Cerita romansa SMP Era 2000-an sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Romansa SMP era 2000an (2): Lagu Backsound Cinta Monyetmu

Sesudah bercerita tentang fenomena SMS-an dan lagu-lagu klasik untuk bahan PDKT di masa SMP, sekarang aku akan bercerita lebih dalam lagi. Aku akan memberi pemahaman bahwa cinta monyet yang pasti pernah kita lalui, memang bukan cinta pertama. Tapi ini jauh lebih mantap, liar, dan gila-gilaan.

Ceritaku dengan Puput mungkin bisa jadi tolak ukurnya.

Aku jadi mengenal Puput di acara pensi, yang berlanjut jadi SMS-an tanpa henti. Puput bukanlah tipe gadis polos seperti Dea, atau centil seperti Kiki. Puput benar-benar apa adanya. Tomboy, pakai gelang, sepatu Converse, dan hal lain yang membuatmu setakjub itu.

Puput yang merupakan putri dari guruku sendiri, justru kadang malah yang sering mengajakku nakal. Dalam artian pulang sore, bersembunyi dan pacaran di kebun orang, sampai nongkrong lama di sebuah halte jalan protokol. Aku juga kadang seringkali mencari bakso langganan saat sepulang sekolah.

Pacaran dengan Puput membuatku mengerti banyak hal. Pikiranku luas, terbuka, dan tak sesempit dulu. Dunia dalam kacamata Puput amatlah menarik. Ia memberi tahuku tentang puisi, novel, dan musik-musik indah.

“Five Minutes itu sampah, Kangen Band itu taik kucing!” ujar Puput lantas memutarkan Green Day dari ponselnya. Aku pun menikmatinya dan merasa tergiring. Bahkan, Puput mendandanku seperti Billie Joe Armstong, pentolan Green Day.

Tapi poinnya bukanlah itu. Puput saat ini memang sudah punya pacar lagi dan kabarnya akan menikah. Tapi di dua tahun hubungan kami—kami putus saat ospek SMA karena aku dan dia berbeda sekolah—ada banyak jalur kenangan yang kadang membuatku buruk, sedih, tapi juga ceria dan bahagia.

Termasuk jalan-jalan kenangan, tempat kami dulu pernah jalan bersama. Puput, aku yakin juga merasa begitu.

Jalan yang pernah kau lewati bersama cinta monyetmu sewaktu SMP, jelas tak akan pernah kau lupakan dalam ingatan. Kau pasti akan melewatinya dengan beragam perasaan di usia dewasamu. Kau tak akan pernah berhenti berpikir saat melihatnya.

Bisa dibilang, inilah cinta sejati itu. Cinta monyet. Cinta yang akan terus selalu diingat, meski kau sudah punya pasangan, sudah menikah, sudah peyot. Menurut pemahamanku, cinta sejati bukanlah cinta terakhir, tapi cinta monyet pertamamu.

Bayangkan, bayangannya akan terus hidup meski sudah beragam rupa cinta kau jumpai. Kurang sejati apalagi untuk disebut cinta sejati?

Puputlah yang mengajariku akan kesejatian itu. Cinta pada Puput memang pernah padat, dan meskipun putus tak pernah menguap. Hanya berubah menjadi lebih cair. Cinta sejati adalah saat kau melihat dirinya bersama orang lain, tanpa merasa cemburu, tapi kau tahu masih dan tetap akan ada rasa yang tersisa, tak bisa lepas, tak bisa hilang.

Satu ruang di hatimu telah terisi. Terkubur dan tak bisa terurai.

Seperti yang kualami saat ini, saat aku kembali melintasi jalanan yang pernah kulalui dengan Puput. Aku seakan bisa mendengarkan celotehnya, renyah suaranya, hangat senyumnya, dan kegilaan candanya. Ada sedikit rindu, ingin kembali ke masa itu selamanya. Menyeruak, tapi tak mungkin. Yang ada aku hanya tertawa, tapi di dalam hati ingin menangis.

Kau pasti pernah mengalaminya. Dan tak akan pernah melupakannya.

Untuk Puput, terima kasih sudah pernah menjadi cinta monyet yang paling cair dalam hidup masa remajaku. Aku akan mengenangmu sepenuhnya, dalam jalan-jalan yang pernah kita lalui. Karena aku tahu kita berhenti mencinta bukan karena sudah tak saling sayang, tapi karena terpaksa oleh keadaan.

Ditulis oleh Suar Amrizal. Salam hangat untuk semua Puput yang pernah mengisi hidup kita.