Seumur hidup, saya hampir selalu lekat dengan sebutan galak, yang mana sering kali membuat saya bertanya-tanya, masa sih aku galak, sadis, dan perkataanku sering menyakiti orang lain? Di bagian mana sebenarnya kegalakan saya? Wong saya merasa hati ini selembut tisu yang langsung lumer ketika bersentuhan dengan air penderitaan.

Setelah saya ingat-ingat tentang komentar dari teman-teman dari zaman masih sekolah, sepertinya fase paling parah perihal kegalakan saya muncul ya pas sudah kuliah. Atau mungkin, interaksi dengan teman-teman tidak terlalu dekat sebelum masa itu, sehingga mereka tidak terlalu terganggu dengan kegalakan saya.

Kalau melihat dari ukuran interaksi, mestinya cerita tentang kegalakan saya akan banyak keluar dari kalangan kawan-kawan almamater pondok. Nyatanya, enggak tuh. Atau ya bisa jadi diam-diam saya terkenal galak juga waktu di sana, hanya saja teman-teman saya terlalu halus budi bahasanya hingga tak berniat sedikitpun menyinggung saya meski sekadar mengatakan saya galak.

Saking halus budi bahasa mereka, teman-teman saya itu lebih sayang pada saya dibanding mempedulikan suara hatinya sendiri yang memendam hasrat ingin memaki saya. Wkwkwk.

Dari cerita-cerita yang datang dari kawan-kawan kuliah, beberapa di antaranya saya dapatkan sebelum lulus. Ada juga yang ceritanya baru saya ketahui setelah lulus. Rupanya, saking sadisnya saya, tak cuma satu dua orang yang kesal, tapi ada banyak orang. Beberapa di antara mereka bahkan sampai menangis gara-gara saya.

Herannya, kok sudah sampai begitu pun teman-teman saya ini cuma diam tanpa memberikan perlawanan. Apa saya ini kelihatan lebih galak dari sipir penjara di film-film India yang banyak berpenampilan gendut, berkumis, hitam legam, dan selalu bertampang suram sambil membawa kepruk itu?

Ada dua orang kawan saya, Nina dan Chandra yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa saya galak. Lucunya, saat mereka bilang, “Hoo, mulai, mulai, nesu…” saya sering kali tidak merasa sedang ngamuk atau galak. Jadi, ketika kalimat itu keluar, biasanya saya hanya mengelak, “Aku enggak maraaahh!” yang ironisnya, justru dianggap makin marah, hingga akhirnya saya beneran marah. Halah, sampai frustasi rasanya.

Perasaan itu makin menjadi saat saya berantem parah dengan pacar. Bayangkan, waktu itu kami sudah selangkah lagi menuju prosesi lamaran, tapi kami bertengkar hebat. Dia yang di mata saya semestinya paling bisa melihat diri saya dengan benar, jelas-jelas berkata dengan amarah luber bahwa saya ini memang kasar, sadis, dan perkataan saya selalu melukai orang lain.

Ya ampuuuun, saya menangis sejadi-jadinya. Bukan karena pertengkaran kami atau bayangan hubungan yang mungkin akan kandas padahal sudah sampai sejauh itu, melainkan karena saya percaya penilaiannya benar, dan itu artinya saya memang begitu adanya.

Saya sudah keluar rumah sejak lulus SD, mondok, kemudian dilanjutkan dengan sekolah di SMA yang juga jauh dari rumah. Selama itu, saya merasa hidup saya baik-baik saja. Satu dua orang ada yang berkomentar negatif tentang suara saya yang lantang (seperti orang marah-marah), tapi baru setelah lulus kuliah ada yang berani mengata-ngatai saya dengan perkataan sejahat itu. Dan ironisnya, itu pacar saya sendiri, calon suami saya. Bayangkan betapa menyakitkannya menerima itu, hahaha!

Sampai beberapa tahun kemudian, saya berpisah dengan teman-teman kuliah dan tidak banyak berinteraksi dengan mereka. Satu-satunya orang yang berinteraksi intens dengan saya otomatis  cuma suami saya, ya mantan pacar yang pernah bilang saya sadis itu. Sampai saat itu pun, saya masih have no clue tentang mengapa orang bilang saya galak.

Hingga akhirnya, setelah dewasa dan tinggal dengan ibu, saya mulai menyadari apa yang semua orang testimonikan tentang diri yang galak itu. Di rumah ini, saya seperti dihadapkan pada sebuah cermin besar sekali di mana saya bisa memandang diri saya dari luar diri.

Saya itu mirip sekali dengan ibu, dan ketika saya kesal dan marah sama ibu, saya tahu bagaimana perasaan orang lain pada saya dulu. Sungguh itu suatu berkah yang menyedihkan dan merepotkan karena saya jadi harus jungkir balik menata hati tiap hari. Berkah karena dari situ saya jadi paham bagian mana dari diri saya yang bisa ditoleransi, dan bagian mana yang harus saya buang jauh-jauh.

Yang paling jahanam, bahkan di media sosial yang tidak banyak orang tahu betul kehidupan saya sehari-hari, kok bisa-bisanya mereka bilang bahwa saya ini galak. Masih ditambah lagi sebutan “tukang gelut”. Apa setidak mampu itu saya menutup-nutupi aib sendiri? Hahaha.

Mau mengelak kok percuma saja, wong ya nyatanya bukan baru-baru ini saja orang menilai saya begitu. Cuma ya saya kadang bertanya-tanya, mereka bilang saya galak tuh apa memang dari hati yang sejujur-jujurnya dan saya memang tampak begitu, atau sekadar candaan saja. Soalnya, saya tuh merasa jarang banget bersikap menyebalkan di media sosial (samar-samar terdengar teriakan netizen, “Tidak menyebalkan uaaapamu, Mbaaakk!”).

Tapi, apa memang orang galak itu akan selalu dijauhi orang? Nggak lah. Nyatanya, kalian senang kan dekat-dekat sama saya? Hahaha! Bercanda aja, yang melipir menjauh sepertinya juga banyak sih. Ya tidak apa-apa, kan memang kita tidak bisa memaksa semua orang untuk cocok dengan gaya kita. Biasa saja.

Kamu juga bisa kok tampil galak meskipun profesimu pedagang di dunia maya. Nggak perlu galau atau khawatir dilabeli galak. Sepanjang yang saya perhatikan dari pergaulan dengan orang-orang, galak itu enggak akan menyebalkan kalau tidak diiringi dengan sikap sok tau, merendahkan pekerjaan orang lain, pelit mengapresiasi karya orang lain, dan tidak berempati pada kesulitan orang lain, atau sikap-sikap negatif lainnya.

Galak dalam artian sering tidak bisa menahan diri menyatakan isi hati atas sesuatu yang tidak kita setujui itu tidak apa-apa. Menurut saya sih, itu mungkin tidak valid juga. Tapi saya sangat setuju, wajibnya kita memang mengurang-ngurangi menyakiti hati orang lain dengan kalimat-kalimat merendahkan. Karena, galak bisa jadi hanya masalah gaya, tapi kalau merendahkan, sudah masalah adab, etika. Ada hak orang lain yang kita langgar.

Masalahnya, kita butuh membuka hati seluas-luasnya untuk menerima masukan agar bisa melihat kesalahan kita sendiri, termasuk menerima di bagian mana perkataan kita yang mungkin sudah merendahkan orang lain. Ya tentu tidak semua opini harus kita masukkan ke dalam hati. Setidaknya, bisa kita pertimbangkan sambil terus membandingkan sikap kita dengan sikap orang lain yang pernah kita anggap membuat jengkel. Jangan-jangan, kita kadang (atau malah sering) bersikap seperti itu.

Jadi kalau kamu merasa gayamu adalah gaya galak, jangan berkecil hati. Belajar saja menerimanya dengan ikhlas dan gembira, tanpa perlu menyangkalnya dengan berbagai alasan, soalnya malah jadi lucu kalau orang galak nggak mau dibilang galak. Cukup perbaiki sedikit di sini dan sedikit di sana, sikap galakmu akan bisa menjadi galak yang ngangenin, eaaa.

And don’t forget, keep galak and stay humble! Pakai gaya ngomongnya George di film Imperfect.