Namanya Ratemi. Kakak sepupu saya dulu sering mengejek saya dengan nama itu. Gara-gara seorang mbak admin di ruang tunggu dokter spesialis yang mleset pendengarannya. Wong saya bilang Rahmi malah ditulis Ratmi. Lalu ia memanggil saya dengan nama yang ia tulis itu, dan kakak sepupu yang mengantar periksa pun tertawa sampe nangis.

“Rahmi, Mbak, Rahmi. Pake ha bukan te,” sembur saya tak kalah galak.

Tapi ini bukan tentang itu. Ini tentang Ratemi, pakai e di antara t dan m. Hanya mirip saja dengan nama saya yang didengar mleset oleh mbak admin dokter tempo hari. Tapi ya tetap saja tiap kali bertemu dengannya saya jadi ingat kejadian menyebalkan itu.

Padahal kalo dipikir-pikir apa yang membuat nama Ratemi terdengar lebih buruk dibanding Rahmi hingga kakak saya tertawa sampai menangis dan saya tak sudi dipanggil begitu?

Tapi sekali lagi ini bukan tentang itu. Ini tentang Ratemi betulan, yang dipanggil Minthul oleh orang-orang kampung, yang bapaknya bernama Kayat, punya kakak bernama Sumadi tapi orang lebih suka memanggilnya Dindol, yang sudah miskin sejak kakeknya.

Kalo kekayaan Ade Komarudin tak habis tujuh turunan hingga anaknya bisa jadi anggota dewan di usia 24 tahun dengan harta 60 milyar, kemiskinan kakek Ratemi tampaknya juga tak akan habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh tikungan, mungkin juga tujuh reinkarnasi.

Kakak Ratemi menikah dengan perempuan yang juga miskin. Entah karena apa dan bagaimana ia menderita diabetes menahun di usia yang relatif masih muda. Badannya kurus, layu, dan tubuhnya dipenuhi luka yang membusuk tanpa perawatan sampai ajal menjemputnya.

Mereka punya seorang anak perempuan, usianya mungkin sudah hampir dua puluhan sekarang, yang juga menderita diabetes seperti ibunya, sejak usia belasan. Mungkin sejak bayi disusui susu kental manis yang bukan susu itu. Atau bagaimana kenapanya entahlah.

Badannya kurus, sorot matanya layu. Seorang kerabat merawatnya sepeninggal ibunya. Kemiskinan melahirkan kemiskinan.

Sepeninggal Kayat yang tak meninggalkan rumah atau harta benda berharga, Ratemi pergi dengan ibunya. Mereka mendirikan gubug sekaligus rumah sekaligus warung kopi di dekat kuburan cina. Lalu kena gusur.

Mereka pun kembali ke kampung. Mendirikan gubuk di tepi sawah, jauh dari perkampungan. Di sana mereka memulai karir yang sama. Buka warung kopi tapi kali ini dengan penambahan fitur layanan. Prostitusi kelas kampung.

Gubug sekaligus warung kopi itu lantainya masih tanah. Pating brenjol tanpa ditumbuk supaya rata. Dindingnya bambu tipis mungkin yang paling murah. Pelanggannya laki-laki tua dan setengah tua yang masih gatal menyalurkan hasratnya di luar rumah. Dengan tarif beberapa puluh ribu rupiah saja mereka bisa menikmati layanannya.

Menurut penuturan warga, di masa ramainya dulu, mereka sanggup juga mendatangkan pekerja seks berbayar dari luar kampung. Tapi lama kelamaan ibu Ratemi menua. Gubug makin reyot sampai nyaris ambruk. Pelanggan makin tak ada. Ratemi sudah beranak tiga tanpa suami. Tetap melarat.

Kepala desa menyuruh mereka pindah ke dalam kampung, bersedia membangunkan rumah sederhana asal mereka mau hidup wajar sesuai norma yang berlaku di masyarakat. Tapi mereka tak mau.

Bagaimana mau hidup di dalam kampung dengan rekam jejak seperti itu. Mau kerja apa, siapa yang mau mempekerjakan. Kalau masalah itu, kepala desa pun tak punya solusinya.

Seharusnya, pendidikan yang bisa memutus lingkaran setan kemiskinan. Tapi entah mengapa itu pun tak berlaku dengan mereka.

Ratemi dan Dindol bukannya tak pernah sekolah. Mereka sekolah. Kami sekolah di sekitaran waktu yang sama. Mungkin ada yang salah dengan isi otak mereka. Tak ada seujung kuku pun pelajaran sekolah nyantol di kepala. Karena lelah tinggal kelas akhirnya keluar saja. Buat apa juga.

Kajian kemiskinan secara teoritis terbiasa mengelompokkan kondisi miskin menjadi dua kelompok berdasarkan penyebabnya. Kemiskinan kultural dan struktural.

Jika kemiskinan itu disebabkan oleh dampak negatif pembangunan atau kebijakan yang tidak pro rakyat miskin, maka pakar menyebutnya kemiskinan struktural.

Jika miskin itu disebabkan oleh faktor-faktor yang ada dalam diri si miskin itu sendiri misalnya mental miskin, bodoh, tidak kreatif, mereka dikelompokkan dalam kategori kemiskinan kultural.

Diklasifikasikan begitu supaya mudah dikenali penyebabnya. Kalau dikenali penyebabnya, harapannya bisa melakukan intervensi dengan tepat. Tapi, ini sudah berpuluh tahun berlalu.

Berjilid-jilid repelita disusun, kabinet pembangunan diganti, pemerintah direformasi, repelita diganti renstranas dan sebagainya, tapi semua itu seakan masih jauh sekali dari menjangkau kelompok yang miskinnya tujuh turunan ini.

Padahal amanat dalam Undang-Undang Dasar ’45 juga masih sama. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Tidak ada beda apakah itu fakir miskin struktural maupun kultural.

Diam-diam menganggap orang-orang seperti Ratemi ini setara dengan sampah masyarakat tak hanya dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat sekitar pun demikian adanya. Ketidakpercayaan masyarakat terlalu besar untuk bisa menerima mereka kembali sebagai anggota masyarakat. Dalam keadaan seperti itu, tak ada kepercayaan maka tak ada pekerjaan. Tak ada pekerjaan maka tak ada makanan. Itu sudah.

Saya nonton film “Parasite” dan menyadari betapa lebarnya perbedaan miskin di film itu dengan kemiskinan-kemiskinan yang saya hadapi. Mengelola Lazismu membuat saya banyak berhadapan langsung dengan mereka.

Mungkin itu sebabnya saya jadi nggak terlalu relate pas nonton film itu. Mungkin karena saya jadi terlalu fokus dengan gambaran kemiskinannya alih-alih fokus dengan alur yang menurut banyak orang istimewa itu.

Seringkali kelompok orang miskin yang saya hadapi adalah mereka yang benar-benar tidak memiliki akses pada pekerjaan, pendidikan yang layak, pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki kehidupan, dan pada pinjaman. Bagian terakhir ini yang paling bikin senewen.

Pinjaman itu salah satu hal yang membuat mereka dihindari oleh masyarakat. Jadi semacam public enemy karena hutangnya sudah berjajar-jajar dari Sabang sampai Merauke nggak ada yang dibayar. Padahal ya memang karena kurang sekali untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kalaupun punya uang, mereka sama sekali tak punya kemampuan mengelolanya.

Pada kondisi miskin yang paling miskin ini, semua kondisi seolah saling mengunci untuk membuat mereka tetap miskin. Mungkin satu-satunya jalan untuk memotong lingkaran setan kemiskinan ini adalah membuat mereka berhenti melahirkan generasi-generasi baru si melarat.

Antara pemerintah membuat kebijakan baru orang miskin dilarang berkembang biak, atau mengambil tanggung jawab membesarkan anak-anak mereka dan mendidiknya supaya tidak jadi generasi melarat berikutnya.

Bagaimana skemanya? Ya mbuh pikiren dewe, Pak, mosok kabeh-kabeh kon aku sing mikir lha sing entuk bayaran akeh seko duit pajek sopo, hihhh!