Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Widy Si Jutek dan Cerita Cinta Masa Sekolah yang Payah (2): Dibully di Depan Cewek yang Kamu Suka

“Diam
Tatap wajahku perlahan
Derukan, derukan”

(Humi Dumi – “Ceria Cerita”)

Sempat ada dalam benakku bahwa aku tak seharusnya menggebrak Anto dengan kursi. Tapi setelah dipikir-pikir, petingkah Anto dan gengnya yang langsung membikin perhitungan denganku sesudah upacara sungguh menyebalkan. Harusnya aku menggebrak kepalanya dengan papan tulis saja. Benar kan, Wid?

Dia mendorongku tepat di depanmu Wid. Seandainya tak ada kamu, tentu aku akan merunduk sambil menahan sakit menabrak bangku. Tapi, kejadian itu lantas berlanjut. Sesudah Anto tersungkur, bangkit lagi sambil kesakitan lantas mengikuti upacara, gengnya yang mengetahui hal itu langsung melakukan perhitungan di dalam kelas setelah upacara. Kau pasti juga melihatnya.

“Kau jangan banyak petingkah! Cari muka depan Si Jutek ya?” ujar Udin, teman satu geng Anton sambil menggbrak mejaku.

Sementara kelas begitu hening, seolah semuanya sedang melotot ke arah kami. Termasuk, tentu saja kamu Wid, Si Jutek yang barusan disebut namanya.

“Kelahi lagi aja!” ujar Wawan, yang kemudian mendorongku. Padahal aku sedang duduk. Ada lima orang yang sedang mengerubungi bangkuku. Aku memang selalu duduk sendirian—pecundang yang paling pecundang adalah pecundang yang berteman sepi. Jadi tak ada seorang pun yang melerai, menegur, atau berpihak padaku.

Kamu tahu Wid, aku tak tahu kamu sedang melihat hal memalukan ini atau tidak. Aku pun ragu akan melakukan hal yang berani lagi. Diremehkan di depanmu jelas membuatku merasa tahi. Tapi dengan banyak orang begini, aku lebih merasa jadi tahi yang tak berguna.

“Aku nggak suka berantem di sekolah. Hari Minggu saja, kalau kau berani, aku tunggu kau di lapangan dekat sini. Kita habis-habisan, satu lawan satu, tak ada keroyokan!” ujar Anto, tegas.

Saat itulah Wid, aku mencari matamu dan aku seketika tahu bahwa kamu memperhatikanku. Sekarang hari Senin, enam hari lagi Minggu. Aku harus berbuat apa?

Tanpa aku sempat memberi jawaban, geng itu meninggalkanku. Memberiku sebuah pilihan: menyanggupi atau pergi. Lalu aku mencari matamu lagi, bertemu matamu lagi, lalu entah siapa yang membuang pandang.

Bel istirahat berbunyi dan semuanya keluar kelas. Kecuali aku dan kamu, yang duduk di pojokan sana. Saling diam. Tak tahu harus berbicara atau berbuat apa.

Lalu kudengar suara langkah. Langkahmu.

“Udah, Dam. Nggak perlu dipeduliin. Nggak usah meladeni mereka. Nggak perlu sok jago. Jangan datang kelahi ya, pas Hari Minggu,” ujarmu lirih, lalu pergi keluar kelas.

Aku hanya menunduk. Keringat membahasahi keningku. Lalu aku menggebrak meja dan memanggilmu. Lagi.

“Wid!” teriakku.

Kamu menoleh tepat di pintu. Aku berjalan mendekatimu. Sesosok koboy yang payah dan kalah.

“Nggak seharusnya aku ngelibatin kamu, Wid. Maaf ya,” ujarku lirih, menyapu matamu sebentar.

Hari berlalu semakin sopan, sementara kamu terus kuperhatikan diam-diam. Aku tidak tahu mengapa aku bisa berani sekaligus lemah. Sampai di hari Sabtu, saat aku sedang mengikat sepatu, kamu datang mendatangiku.

“Hai Dam, inget. Besok jangan diladeni ya. Aku tahu tiap hari kamu dipanas-panasi mereka. Sabar ya, Dam. Cuek aja,” ujarmu.

Aku mengangguk. Pelan sekali.

***

Kamu berdiri di depan, pagi saat aku datang. Upacara pagi, telat lagi. Kamu, Widy Si Jutek, berdiri di depan pagar, seperti tiga minggu lalu.

“Telat lagi? Berdua lagi?” tanyaku yang baru datang lalu berdiri di sebelah kirimu.

Kamu tersenyum lalu menoleh. Terperanjat melihat mataku yang biru. Lalu kamu tertawa terbahak-bahak saat “Indonesia Raya” dikumandangkan.

Aku pun tak kuasa tertawa juga, sambil menahan perih bonyok di mataku. Minggu yang berat. Tapi senyummu, tampaknya bisa lekas menyembuhkanku.

Thanks, Widy, Si Jutek. Aku sudah segila ini, ya?