Kita sebut saja ini omong kosong karena tak ada yang namanya tips atau trik itu dalam menghadapi ngapel pertama ke rumah calon mertua. Segala saran biasanya hanya berujung kepalsuan: pura-pura senyum, pura-pura memilih topik obrolan, pura-pura bisa main catur (kali aja diajakin bapak camer main); tapi toh semuanya sia-sia belaka. Sekali lagi, omong kosong.

Kontrol dirimu tak ada lagi saat menghadapi kunjungan pertama kali ke rumah pacar ataupun calon. Ingat, pertama kali. Mungkin kamu bakal hebat di apel-apel berikutnya, tapi percayalah, pasti saat ngapel pertama kamu bakal gugup, nervous, dan lidahmu jadi pahit sendiri.

Beberapa pengalaman berikut ini mungkin bisa memberimu gambaran. Kalau-kalau kamu belum pernah ngapel untuk pertama kalinya (kasihan sekali!), ataukah sekadar ingin mengingat romansa masa lampau.

Faiz (24 tahun, nama samaran), adalah salah satu orang yang kami mintai pendapat. Faiz ingat benar apel pertamanya ke pacarnya (sekarang mantan) terjadi di semester pertengahan perkuliahan.

“Dulu si sempet pacaran, cuman nggak pernah sampai main ke rumah. Baru kali itu. Rasanya emang nggateli, campur aduk,” ujarnya.

Faiz, datang jauh-jauh dari Mojokerto, ke rumah pacarnya di daerah Cepu. Ia menggunakan motor bututnya, menuju ke lokasi yang teramat jauh itu.

“Seng juancok, pas iku udan deres. Jadi aku berteduh sek, sampek sana malem. Fak kacau,” tambahnya.

Faiz, dengan perasaan deg-deg-an dan bingung, menghadapi calon mertuanya yang nampak tak bersahabat di pertemuan pertama.

“Ya gimana ya. Aneh gitu. Kayak dingin. Bahkan nyodorin teh juga dingin, nggak panas.Asu nggak se!”

Parahnya, Faiz pun kebingungan karena di sana juga sedang hujan deras. Tak ada pilihan lain. Ia terus menunggu semalaman. Datang malam, nggak pulang-pulang pula.

“Ibunya kayak nyerah gitu, ngantuk. Nggak etis juga nyuruh aku pulang. Akhirnya terpaksa disuruh tidur di sana, di sofa,” tambahnya.

Tapi toh ini jadi kesan yang buruk. Entah karena ngorok, bangun kesiangan, atau bau badan, atau faktor Faiz semata, esok harinya ibu camernya bilang sesuatu yang menohok hati.

“Jancok, disuruh putus, tapi ualus banget. Koyok, wes jangan ke sini lagi ya, Mas, adoh. Lek ancen susah nggak diterusno ambek anakku yo gak popo,” ujar Faiz sambil kembali meredakan borok di hatinya.

Lain halnya dengan Faiz, Thomas (25 tahun, nama samaran), punya nasib yang berbeda. Apel pertamanya disambut riuh oleh mama si pacar.

“Ramah banget, nyuruh masuk, nanya-nanya, dibikinin sirop, dikasih makan. Sampek sungkan dewe,” ujarnya. “Malah pas pulang, pipiku dicium Mamanya,” tambahnya, entah dengan nada nafsu atau sayang.

Deg-deg-an bahkan sebelum masuk gerbang, dialami oleh Thomas. Ia bahkan sempat mau pulang saja. Rasanya–tak terkatakan. Harus dirasakan sendiri biar ngerti.

Kesuksesan apel pertama memang tak menjamin pasangan bakal langgeng. Tapi setidaknya, ini bisa memunculkan rasa percaya diri. Thomas mengaku, sekarang malah lebih siap, bahkan tak grogi sama sekali mengunjungi rumah pacar barunya.

“Ya ini faktor apel pertama dulu, kerasa sampai sekarang. Bisa ngontrol banget, tapi nggak fake. Natural aja,” ujarnya

Sementara Faiz, sampai saat ini masih bingung. Apel pertamanya yang kacau jelas menimbulkan trauma. Bahkan Faiz lebih ekstrem: ia trauma ke kota yang sama dengan mantannya itu, sampai benar-benar tak mau dekat dengan perempuan yang berasal dari kota itu.

“Yo kapok ae. Kuapok. Wes pisan ae koyok ngono. Morotuo jancok!” umpatnya.

Jadi intinya, memang benar, tak ada tips dan trik saat apel pertama. Mungkin ada, tapi yang terlalu teknis malah bikin dirimu kaku kayak kanebo kering. Mungkin kami bakal membahas teknisnya, tapi yang paling penting: asah sendiri keberuntunganmu.

Sadari dua hal dari dua sisi ini: kalau apel pertamamu chaos, tinggalkan atau semakin gigih berjuang. Kalau apel pertamamu berhasil, lanjutkan dengan lancar, jaga jangan sampai hokimu hilang. Seperti itu aja sih rumusnya.

“Sore hari kerumah mu, sendiri
Jalan kaki menuju, harapan
Awan putih dan layangan di atas ku, jarak ini semakin dekat tiga langkah
Di muka rumahmu, menyapa pintu
Selamat sore..”

(C’mon Lennon – “Kikuk)