Cukup sudah. Aku sudah lelah dengan segala kepayahan hati ini. Tercabik-cabik sepanjang tahun, dipermainkan olehnya. Cukup sudah, resolusi cinta yang kuukir tahun lalu di telapak tanganku. Sekarang, semuanya berubah oleh hadirmu.

Cinta adalah hal rumit, serumit rambut ikalnya yang selalu gagal kuusap. Aku tak pernah benar-benar paham mengapa hubunganku dengannya bisa begitu juga. Hadirmu awalnya seolah nampak biasa saja, tapi seketika perlahan menggeser dirinya, yang nyatanya tak mau benar-benar singgah.

Sepanjang tahun ini, aku telah menggenapi banyak hal kelabu. Mencintainya dengan sungguh, mengorbankan waktu dan segalanya dengan penuh. Aku tak lihai membaca hati, karena yang kubaca darimu sepenuhnya rupa. Tapi, cinta tak selalu berbalas madu. Yang mendominasi hanyalah air tuba.

Dia kukejar, kupelihara dalam mimpi, tak pernah terputus. Rindu sepanjang tahun, lelah penat tak menghalangiku. Serbuan obrolan, pagi sore malam, sudah jadi kebiasaan. Mimpiku sepanjang tahun hanyalah dengannya.

Dan dia, nyatanya tak tahu harus berbuat apa. Membuat penantianku seperti burung dara kehilangan rumah. Terombang-ambing. Kadang dia begitu nyaman, tapi seringkali menegangkan. Kadang begitu manja, selebihnya murka.

Lawan jenis yang selalu kucemburui, dia jadikan komoditas untuk menceramahiku soal kebebasan dalam hubungan, kesabaran dalam perbuatan. Dia selalu nampak egois dalam hal ini, tapi aku merasa keegoisannya adalah caraku untuk terus bersetia dalam mencinta.

Dia adalah mimpi yang terlalu indah, tapi terlalu naïf untuk jadi nyata. Rambutnya, senyumnya, mungilnya, sawo matang kulitnya, kelopak mata cerahnya: terlalu jauh untuk kugapai. Aku memang bisa terus memuji, tapi nyatanya tak pernah bisa sepenuhnya memiliki.

Dan kamu, hadir dengan biasa saja, tanpa tendensi menggeser dirinya. Kamu hadir dengan perhatian yang ala kadar, tanpa perlu jadi sepenting dirinya. Kamu, dengan Converse usangmu, nampak tak mendambaku. Segalanya berjalan begitu saja.

Sampai aku tahu bahwa resolusi cinta awal tahunku sudah bergeser, dari dirinya, menjadi kamu.

Memang salahku yang tak pernah bisa, mengganti dirinya untuk bersama kamu. Selama ini, kamu selalu kupandang sebelah mata. Hanya sebagai teman, tameng, pemecah kebuntuan. Bukan ratu yang kuagung-agungkan sehingga nampak mendominasi percakapan.

Kamu, sekilas memang nampak biasa saja, tapi kamu memancarkan cahaya. Dia, memang sepenuhnya nampak sempurna, tapi tak ada cahaya yang bisa membuat mataku berkilatan.

Ini resolusi awal tahun dariku, budak cinta nomor wahid, buat kamu. Ratuku yang baru.

Berbincang lebih intim sesudah nonton bioskop bersama. Mencari celah rasa yang mungkin saja ada. Maka dari itu, sesudah nonton bioskop aku harus mentraktirmu makan di café, bukan penyetan atau McDonalds.

Memegang tanganmu, bukan lengan atau pundakmu. Membuatmu merasa bahwa aku sudah mencintaimu, meski aku masih malu-malu, tapi aku harus tahu.

Mulai mengubah pertemanan menjadi hubungan percintaan. Bagaimanapun caranya, aku harus melempar kode, mengubah kecuekan menjadi perhatian tanpa terkesan canggung.

Kalau sudah, tinggal siapkan rencana penembakan. Aku tak tahu harus menembak di mana. Aku hanya ingin segalanya berjalan senatural mungkin, sebiasa mungkin. Bisa di atas motor, warkop, di warung mie ayam langganan, atau bahkan di depan pagar rumahmu.

Membahagiakanmu. Aku masih belum tahu bagaimana caranya, tapi akan kulakukan segera.

Menemui orang tuamu.

Membuat rekening ganda. Satu pemasukan, satu tabungan.

Berhemat. Mengurangi rokok.

Melamarmu.

Mulai menyicil rumah.

Mencari vendor undangan dan catering paling murah.

Dst. Dst. Dst.

Semoga resolusi cinta awal tahunku bisa segera terwujud. Aamin~