Beberapa waktu lalu beredar di lini masa tentang Anies Baswedan yang menerobos kemacetan dengan pengawalan voorijder. Seperti biasa, ramai netizen saling berpolemik. Kepala daerah yang mestinya punya tanggung jawab membuat warganya terbebas dari kemacetan, kok malah membebaskan diri dari kemacetan dengan pengawalan voorijder, terus empatinya itu di mana, kira-kira begitu protes netizen. Memang sih, kalau hubungannya dengan kepala daerah satu ini, seperti tak ada satu hal kecil pun yang boleh dibiarkan tetap kecil.

Sementara itu, ratusan kilometer ke timur, di sebuah daerah tingkat dua nan sepi, seorang kepala daerah menyelenggarakan resepsi pernikahan anaknya di pendopo kabupaten, plus menutup jalan raya utama di sekitarnya selama dua hari, tapi saya tak bisa menemukan komentar atau berita yang bernada kritik dari portal-portal lokal daring yang ada. Bayangkan kalau itu terjadi di Jakarta, pasti sudah kayak mau kiamat aja hebohnya.

Di situ saya sadar betapa adem ayemnya kehidupan rakyat di kota kecil ini. Suhu politiknya mungkin sedingin suhu musim dingin di Eropa yang bisa minus sampai berderajat-derajat. Lha iya adem, kada terpilih itu dari kubu petahana dan diusung secara masif serta terstruktur oleh delapan partai besar sampai tidak ada lagi yang berniat mengusung calon penantangnya. Pilkada yang sia-sia, karena lawannya kotak kosong. Mbok mending duitnya dibagi-bagi buat rakyat saja ya, buat hura-hura.

Sabtu kemarin, kebetulan saya sedang ada keperluan ke beberapa tempat di kota. Eh, tumben siang-siang kok jalur ke Simpang Lima ditutup. Tidak hanya satu jalan pula. Dari lima jalur jalan utama ke Simpang Lima, dua jalan ditutup penuh. Jalan-jalan lain tetap dibuka, tapi kanan kiri penuh dipakai untuk parkir mobil. Secara lalu lintas, ini memang tidak terlalu jadi masalah besar karena dasarnya kota kecil, banyak jalan alternatif yang bisa digunakan. Terganggu ya pasti, sedikit, tidak sampai memacetkan jalan.

Masalahnya, lokasi yang mau saya tuju (Toko Roti Menang) itu letaknya di jalan yang ditutup itu. Saya berhenti di depan polisi jaga, bertanya apakah saya boleh lewat ke jalan yang ditutup karena saya mau ke Menang. Boleh, katanya. Ternyata sepanjang ruas jalan Pemuda itu digunakan untuk parkir mobil di kanan kiri jalan sebanyak tiga lajur, jadi tersisa sedikit saja untuk jalur lewat sepeda motor. Mobil ya jelas tidak bisa lewat.

Saya ngobrol dengan Mbak Kasir Menang, bertanya ada apa kok ditutup semua arah Simpang Lima.

Katanya, “Pak Bupati mantu, Mbak.” Wah mantunya di pendopo berarti, pikir saya.

“Jadi hari ini jalanan dipake buat parkir begini, Mbak?” tanya saya lagi.

“Iya, mana 2 hari lagi, Mbak…” Mbaknya menjawab dengan nada prihatin begitulah, yang jelas bisa saya tangkap dan pahami.

Waktu saya bertanya apakah penjualan menurun, ia bilang, “Iya lah, Mbak. Kan susah mau masuk atau mau parkir.”

Itu padahal toko roti lumayan branded di Pati, yang saya lihat masih ada beberapa tamu Pak Bupati yang mampir belanja setelah jagong. Mungkin rumahnya luar kota, mau beli oleh-oleh buat keluarga. Memang toko roti ini cocok untuk belanja oleh-oleh kalau bepergian ke Pati.

Tapi terus bagaimana nasib toko elektronik, toko pakaian, konter HP, toko kelontong, minimarket, warung nasi gandul, warung tahu campur, dan warung soto Boyolali langganan saya itu yang barang dagangannya bukan jenis ramai dicari orang setelah menghadiri resepsi pernikahan?

Okelah, ini kota kecil, penggunaan jalur utama kota kabupaten di hari Sabtu–Minggu tidak akan menimbulkan gangguan lalu lintas yang teramat besar bagi warganya. Toh kalau ada konser di alun-alun juga biasanya jalur-jalur ini juga ditutup. Ada acara pemberangkatan atau perpulangan haji, jalan-jalan ini juga ditutup. Tapi itu kan untuk kepentingan umum, Gaes. Lain dong ya kalau ditutupnya untuk kepentingan pribadi seperti resepsi pernikahan, jelas akan menciptakan preseden buruk ke depannya.

Lagian, kalau ada konser itu biasanya berlokasi di alun-alun, pengunjungnya rakyat biasa dari berbagai pelosok kabupaten, mereka datang untuk buang-buang uang. Jadi, kegiatan ekonomi di sepanjang jalan yang ditutup itu masih tidak terganggu-terganggu amat, karena banyak kemungkinan orang datang mampir ke toko-toko itu entah mau beli atau sekadar melihat-lihat. Tidak beli pun tidak apa-apa karena jadi kesempatan buat toko-toko itu “nampang” dan dikenali oleh banyak orang dari pangsa pasar mereka.

Menutup jalan—apalagi jalur utama kota—untuk kepentingan pribadi, rasanya dilihat dari manapun kok nggak mashoook ya. Dari sudut pandang agama, bahkan sebutir duri saja wajib kita singkirkan dari tengah jalan supaya tidak membahayakan atau mengganggu pengguna jalan yang lain. Lhah ini kok sampai nutup jalanan, dua hari pula.

Dilihat dari sudut pandang aturan lalu lintas, ya sudah barang tentu mengganggu lalu lintas meskipun seberapa besar tingkat gangguannya memang berbeda-beda.

Dilihat dari sudut pandang kepentingan ekonomi rakyat, ya jelas sangat merugikan. Apalagi kalau daerah itu memang kawasan bisnis. Toko-toko yang dimatikan akses jalannya ya jelas kelimpungan 1–2 hari.

Memang sih, saya kan taunya resepsi ngantenan dengan suguhan lemper, bolu, bedaran, serta menu piringan soto ayam suwir-suwir biar irit. Itu pun hasil jerih payah para tetangga yang buwuhnya aja beras “rong tompo”–kira-kira sama dengan 2,5 kilogram. Tompo itu wadah dari bambu yang biasa dipakai untuk ukuran menciduk sesuatu, seperti beras, dedak, karak, dan sebangsanya yang biasa digunakan sejak masa nenek moyang.

Memangnya saya tau apa tentang prestise, memangnya saya tau apa soal menjamu “orang-orang besar dan terpandang”, memangnya saya tau apa tentang pesta yang bukan pestanya rakyat jelata?

Tapi ya begitulah rakyat jelata di kota kecil, adem ayem santai selalu. Tidak ada kebisingan yang berarti akan gangguan apapun yang ditimbulkan oleh orang lain, apalagi oleh beliau yang terhormat. Mungkin karena terbiasa hidup santai, woles, tidak berkejar-kejaran dengan apa-apa, ya rakyatnya tetap santai saja. Bahkan mereka yang secara langsung dirugikan pun ya santai saja. Diundang datang ke resepsi Pak Bupati saja sudah bangga kok.

Ini saya jadinya juga mikir-mikir, kesannya kok saya jadi rewel sendiri padahal yang lain-lain saja kalem-kalem aja tuh ngapain coba… Hmmm…