Hijau. Hijau. Hijau. Persebaya. Bonek Mania. Kami Haus Gol Kamu. Persebaya Sampai Kiamat. Forever Game Persebaya. Sebutkan semua hal yang kau lihat di Sabtu (11/1) malam kemarin, dan kau pun tetap tak akan sanggup.

Terlalu banyak ornamen dan momentum di laga Persebaya Forever Game lawan Persis Solo ini. Terlalu penuh hal menakjubkan, seru, mengharukan yang terjadi. Hijau yang meluber di Stadion Gelora Bung Tomo kemarin adalah hijau kebanggaan; Persebaya tampil amat tokcer di sisa musim lalu, dan sekarang waktunya apresiasi.

Kritik, saran, atau apapun itu tentunya pasti ada, dan harus dijawab punggawa Persebaya beserta manajemen di musim depan. Biarlah malam ini kau menikmati syahdu chants, nyanyian “Song for Pride” yang khusyuk, nyalakan apapun yang menyala, menari, menyanyi, membaur bersama hijau-hijau Green Force.

Kompak mendukung satu titik di lapangan: Osvaldo Haay dan kawan-kawan yang sedang merumput, berduel bersenang-senang dengan sahabat sendiri; Persis Solo dan Pasoepati, “kita saudara:–begitu nyanyian sambutan Bonek dari Tribun Lor, Kidul, Kulon, sampai Wetan.

Apapun di poin tidaklah terlalu penting, karena toh Persebaya sudah menunjukkan taring bajulnya di Liga 1 yang baru saja berakhir.

Gertakan telak 4-0 atas kemenangan Persebaya, membawa bungah semakin buncah di dada, penuh di antara es teh plastik dan lumpia GBT, yang dilahap santai dengan daun bawang, sembari menonton para punggawa kebanggaan Surabaya ini terus merisak pertahanan Persis.

Adanya paket lengkap: Mbah Nun berbaju hijau Persebaya dan Kiai Kanjeng yang memicu koor massal paling dramatis saat membawakan “Song for Pride” sebelum laga dimulai, juga jadi nilai lebih dari acara Forever Game. “Ku slalu mendukungmu Persebaya.”

Kau yang mungkin membaca sampai paragraf ini, yang kebetulan datang berbondong-bondong dengan kawanmu, mungkin juga merasakan feel yang sama. Bungah yang buncah di kandang hijau buaya.

Saat sepakbola sudah jadi ibadah yang dijalankan dengan chants dan yel-yel khusyuk di sebuah kota, menarik massal ribuan orang merapat berhimpit berdempet masuk stadion, ini berarti sudah layak dicatat sejarah.

Sebagian besar pertandingan Persebaya selalu seperti ini, dan itu berarti Persebaya sudah bisa menyandang status legenda, jawara, daya tarik utama warga kota, nyawa, jiwa, di terik, di hujan, di menang, di kalah, di manapun: Persebaya adalah panggilan hati.

Kau sudah sampai paragraf ini saja. Dan mungkin ini saatnya kita kembali menyenandungkan harapan: Persebaya lebih baik lagi di musim depan, kalau bisa selamanya.

Forever Game adalah pertandingan tanpa akhir; tak berhenti di 90 menit plus tambahan waktu di lapangan, tapi sudah merasuk dalam ingatan, gairah, nyala hidup, dan memang karena sepakbola-lah, salah satu hal indah dalam hidup yang belum baik-baik saja ini.

Bravo Persebayaku, Viva Bonek, Salam Satu Nyali! WANI!