Pengalaman sewa kamaran murah di Surabaya ini diceritakan oleh Samsul dan Wahyudi (nama samaran), yang kemudian direkonstruksi oleh pengasuh rubrik Oh Mamah Oh Papah. Semua kisah di dalamnya murni nyata. Tak ada tendensi apapun. Nama narasumber, lokasi, dan hal sensitif lain, sengaja disamarkan.

Kata siapa di Surabaya tak ada lokasi kamaran atau kos bebas untuk seks? Tak hanya sekadar short time 30 menitan, lokasi ini malah bisa menyediakan full time full booked layaknya hotel pada umumnya.

Lokasinya terletak di area K–kami tak akan menyebutnya–yang bahkan berdeketan dengan salah satu kampus ternama. Ini jadi wahana paling menyenangkan untuk pasangan yang dimabuk asmara, tanpa perlu jauh-jauh ke Tretes, Pacet, atau Songgoriti.

Cerita ini punya setting kisaran tahun 2016-2017, jadi perkara apakah lokasi ini masih ada atau tidak, kami tidak menjaminnya. Tapi kemungkinan besar masih ada (update terbaru dari narasumber menyatakan sempat menyewa lokasi ini tahun lalu).

Samsul dan Wahyudi, narasumber kami, adalah sepasang teman dekat. Tapi kami mengobrol dengannya secara terpisah. Wahyudi, mengetahui informasi kamaran ini dari Samsul–yang dikenal sebagai koboi cinta pemburu kenikmatan. Keduanya adalah mahasiswa (kami tak perlu sebut kampusnya), yang menceritakan tentang pengalaman lamanya.

“Awalnya iseng, nanya-nanya random ke orang sekitar situ. Hotel atau penginapan gitu. Terus dikasih tau lokasi itu. Semacam kos bebas, 100 ribuan per check-in,” ujar Samsul.

Awalnya Samsul hanya modal nekat. Dia ke resepsionis ala-ala, menyewa kamar untuk berdua dengan single bed, bayar dan langsung dikasih kunci tanpa ditanya macam-macam.

“Ini membuat saya yakin, walaupun agak ketar-ketir juga kalau ada grebekan,” tambahnya.

Mereka menyewanya sepulang kuliah, sejak pukul dua siang. Samsul mengaku tak tahu apakah pacar barunya ini bisa diajak mantap-mantap. Tapi Samsul selalu punya cara–yang mentok sementok-mentoknya cuman dapat cium bibir semata.

Detil eksekusi Samsul bisa kalian bayangkan sendiri. Namun, ini bukan pemaksaaan. Tak ada Reynhard Sinaga di sini. Murni suka sama suka.

“Ya gitu, datang, main. Ketiduran sampe maghrib, lalu mandi, cari makan, kembali ke kamar, main sampai beberapa ronde. Nggak pernah ada kondom, saya nggak suka. Jadi keluar di luar saja. Di perut bisa, susu bisa,” ujarnya.

Samsul mengaku deg-degan saat malam tiba. Takut kalau-kalau ada penggerebekan. Tapi toh sampai beberapa ronde, situasi masih aman terkendali.

“Nggak ada yang ketok-ketok pintu, sepi. Mungkin sudah sama-sama tahu,” ujarnya.

Petingkah Samsul ini ditiru Wahyudi, penggemar anime yang punya fantasi berlebihan pada hentai. Wahyudi, yang baru punya pacar, langsung mengajaknya main-main ke K.

“Dikode-kode dulu, mau nggak dia diajak nginap. Dia mengangguk. Tapi sebelumnya juga udah njajal grepe-grepe di warnet sih, jadi ya kemungkinan besar pasti mau,” ujarnya.

Saat itu, Wahyudi hanya mendapat informasi dari Samsul semata. 100 ribu, full booked. Kamar mandi dalam. Televisi di depan kasur.

“Jadi ya langsung main sampai sana, tapi aku nggak berani sampai masukin. Ya cuman nuntasin fantasi aja kayak hentai. Dia aku suruh pakai seragam, lalu gesek-gesek gitu doang sampai klimaks,” ujarnya menggambarkan adegan petting.

Sekali lagi, ini bukan artikel yang mengobjektifikasi atau lendir atau apalah, murni pengalaman tanpa tendensi apapun. Hanya ingin memberi gambaran seperti apa kamaran murah di Surabaya yang bisa dipakai hohohihe?

Tapi 100 ribu itu murah atau mahal sih? Samsul menyatakan, harga ini amatlah murah karena full time.

“Di Tretes dulu 35-an, tapi bentaran. Sekali main 15 menit kelar, mandi, udah,” ujarnya. “Sementara di sini, bisa sampai puas. Nggak tau lagi ya sekarang, mungkin lebih gampang soalnya ada aplikasi-aplikasi sewa kamar,” pungkasnya.