Pemilihan gubernur alias pilgub Jatim tinggal 19 hari lagi. Dalam waktu yang sangat pendek ini, kondisi pertarungan antara pasangan Saifullah Yusuf-Puti Soekarno dan Khofifah-Emil dianggap berat sebelah. Pasangan Khofifah-Emil memimpin hasil survei beberapa lembaga. 

Apalagi, pekan ini situs bahan cangkrukan kita semua DNK.id merilis tulisan berjudul Juara Kampanye Kreatif Belum Tentu Jadi Gubernur Jatim. Salah satu dasar dari argumen tulisan tersebut adalah survei yang dilakukan Harian Kompas. 

Harian yang bermarkas di ibukota tersebut pada Februari lalu melansir bahwa Khofifah-Emil unggul atas Gus Ipul-Puti Soekarno dengan selisih 0,5 persen. Selisih tersebut masih dalam batas margin of error 2,5 persen.

Bulan Mei lalu, media yang sama juga merilis hasil survei. Khofifah-Emil tetap unggul. Malah kali ini selisihnya mulai merambat naik. Dari 0,5 persen menjadi 2 persen. Sengaja perolehan masing-masing pasangan calon (paslon) tidak saya tuliskan di sini karena RIBET! 

Tapi, gaes. Keunggulan 2 persen tersebut masih dalam jangkauan margin of error yang angkanya masih sama, 2,5 persen. Yang mengunggulkan bude Khofifah tak hanya harian Kompas. Tapi juga survei dari Poltracking dan Republic Institute meski selisihnya ya tipis-tipis semua. 

Paling jauh cuma Poltracking. Itupun hanya 3 persen. Tipis banget kan? Setipis jumlah THR dan kenaikan gajimu masio wes kerjo dadi karyawan selama 7 tahun! *eh #kode. 

Dengan situasi diunggulkan oleh lembaga survei ini, boleh kita bilang bahwa Khofifah-Emil lagi naik daun. Sedang di atas angin. 

Di atas kertas, boleh lah kita bilang bahwa pasangan yang didukung Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Nasdem—ingat, singkatannya Nasional Demokrat bukan Nasi Goreng Adem! Plis deh netijen—ini menjadi calon favorit.

Sampai-sampai, Sekretaris Tim pemenangan Khofifah-Emil, Renville Antonio bilang bahwa kalau Khofifah-Emil kalah, itu pasti karena kecurangan. 

“Karena jika kami lihat dari rilis lembaga survei dan kondisi lapangan saat ini, memang sepertinya hanya kecurangan yang bisa mengalahkan kami. Untuk itu, kami betul-betul fokus terhadap persiapan pengamanan dan pengawasan pada hari tenang dan hari H nantinya,” kata Renville yang dikutip JPPN eh JPNN

Tapi, gaes, hakekat survei adalah mengetahui pola umum masyarakat terhadap beberapa isu. Dan semakin luas wilayah survei-nya, semakin kompleks lah data yang didapatkan. Bisa dibilang bahwa akurasi survei di dalam Kota Surabaya dan di Jawa Timur bisa jauh berbeda.

Mengetahui selera pilihan 3 juta penduduk Surabaya dan penduduk Jawa Timur yang 10 kali lipat lebih jumlahnya jelas berbeda. Berbeda dalam menentukan sampel dan akurasinya. 

Jangan lupa, Jawa Timur itu juga banyak yang daerah pegunungan. Yang bahkan untuk menuju ke sana saja mobil sudah tidak berguna lagi. Belum termasuk yang tinggal di gua-gua dan tebing-tebing curam bersama Gollum, Orcs, dan Trolls. Mereka juga berhak ikut pilgub lho. Pilgub Middle Earth. 😀 

Nah, dengan wilayah yang begini luas, sulit untuk menebak akhir pilgub Jatim. Selain wilayahnya sangat luas, juga gap antara kedua pasangan calon cukup tipis. 

Dengan hari pencoblosan tinggal 19 hari lagi, semua survei-survei yang dilakukan sudah mentok. Semua serangan udara melalui media sosial apapun juga tidak akan bisa kemana-mana. Wong jangkauan digital campaign itu saya rasa nggak akan pernah bisa lebih dari 60 persen kok.

Artinya, keunggulan dalam survei, viralitas konten, bahkan video-video yang bertebaran di social messenger tetap belum bisa menentukan pemenang pilgub Jatim. 

Jangan lupa, pada pilgub Jatim 2008, saya masih ingat pasangan Khofifah-Mudjiono (Kaji) juga unggul dalam survei. Salah satu yang mengunggulkannya adalah Lembaga Survei Nasional (LSN) dan Surabaya Survei Centre (SSC). Dua-duanya kompak menempatkan pasangan Kaji unggul atas Karsa (Soekarwo-Saifullah Yusuf). 

Pasangan Kaji didukung 37,9 persen responden sedangkan Karsa 37 persen. Selisihnya 0,9 persen. Masih dalam jangkauan margin of error sebesar 3,1 persen. Persis seperti kondisi sekarang. 

Hasil akhir pilgub Jatim 2008 justru njomplang. Karsa menang, Kaji kalah. Meski sempat dilakukan pemilu dan hitung ulang di Pulau Madura, tetap saja Karsa yang menang atas Kaji. 

Artinya, pada titik di mana selisih begitu ketat, survei sudah kehilangan akurasinya. 

Di sinilah mesin politik bakal riil bekerja. Sebab, yang menentukan dalam detik-detik akhir seperti ini adalah para operator lapangan. Merekalah yang bisa membuat perbedaan nyata setelah selama berbulan-bulan gempuran udara tak terlalu kuat mempengaruhi selera netijen. Sebab, dunia ini isinya nggak cuma netijen gaes!