Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Widy Si Jutek dan Cerita Cinta Masa Sekolah yang Payah (1): Saat Pecundang Mencari Yayang

“Lajuku berpintu
Mawas perih, letih, takkan menipu
Kelak semua terhimpun
Tebar benih, batin telah terhubung”

(Dopest Dope – “Tuju”)

Hidup ini payah. Sekolah payah. Teman-teman payah. Aku payah. Bahkan aku pun tak mampu untuk sekadar menyapa. Dengan anggun, dengan berkelas, dengan suara bijak. Tanpa perlu keringat berlebihan di telapak tanganku. Yang mengotori celana seragamku. Yang merusakku di mata perempuan yang pertama kujumpa tatkala telat upacara.

Perempuan itu, kamu, Widy “Si Jutek,” begitu kata teman-temanku. Aku tak pernah ambil pusing meskipun selalu diremehkan mereka, dianggap tak ada, dinilai tak berharga. Kamu juga mendapat sikap serupa. Tapi jauh berbeda denganku yang rendah dan teman-temanku yang biasa saja, kamu lebih tinggi dari mereka.

Aku bukan tipe-tipe orang terkenal penyuka basket yang selalu mendapat keberuntungan di SMA. Aku malah tak bisa memegang bola basket. Aku bukan tipe-tipe penyuka musik—sebut saja beragam grup rap sampai RN’B yang lagi hype. Aku sama sekali tak mengerti.

Saat semuanya menyukai musik penuh semangat, aku malah lebih nyaman dengan kegetiran. Radiohead, dan sebangsanya. The Pain of Being Pure at Heart, dan sebagainya. Musik ganjil, musik kelam, musik kelabu, musik gelap, dan sebagainya, dan sebagainya.

Dan kamu Wid—dengan dandananmu yang sedikit emo dan berantakan, misterius sekaligus urakan, manis sekaligus gelap, semakin membuatku menjadi pecundang. Kau tahu Wid, aku tak pernah beruntung dalam hal apapun. Mataku sudah minus sejak lima SD. Ayahku mangkat setahun setelahnya.

Hidupku yang gila akan panjang bila kuteruskan. Tapi aku tak berharap empati. Aku tak berharap apapun. Aku tak tahu apa itu cinta, apa itu rindu, sayang, romansa, bla-bla-bla. Aku hanya ingin menyapamu karena aku menganggapmu sama denganku.

Tapi toh kesamaan kita hanya karena sama-sama telat upacara. Sisanya hanyalah perbedaan-perbedaan yang kian signifikan, yang terus kubentur-benturkan dalam kepalaku sendiri. Mengapa aku begitu pecundang sedangkan dunia terus menerus menginginkan pemenang?

“Dam?”

Satu suara mengagetkanku saat aku sibuk mencari topi untuk upacara. Aku selalu dijahili teman-temanku, tapi mereka tidak tertawa setelahnya karena mereka tak mempedulikanku. Untuk apa menjahati manusia kalau kau bahkan tak pernah menggubrisnya. Aku sadar bahwa dunia memang sejahat itu, tapi bukankah hal ini lebih dari jahat?

Widy “Si Jutek”, aku berharap yang memanggilku barusan adalah suaramu. Dan memang benar. Aku tak pernah memimpikan hal ini, dan aku tak akan bilang kalau hal barusan terasa seperti mimpi.

“Topimu? Tadi ada di dalam tasku,” ujarmu sambil menyerahkan topi kumalku. Sialan benar teman-teman yang menaruh topiku dalam tas Widy.

Aku mendelik dan kembali tak bisa berkata-kata. Mata sayumu membelalakkanku, mengingatkanku kalau hari ini adalah seminggu setelah kita bertemu di pagar sekolah karena telat upacara. Kamu mungkin menganggapku badung karena telat, tapi setelah melihat topi yang disembunyikan teman-temanku dalam tasmu, kau pasti menganggapku sampah.

“Wid!” Tiba-tiba aku memanggilmu kembali, yang nampak menjauh setelah menyerahkan topi. Aku tak ingin bilang terima kasih. Itu menurutku hanya sebuah ungkapan yang menunda maksud sebenarnya. Sebuah langkah basa-basi yang hanya dilakukan pecundang. Dan aku sebagai pecundang, tak ingin semakin dianggap pecundang.

“Ada apa lagi, Dam?” tanyamu.

“Minggu lalu, kita sama-sama telat upacara. Inget nggak?” jawabku.

Kamu memasang raut muka ‘oh ya’, lalu berpaling menuju pintu. Upacara akan segera dimulai. Aku berdiri sembari memegang topi, terpaku membayangkan apa yang barusan kulakukan. Ada rasa sedih, malu, tolol, tapi ada juga perasaan tumpah, gila, bahagia.

“Inget kok, Dam. Mau telat lagi nih sekarang?” Kamu tiba-tiba menoleh saat berada di hadapan pintu. Aku menoleh ke arahmu, mungkin dengan tampang kaget, dan selanjutnya meringis.

“Yuk, bareng ke lapangan!” ujarmu.

Aku mengenakan topiku layaknya pria Texas mengenakan kopi koboy-nya. Ada perasaan yang meledak-ledak, sekaligus takut yang menusuk dari dalam.

Tiba-tiba datang salah satu teman sekelasku, berlari menuju kelas. Anto namanya. Dia mungkin hampir telat, gengnya sudah berada di lapangan, dan itu mungkin yang membuatnya terburu-buru.

“Minggir, goblok!” bentak Anto, berlari sambil mendorongku keras sampai menubruk meja. Aku tahu kamu sedang melihatku Wid. Aku tahu. Tapi aku tidak berani melihatmu, takut kalau tatapanmu adalah tatapan iba.

Aku tidak tahu sedang berpikiran apa waktu itu, sampai aku sadar bahwa Anto sudah tersungkur di tanah dengan tengkurap. Aku tak percaya apa yang barusan kulakukan. Tanganku gemetaran, memegang kursi yang tadi kupakai untuk menghantam punggung Anto.

Dan tanpa melihatmu pun Wid, aku tahu bahwa sekarang tatapanmu berganti rasa yang lain. Entah rasa tegang, takut, atau mungkin, bangga?

BERSAMBUNG