran, gitu lho. Jikapun itu panggilan jiwa, ya tetap saja itu menyusahkan.

Saya mendapat cerita lain juga tentang adanya manusia yang entah disadari atau tidak, kadang bisa begitu menyusahkan orang lain ini. Seorang dokter di daftar pertemanan Facebook saya membagikan postingan kawannya, seorang dokter perempuan spesialis kandungan.

Kawannya kawan saya itu menceritakan pengalamannya dengan pasien yang entah bagaimana tidak bisa saya pahami juga begitu ngotot ingin menyusahkan orang lain.

Pasien itu dalam kondisi jelang persalinan dan keadaannya membuat tim dokter memutuskan ia perlu melakukan persalinan dengan jalan operasi sectio cito yang sesegera mungkin karena keadaan darurat. Lha, kok dalam keadaan seperti itu si pasien menyetujui tindakan tersebut dengan syarat: all women team, alias semua tim medis yang bekerja dalam proses operasi itu harus perempuan!

Apa tidak terpikir ya di kepalanya, andai tenaga ahli yang dibutuhkan dalam proses operasi tersebut kebetulan hanya tersedia yang laki-laki, maka dokter harus mencari ke sana kemari supaya ada tenaga medis perempuan yang bisa menggantikan.

Apa yang mungkin tidak pasien itu sadari adalah bagaimana ia telah banyak menyusahkan orang lain dengan permintaan yang seharusnya tidak perlu. Misalnya, paramedis yang mestinya sudah pulang dan istirahat karena baru saja menyelesaikan dinas malam, jadi harus tetap memperpanjang jam kerjanya sampai operasi selesai.

Bidan kamar bersalin yang pagi itu dinas jaga sendirian jadi harus bertugas ganda membantu di kamar operasi. Dokter jaga ruangan jadi harus bertugas ganda menjadi ko-operator karena tidak ada spesialis obsgyn perempuan lain yang bisa dipanggil mendadak.

Dokter anestesi yang baru saja pulang harus kembali lagi ke rumah sakit padahal anaknya sendiri sedang sakit. Dokter anak yang sedang menunggui suaminya yang juga dirawat di rumah sakit, jadi harus meninggalkan suaminya untuk membantu operasi.

Mereka semua harus bekerja di luar jadwal dan mengesampingkan urusannya sendiri. Padahal sebagian tenaga itu juga tidak akan memperoleh bayaran lebih karena sistem penggajian mereka adalah gaji tetap, bukan upah per pelayanan.

Meminta all women team zaman sekarang memang privilege pasien, tapi kan kira-kira juga dong ya. Kalau mau melahirkan dengan all women team dan sudah jauh hari diperingatkan dokter untuk sectio, ya segera saja sepakati supaya dokter bisa mengatur sumber daya yang ada dengan baik dan terencana. Atau kalau memang kondisinya darurat, bahkan bahan makanan yang haram saja bisa jadi halal. Apalagi ini darurat yang bisa mempengaruhi keselamatan nyawa ibu dan bayi.

Pasien yang bertindak gegabah seperti itu sebenarnya bisa saja membahayakan jiwanya sendiri, atau bahkan membahayakan tenaga medisnya. Tenaga medis yang terpaksa memperpanjang jam kerjanya di ruang operasi dengan kondisi kelelahan juga bisa membahayakan keselamatan pasien. Kalau sampai itu terjadi, ujung-ujungnya tenaga medis yang disalahkan.

Kalau tidak bisa membantu orang lain melakukan tugas mereka, ya setidaknya jangan membuat mereka bersusah payah meladeni kita. Kan prinsip hidup yang paling sederhana ya begitu itu. Kalau kita berada di posisi mereka yang disusahkan itu, kiranya akan bagaimana perasaan kita? Bayangkan, betapa jeleknya wajah kita ketika terpaksa harus meladeni orang lain dan mengesampingkan kebutuhan atau urusan kita sendiri yang juga tak kalah penting.

Untung saja Uha dan para tenaga medis itu tak seperti kita (Eh, kita? Saya doang kali ya?), yang raut mukanya pasti langsung berubah jelek dan berlipat-lipat tak karuan seperti kumbahan yang sudah mumbruk berhari-hari, mulut juga mungkin jadi pedas tak keruan seperti cabe setan, ketika bertemu dengan kondisi-kondisi disusahkan orang lain. Mereka tetap melakukan apa yang sudah menjadi panggilan jiwanya itu dengan wajah kalem, sabar, dan masih bisa tersenyum meskipun mungkin di dalam hati sudah pengen ngajak gelut.

Di penghujung tahun seperti ini, biasanya orang sibuk membuat resolusi-resolusi untuk dirinya, berupa suatu pencapaian-pencapaian yang diharapkan akan diperoleh atau dicapainya pada tahun depan. Misalnya, resolusi untuk lebih produktif bekerja, resolusi untuk memperbaiki pola makan, resolusi untuk memperbanyak olahraga dan merawat badan, resolusi peningkatan penjualan, dan sebagainya dengan pusat resolusi itu adalah dirinya sendiri.

Rasanya, tak ada salahnya jika tahun ini kita mencoba membuat resolusi yang lebih sederhana, yaitu mencoba untuk tidak menyusahkan orang lain. Atau memastikan orang lain memperoleh balas jasa yang layak seandainya kita terpaksa harus menyusahkan mereka.

Mungkin terasa sangat tidak keren, terlalu sok heroik, terlalu utopis, atau terlalu tampak seperti wacana-wacana belaka. Tapi, daripada membuat resolusi diet, olahraga dan hidup sehat yang sudah diwacanakan sejak sepuluh tahun lalu tanpa pernah ada hasilnya, kan mending bikin resolusi yang lebih heroik sekalian. Toh seheroik apapun itu, pasti masih jauh dari apa yang dilakukan oleh Uha Si Manusia Gorong-Gorong.