Senyum dan tawa mempesona hidupku
Menggenangi pikiranku..
(The Flins Tone – “Hariku Harimu”)

Aku mengenalmu sejak pagi pertama upacara bendera—Senin, tujuh lebih, panas gerah, topi kusam, noda keringat, bercak-bercak matahari, seragam  lepek, peluh membasah—dan kamu berdiri tepat di sebelahku.

Selama ini di hari Senin pagi aku hanya memperhatikan matahari dan arloji. Tapi hari ini, karena satu dan banyak alasan lain, aku juga memperhatikan pagar sekolah yang tertutup. Aku telat upacara lagi.

Inilah yang membuatku memperhatikanmu juga: murid perempuan yang tak pernah kujumpa sebelumnya.

Dua orang saja di depan pagar, sementara di baliknya adalah anak-anak patuh taat yang jarang telat. Beberapa bromocorah, begundal yang biasanya telat, hari ini tampaknya beruntung. Hanya aku dan kamu, di balik pagar, menahan gaduh pembina upacara yang terus-terusan menyindir supaya disiplin.

Aku hanya melihat mata kirimu—dan kilatan keringat yang menetes. Aku memakai topi, sementara kamu tidak. Tak ada percakapan. Sampai beberapa saat kemudian kamu dan aku digiring ke ruang BK. Tak ada percakapan. Aku hanya bisa melihat mata kirimu karena kamu berjalan di sisi kananku.

Kita belum pernah bertatap. Kamu hanya menunduk seolah tak menghiraukanku; anak sial yang kebetulan telat upacara.

Sampai aku tahu bahwa kamu adalah murid baru, pindahan dari Sidoarjo. Sampai aku tahu bahwa ini adalah hari pertamamu masuk sekolah. Sampai aku tahu bahwa ternyata aku sekelas denganmu.

“Widy…” ujarmu menyebutkan nama saat ditanya oleh wali kelas. Terkesan congkak. Aku tahu sebagian populasi laki-laki di kelas sedang memperhatikanmu. Tapi lekas pudar karena kamu dianggap angkuh. Sebagian populasi perempuan yang menganggap mereka tersaingi, juga jadi punya makin banyak alasan untuk membencimu.

Tapi aku tidak. Aku merasa sudah mengenalmu lebih dalam dari siapapun—dari balik pagar, meski tanpa paksaan.

***

“Wid,” ujarku.

Kamu menoleh. Parasmu, perlukah kudeskripsikan secara utuh? Kalau cantik terlalu abstrak, kalau manis terlalu usang, harus dengan kata apa aku menjelaskan rautmu yang sekarang ini duduk sendirian, dengan komik Detektif Conan di tangan kiri, dan botol Coca-cola setengah isi di tangan kanan.

Tak ada sepatah kata. Kamu hanya menoleh, dengan raut muka yang berarti ada-apa-ya? Aku tak tahu memanggilmu dengan tujuan apa. Pecundang sekelas diriku—yang walaupun kadang telat upacara—tak lekas bisa dianggap nakal.

Maksudku kali ini, aku hanya ingin menyapa. Bodohnya aku tak lantas lewat, tapi terdiam dan bengong di depanmu. Melihat garis di dalam matamu yang memancarkan bayangan awan. Jernih. Keringat menggelayuti telapak tanganku.

Aku kemudian mengambil jarak dan selanjutnya berjalan cepat.

Secepat racun rasa yang mulai membunuhku pelan-pelan…

BERSAMBUNG

***

Ini mungkin adalah kisah seorang pecundang yang terpukau dengan gadis bermata lentik. Ini adalah kumpulan kisah perih, seorang pendiam yang nekat menyapa, seorang tak banyak tingkah yang berusaha mengambil hati. Ini adalah kisah tentang manusia yang jatuh cinta, tetapi cinta tak pernah memihak padanya.

Ini lebih dari mencintai diam-diam. Ini adalah sedalam-dalamnya pengorbanan. Tiga babak kisah ini akan diawali dari sini, saat dia menyapa, untuk kemudian saling berpandangan dan membuatnya menggigil sampai tiga hari kemudian, sampai dia kembali berani menatap mata Widy, pujaan hatinya.

Kami mengundangmu untuk menentukan garis akhir kisah ini. Tinggal dua babak lagi—tapi tentu ada ribuan plot yang bisa terjadi. Silakan mengirimkan usulan plot dan lanjutan cerita dalam beberapa kalimat saja ke email kami, redaksi@dnk.id.

Kami tahu, pembaca adalah segalanya. Maka dari itu, plot selanjutnya adalah milikmu!