Di suatu masa, saya pernah menuliskan dua buah tekad di atas secarik kertas. Pertama, suatu saat nanti saya akan dibayar untuk menulis. Kedua, suatu saat nanti buku saya akan terbit. Tekad kedua belum tampak ujung hilalnya, tapi setidaknya yang pertama sudah.

Sekitar tujuh bulan lalu, Mas Ano menghubungi saya, menanyakan bagaimana kiranya jika saya diberinya satu kolom tetap di DNK tiap hari Jumat. Mak wooww banget rasanya, itu hal yang sangat mengharukan bagi saya yang bisa dibilang pendatang baru dan karbitan di dunia tulis-menulis. Mengharukan buat saya, karena ini kali kedua apa yang saya tuliskan di atas secarik kertas itu kemudian benar-benar menjadi kenyataan.

Terkejut campur khawatir tidak bisa mengerjakan dengan baik, sekaligus merasa tertantang. Bagaimanapun juga, saya belum pernah berada dalam kondisi dipaksa harus menulis secara berkala, yang artinya bahkan ketika saya sama sekali tidak punya bayangan mau menulis apa, saya harus tetap menghasilkan tulisan.

Di kemudian hari saya tahu, ternyata sebelum menghubungi saya, Mas Ano sudah terlebih dahulu menghubungi salah seorang karib saya, sebut saja namanya Tita Rosie, menanyakan apakah menurutnya kira-kira saya mau mengisi kolom tetap di DNK. Kawan saya itu menjawab dengan lugas, tegas, aktual, tajam, dan terpercaya, “Ya mesti gelem, wong Nia iku edan duit.” Bgzt sekali betulnya.

Tujuh bulan, itu berarti setidaknya ada kurang lebih 28 artikel yang berhasil saya setorkan ke DNK, jumlah tepatnya saya kurang pasti. Selama itu, DNK membuat saya melakukan apa yang kerap dilupakan oleh para pembelajar di bidang tulis menulis: memaksa diri berlatih secara rutin. Sering kali saya benar-benar frustasi karena sama sekali tidak punya ide mau nulis apa. Sekali waktu saya sambat pada Mas Ano, “Mas, aku blank nggak ada ide blas mau nulis apa.” Lalu ia menjawab, “Caramu nulis sudah cukup mateng, tinggal eksplor tema aja, coba main di tema-tema yang aneh-aneh. Misalnya, tips memenangkan gelut onlen secara cerdas. Hahaha.” Hadeehh…

Menulis kolom tetap mingguan di DNK sejauh ini adalah pencapaian terbesar saya sebagai orang yang, kata Mas Iqbal Aji Daryono, baru belajar menulis di usia 40 tahun. Mas Iqbal jelas sok tahu perihal usia saya, wong saya masih 17 tahun lebih muda dari angka yang ia sebut. Tapi saya paham betul maksud Mas Iqbal, untuk menegaskan bahwa saya itu baru kemarin sore belajar menulis. Makanya, kesempatan yang diberikan Mas Ano dan DNK itu sangat berarti bagi saya. Bukan cuma masalah honor yang sangat menyenangkan dan mengenyangkan itu, melainkan juga karena saya jadi merasa diapresiasi sehingga menambah semangat berproses di bidang ini.

Sayangnya, beberapa hari lalu, Mas Ano menyampaikan kabar yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, meskipun tetap saja menyedihkan dan sama sekali tidak saya harapkan, bahwa kolom mingguan saya di DNK terpaksa harus disudahi sampai di sini karena satu dan lain hal. Senjakala itu akhirnya menghampiri kolom saya di DNK.

Tidak apa-apa, saya bisa memahami alasannya, meski rasanya seperti diputus pas lagi sayang-sayangnya. Bagaimanapun juga, seperti perjalanan hidup para pecinta, DNK adalah cinta pertama saya. Ia memberi tantangan yang saya butuhkan untuk menguji kemampuan dan ketahanan, ia juga menyediakan ruang untuk saya berlatih sekaligus di saat yang sama mengapresiasi hasilnya dengan nilai yang layak.

Jadi, dear DNK, besar harapanku kamu bisa bertahan, dan suatu saat nanti kembali memanggilku untuk mengisi salah satu kolom tetapmu. Tapi andai tidak, seharusnya aku tak kehilangan semangat untuk melatih diri dan berproses menjadi semakin baik di bidang ini. Konon katanya, seorang penulis tidak bisa tidak menulis, karena menulis baginya seperti bernapas, ia tak akan bisa hidup tanpanya. Kalau hanya karena tanpa DNK lalu aku berhenti menulis, artinya aku memang tidak layak menyandang gelar penulis. Mungkin hanya pedagang tulisan saja. Biarlah waktu yang akan menjawab aku lebih pantas disebut apa.

Akhir kata, pokok’e matur nuwun yo, Rek. Matur nuwun Mas Ano, matur nuwun DNK, kokmen kalian sing paling yoihhh!