Ujian akhir semester satu tahun ini sudah berlalu, dan gara-gara video viral seorang ibu memarahi anaknya yang tidak masuk ranking 3 besar di kelas, kita jadi mengakhiri pembelajaran satu semester ini dengan polemik perlu tidaknya sistem ranking.

Tapi liburan sudah tiba, pihak-pihak yang kencang berpolemik nampaknya segera dihadapkan pada kesibukan lain yang lebih menuntut ketahanan jiwa. Apa lagi kalau bukan drama anak-anak libur seharian di rumah yang mengakibatkan mereka jadi cepat lapar dan lebih sering berantem dengan saudaranya?

Tahun 2018 adalah batas waktu penerapan kurikulum 2013 untuk seluruh sekolah di Indonesia. Sungguh aneh rasanya kalau masih ada orang tua yang marah-marah karena anaknya tidak memperoleh ranking di sekolah, karena semestinya kurikulum 2013 sudah tidak mengakomodasi sistem ranking.

Masih ada orang tua yang marah-marah pada anaknya gara-gara ranking adalah tanda jelas ada komunikasi yang gagal terjalin antara sekolah dengan orang tua, atau bahkan ada gagal paham dari sekolah, dalam hal ini guru terhadap kurikulum 2013 itu sendiri.

Biasanya alasan masih diumumkannya ranking di sekolah adalah untuk menjaga iklim kompetisi di kelas, kompetisi yang diharapkan memotivasi semangat belajar anak didik. Tapi andai orang-orang dewasa ini mau jujur terhadap diri sendiri, apa iya sih ranking itu pernah berhasil memotivasi kita yang peringkatnya menengah ke bawah untuk bisa meloncat lebih tinggi?

Apa bukan efek sebaliknya yang kita rasakan sewaktu masih kanak-kanak dulu? Saat memandang para peraih ranking 1, 2, 3 adalah orang yang itu-itu saja, apa kita kaum proletar nilai ini jadi bersemangat belajar? Rasanya sih tidak.

Ada lagi alasan lain guru mengumumkan sistem ranking, yaitu mengakomodasi permintaan orang tua murid yang kepo kuadrat, yang kalau tidak diberi tahu pun mereka akan ribet menanyai wali murid lain, menghitung sendiri nilai tiap kawan anaknya untuk mengetahui peringkat anaknya di kelas.

Ini kan lucu–kalau tidak mau dianggap sebagai sebentuk kegagalan komunikasi yang nyata antara wali murid dan pihak sekolah. Harusnya sekolah sebagai garda depan penerapan kurikulum bisa menjembatani komunikasi dengan wali murid tentang mengapa paradigma pendidikan sekarang sudah tidak lagi mementingkan sistem ranking, bukannya malah kalah dari tekanan orang tua.

Kita yang kini sudah jadi orang dewasa adalah produk pendidikan masa kecil yang dijajah sistem ranking. Dan selama dijajah itu, ada hal yang seharusnya jauh lebih penting untuk kita pelajari, tapi malah tidak diajarkan oleh orang-orang dewasa saat itu, baik guru maupun orang tua kita.

Kepentingannya bahkan melebihi sistem ranking yang hanya memiliki “kompetisi” sebagai hikmah di baliknya, yang menciptakan manusia-manusia untuk selalu mengukur kesuksesan dari perbandingan dengan pencapaian orang lain.

Iya, ibarat kata, kita ini sudah sampai muntah diajari cara berkompetisi dengan orang lain, tapi sama sekali tidak pernah diajari bagaimana menaklukkan diri sendiri. Sepanjang belajar di sekolah formal,  kita tidak diajari cara mengenali dan mengukur kemampuan terbaik kita, tidak diajari cara menetapkan target, tidak diajari cara menyusun rencana aksi untuk mencapai target kita.

Pendeknya, hikmah terburuk di balik sistem ranking adalah ia, tanpa disadari telah membuat kita selalu menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur kesuksesan, hanya karena pencapaian kita selalu dibandingkan dengan pencapaian orang lain!

Suatu kali, saya mengikuti pelatihan tentang UKM. Bu Yuyun Anwar, pelatih UKM nasional yang mengajar waktu itu, mengeluhkan betapa sulitnya mendidik pelaku-pelaku UKM kita untuk tidak saling membunuh satu sama lain.

Kalau ada UKM yang sukses dengan satu produk tertentu, maunya UKM lain bermain juga di area produk yang sama. Dengan kondisi perdagangan online yang makin menghilangkan masalah jarak, kecenderungan untuk saling bunuh ini jelas merugikan UKM sendiri.

Rupanya, sedemikian sulitnya membangun semangat sinergi satu sama lain itu, sehingga ekosistem saling dukung yang diajarkan tetap tak bisa terwujud meskipun efek dari perilaku-perilaku yang hanya akan menyebabkan saling bunuh dan merugikan satu sama lain itu sudah dipaparkan.

Mereka hanya peduli bahwa produk itu sedang ramai di pasaran, sehingga sesama pelaku UKM merasa tak mau ketinggalan untuk mencoba bertarung di area yang menguntungkan itu. Sampai ada yang kalah bertarung dan mati, baru ia tertatih-tatih memulai lagi peruntungan di area lain, bertarung lagi, begitu seterusnya.

Pengalaman itu mengingatkan saya pada pengalaman yang lain lagi. Selepas kuliah, saya sempat bekerja di suatu lembaga swadaya masyarakat yang bekerja sama dengan lembaga donor yang bergerak di bidang pembangunan ekonomi wilayah.

Lembaga kami mengkhususkan diri pada pengembangan kerja sama antardaerah. Ide yang kami tawarkan adalah peningkatan sinergitas antardaerah, alih-alih kompetisi dalam penyelesaian masalah-masalah kompleks yang sulit sekali terselesaikan tanpa kerja sama tersebut.

Ternyata, alangkah sulitnya membuat para pimpinan itu mau duduk bersama membicarakan masalah-masalah yang harusnya diselesaikan bareng, bahkan untuk masalah-masalah yang sudah tampak nyata di depan mata, seperti isu banjir dan sampah. Apalagi untuk hal-hal yang masih di tataran ide dan konsep seperti membuat pasar lelang komoditas berskala regional yang membutuhkan payung hukum dan kebijakan sinergis antara daerah satu dengan daerah lain?

Lha, saya jadi curiga. Jangan-jangan karena pendidikan yang menempatkan sistem ranking sebagai ukuran prestasi yang ditetapkan atas kita sejak kecil sampai hampir dewasa itulah yang sudah berperan besar membentuk mental kolektif sulit bersinergi seperti ini.

Sebenarnya kan ada pilihan lebih baik bagi pendidik daripada melestarikan kebiasaan mengumumkan ranking kelas, yaitu mengajari anak-anak bagaimana menentukan ukuran kesuksesan mereka sendiri.

Anak-anak perlu diajari mengenali dirinya, mengenali di area mana ia boleh menyerah dan di area mana ia perlu berjuang lebih keras. Mereka perlu diajari cara menetapkan target yang tepat, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Mereka perlu dibiasakan menyusun rencana untuk mencapai target itu. Mereka perlu diajari dan selalu diingatkan untuk bersinergi dan saling membantu, dengan cara-cara yang benar tentunya.

Setelah semua hal itu diajarkan, maka cara menilai apakah mereka sukses atau gagal tidak lagi dengan membandingkan pencapaian mereka dengan pencapaian temannya, tapi seberapa besar mereka mampu mencapai target yang mereka tentukan sendiri.

Apakah terdengar terlalu muluk? Saya rasa tidak. Secara teknis, sistem evaluasi seperti ini bahkan bisa dilakukan dalam rentang waktu yang lebih pendek daripada sistem ranking yang membutuhkan waktu satu semester untuk mengevaluasi hasilnya. Karena rentang waktu yang pendek, anak-anak memperoleh stimulus yang lebih sering untuk memotivasi diri mereka. Jadi kebutuhan memotivasi anak sama sekali tidak hilang meskipun tidak ada sistem ranking.

Bagian tersulit untuk melakukan sistem evaluasi seperti itu mungkin adalah kenyataan bahwa orang dewasa yang mendidik mereka (baik guru maupun orang tua) bahkan tidak terbiasa melakukannya. Kita sudah terlalu nyaman mengukur kesuksesan diri dengan membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Nyaman karena tidak membutuhkan usaha keras untuk mengenali diri sendiri, untuk mencari tau potensi diri, untuk menetapkan target, untuk mempersiapkan serangkaian rencana kerja, dan untuk bertarung melawan diri sendiri dalam upaya mencapainya.

Lalu bagaimana mau mengajari anak-anak kalau orang dewasanya sendiri saja enggan dan tidak terbiasa melakukan? Kan lebih mudah mengalir mengikuti arus saja. Kalau sukses ya nasib baik sedang berpihak, kalau tidak ya tinggal bilang sama diri sendiri bahwa selalu ada hikmah yang baik di balik kegagalan sekalipun.

Begitu memang lebih mudah diterapkan ke diri maupun ke anak-anak. Kalau ada yang bilang sistem ranking tidak penting, tinggal jawab saja, itu kan kata orang-orang yang tidak siap dengan kegagalan.

Ya sudah, kalau gitu yang dulu ranking satu terus, maju ke depan, tunjukkan saldo rekeningnya! *Eh