Aku sudah bersamanya kira-kira hampir dua tahun. Dia adalah sosok pria sempurna yang mungkin dititipkan Tuhan padaku. Pacaran dengannya Alhamdulilah tak kurang suatu apapun. Dia selalu mengerti, sabar, penyayang, neriman, dan sering memberikanku kado.

Cuman sayang, dia tak suka kucing.

Aku bahkan tak bisa tertawa lihat Tom disiksa Jerry walaupun itu cuman kartun. Tapi pacarku doyan banget menyepak kucing.

Sebenarnya ini bukanlah ganjalan karena ada banyak aspek lain dari dalam dirinya yang membuat para perempuan seolah-olah antri ingin memilikinya. Tapi, buatku yang seumur-umur hidup bersama kucing, aku tak sanggup melihat laki-laki yang mengusir kucing saat kita makan bersama.

Hatiku kemratak saat dia menendang—meski pelan—pada tubuh si kucing di saat kebetulan sedang menghampiri kami yang duduk menikmati makanan yang memicu hasrat lapar si pus.

“Sayang, jangan diusir,” ujarku padanya.

“Nggak diusir gimana. Kucing ini ngganggu banget tauk!” jawabnya.

Selama dua tahun ini pun aku selalu sembunyi-sembunyi saat membelai kucing. Aku tidak mau dia sampai marah dan lantas meninggalkanku. Satu hal yang dia tak tahu adalah, ada dua kucing di rumahku, kunamakan Si Bos dan Si Patkai.

Si Bos jenis kucing hitam putih yang bertampang bossy, sementara Patkai, kocheng oren yang endut gemes—agak menyesal aku menamainya Patkai, harusnya Garfierld.

Suatu hari cowokku berkunjung ke rumahku. Ini agak aneh karena kami sudah jalan dua tahun, tapi tak pernah saling berkunjung ke rumah masing-masing. Selain kesibukan, ada alasan jarak dan kesungkanan yang membuatnya baru bisa mengunjungi rumahku.

Setelah bersalaman dengan ibuku (ayahku memang jarang ada di rumah karena urusan dinas), dia lebih memilih melihat pohon mangga sambil duduk-duduk di teras. Saat aku masuk membuatkan minum, saat itulah aku teringat pada Si Bos dan Si Patkai. Pada ke mana ya mereka?

Aku membuatkan kopi panas untuk cowokku. Saat mengantarnya ke luar, aku tak sengaja melihat cowokku menendang perut Si Bos sambil berujar,”Hush! Hush! Sana yang jauh!”

Tentu saja ini membuatku marah bukan kepalang. Berani-beraninya dia berbuat begitu pada Si Bos!

Si Patkai yang tadi kucari-cari ternyata berada di dalam rumah. Aku segera menggendongnya. Kuletakkan kopi buatanku tadi secara sembarangan, lantas memaki cowokku. Iya, memaki.

“Kamu jangan kasar sama kucing!” bentakku.

“Lho, kenapa? Kamu kok nggendong kucing?”

“Iya, ini namanya Si Patkai. Yang kamu tendang tadi namanya Si Bos! Mereka kesayanganku!” jawabku sambil membawa kedua sayangku ini masuk ke dalam, lantas membanting pintu.

Selanjutnya ada suara ketokan pintu, tapi tak kuhirau. Ibuku kularang membukakan. Hingga akhirnya dia pun meminta maaf lewat chat, tapi tak kugubris sama sekali. Aku tak bisa mengucapkan kata putus. Tak tega. Intinya aku benar-benar marah.

Di malam hari saat aku mulai mereda, aku menjawab telepon darinya dan membahas pertengkaran tadi. Kukeluarkan semua uneg-uneg yang mengganggu.

“Aku dari kecil hidup sama kucing, di rumah selalu ada kucing, kamu ngerti nggak sih?” rutukku.

Kalian tahu dia menjawab apa?

“Aku dari kecil benci kucing. Aku pernah dicakar. Keluargaku akhirnya juga benci kucing. Kamu ngerti nggak sih?” jawabnya.

Dan aku pun mencari tombol blokir, segera, secepat-cepatnya.

Tapi aku sedikit menundanya: lebay nggak sih kayak gini hanya karena kucing?