Ini adalah pengalaman pribadi yang belum pernah kuceritakan pada siapapun. Perkenalkan namaku Joe (anggap saja begitu, red). Sekarang aku masih semester lima di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Pengalaman yang akan kuceritakan ini saat aku masih semester satu, masih zaman ospek-ospekan.

Jadi dulu aku pernah punya pacar. Kami pacaran sudah lama sekali sampai-sampai teman-teman kami menganggap kami couple goals. Cuman sayangnya, pacarku ini beda kampus denganku. Aku sih tak masalah pada awalnya. Namun setelah dipikir-pikir, hubungan ini berat karena kita jarang ketemu, jarang kencan, dan aku yang ingin pamer pacar ke teman-temanku jadi bingung sendiri.

Saat itulah hadir sosok bernama Anissa, yang membuatku amat berdosa sekaligus bahagia di waktu bersamaan.

Annisa sebenarnya bukanlah penggoda yang sebenarnya. Pun juga aku. Annisa toh juga sama-sama LDR dengan cowoknya. Jadi lebih baik kalian semua yang membacanya menyalahkan jarak saja. Itu membuatku lebih tenang.

Kedekatanku dengan Annisa sebenarnya natural saja. Dia teman sejurusan, lantas bertukar nomor ponsel, jalan bareng, hanya gitu-gitu saja. Lantas kejadian saat malam penutupan ospek di Pacet membuatku celaka.

Hubunganku dengan Annisa hanya sebatas kawan, sampai akhirnya ada situasi yang membuatku menyerah pada jarak.

“Joe, dimana nih?” ujar Annisa padaku malam itu waktu aku sedang bergerombol bersama teman-teman cowokku. Kamar cowok dan cewek memang dipisah, jadi jangan harap ada yang mencuri kesempatan.

“Di kamar Sak, lapo?” tanyaku.

Annisa lalu mengajakku bertemu sebentar. Ini amatlah berisiko karena kalau ketahuan, aku bisa langsung dihukum oleh kakak tingkat yang terus ngedumel sepanjang waktu.

Tapi aku nekat menemui Annisa di gelap dan dinginnya Pacet. Aku mengendap-endap, pun juga Annisa. Kami bertemu di sebelah batang bambu yang berderit-derit.

Annisa menatap mataku dalam-dalam. Lalu menjauh. Lapo se cok arek iki, batinku. Kutarik lengannya.

“He lapo?” tanyaku.

“Kamu ditaksir mbak-mbak panitia lho!”

“Lah terus?”

Annisa diam.

“Aku boleh cemburu nggak sih?” ujarnya padaku sambil berlalu.

Aku tak tahu dia menangis atau tidak waktu itu. Tapi sepertinya iya. Aku tak tahu harus berbuat apalagi. Rambutnya tergerai saat berlari, mekar terkena angin malam. Kaus abu-abunya, jaket Adidas, sepatu Nike Running, training ketat. Gila manusia satu ini begitu stylish malam-malam begini.

“Sak, cemburu gimana? Aku lak duduk pacarmu hehe,” isi pesanku pada Annisa setelah pertemuan itu.

Lama tak ada jawaban.

“Iya hehe. Maaf. Maaf banget Joe. Aku nggak rela aja,” jawabnya.

Hatiku terasa hangat. Jancuk kan.

“Sak, aku yo cemburu tadi pas kamu digodain arek lemu iku, dancok ancene. Podo Sak. Plis. Sayange, awakdewe wes podo duwe pacare yoo,” jawabku.

“Iyoo Jo, taek yo. Aku yo sayang pacarku. Kamu yo sayang nemen sama pacar kamu. Tapi awakdewe saling sayang nggak se?”

Entah kenapa aku bergairah. Membayangkan senyum pertama Annisa saat kujumpa. Ah anjing. Lembutnya. Wajahnya seperti Raline Shah, cuman lebih pendek dan mungil dan—ehem—berbulu tipis.

“Yo Sak, aku sayang kon lo,” jawabku.

“Podo Jo aku yo sayang kon bangeeeet ngertia,” jawabnya.

Biadab. Wenaaak rasaneee. Jancik.

Lepas malam kami sama-sama tertidur. Saat itulah kami dibangunkan jam dua dini hari. Hima jancok sesi ospek taek. Opo-opoan bengi-bengi ngene. Arepe mbugah saur a?

Setelah digembleng dan diuji dengan gendeng di perbukitan persawahan Pacet, ospek ini akhirnya berakhir pukul setengah empat lebih. Aku ngedumel dalam hati saat berjalan menuruni aspal Pacet yang lembab. Sampai aku menoleh ke belakang dan kalian tahu, Annisa cuy!

Kami berjalan berdua. Angin subuh. Manja mesra rembulan yang hampir jatuh. Songsong angin semilir yang berdesir. Mentari yang hampir tiba. Mataku dan mata Annisa. Entah siapa yang memulai, tangan kami saling bergamit tanpa bercakap. Jari yang mengisi jari masing-masing. Semua dari kami berusaha menjaga nafas, padahal degup jantung sekencang lalu lintas udara Pacet. Aku menoleh dia menoleh.

Dan kembang api bergedoran di langit, tepat di depan mata kami yang semakin mendekat.

Yayaya, ledakan kembang api ini mungkin jadi satu-satunya hal benar yang dilakukan anggota Hima. Di Pacet cuman semalam, tapi di hati ini rasanya bisa bertahan selamanya.