Ada sesosok teror yang menghantui Indonesia. Hantu yang membuat tiap-tiap orang beriman ketakutan, hantu yang membuat tiap-tiap orang bertuhan menjadi gemetar mendamba hangat peluk ketiak ibunya. 

Hantu itu bernama liberalisme. Liberalisme telah membuat orang-orang yang paling beriman menjadi pemuja kebebasan, memuja ketiada-aturan, memuja segala-gala yang berasal dari barat.

Tapi sebenarnya apa itu liberalisme? Apa artinya menjadi liberal?

Beberapa teman dan kenalan dekat menganggap bahwa liberalisme adalah sumber kehancuran manusia. Ia merusak agama, moral, dan yang lebih keji, ia berusaha menggantikan peran Tuhan dalam menentukan baik dan buruk. 

Liberalisme harus dilawan, karena ia berusaha mengganti hukum tuhan dengan hukum manusia. Liberalisme mesti dimusnahkan karena ia meracuni hukum tuhan yang suci. Pelakunya mesti diasingkan, dijauhi, dan kalau perlu pada satu titik, dimusnahkan.

Sampai hari ini liberalisme belum pernah menyerukan orangtua untuk melarang anaknya diimunisasi. Liberalisme juga belum pernah memerintahkan pengikutnya untuk membunuh mereka yang dianggap sesat atau kafir. 

Dalam liberalisme, seseorang punya hak individu yang harus diakui sejalan dengan mereka menghormati orang lain. Hak ini dijamin selama ia tidak mengganggu atau mengancam kehidupan orang lain.

Orang-orang saleh ini beranggapan bahwa liberalisme adalah wabah mara bahaya yang membawa penyakit dalam agama, norma sosial dan kehidupan berbangsa. 

Tapi orang orang saleh ini lupa, bahwa dalam sejarah panjang peradaban Islam, liberalisme adalah kawan juga jalan yang dipilih para mujtahid ketika hukum-hukum Tuhan dan Hadist Nabi kurang mampu menjawab tantangan zaman.

Masjid ketika nabi masih hidup, digunakan untuk beribadah orang katolik. Apakah ini liberal?

Liberalkah Kalifah Umar Ketika ia melakukan ijtihad perihal tanah perang yang terbentang dari Suriah, Irak, Persia, sampai Mesir dengan memberikan pengelolaan tanah kepada negara. Padahal berdasarkan ketentuan Al-Quran surah Al-Anfal 41, semestinya prajurit yang ikut berperang mendapat empat perlima dari jarahan (ghanimah), sedangkan yang seperlima masuk kas negara untuk kemaslahatan umat. Ketentuan ini dipraktekkan sendiri oleh Nabi ketika membebaskan tanah Khaibar.

Tapi Umar khawatir, kalau ia mengikuti bunyi harfiah ayat itu, kemaslahatan umat justru terancam karena, dengan cara begitu, tanah pertanian habis dikapling-kapling dan tak ada sisa untuk generasi berikutnya.

Akhirnya Umar berijtihad: tanah tidak dibagi-bagi, tapi tetap digarap oleh pemilik asli dengan syarat membayar kharaj (pajak). Status tanah itu menjadi milik negara. Dengan kata lain, ijtihad Umar meninggalkan arti harfiah surah Al-Anfal 41.

Atau Liberal-kah Kanjeng Nabi Muhammad yang ketika ia masih hidup, kedatangan utusan katolik Najran. Yang ketika sore umat katolik ini hendak beribadah, dengan segera Kanjeng Nabi Muhammad mempersilahkan mereka untuk beribadah di Masjid, ya benar di Masjid. Masjid ketika nabi masih hidup, digunakan untuk beribadah orang katolik. Apakah ini liberal?

Apa itu liberal dan apa itu Islam yang akbar? Apakah Islam jika saling menyesatkan padahal Kanjeng Nabi Muhammad berulang kali mengatakan, jika ada dua orang islam lalu salah satunya mengkafirkan, maka yang mengkafirkan adalah yang kafir.

Apakah Islam jika kemudian saling menyesatkan dan menyebarkan kebencian? Apakah islam jika kemudian menyerukan kekerasan, pembunuhan dan perbudakan atas nama Tuhan?

Ketika kita sibuk menjegal monster bernama liberalisme, umat agama lain dengan santun dan rendah hati merengkuh lantas mengajak serta sosok ini duduk setara sebagai rekan. Ilmu pengetahuan seperti, filsafat, matematika, fisika, biologi dan astrofisika digandeng serupa kawan akrab. Umat agama lain belajar memuji tuhan melalui pengetahuan dan mempelajari segala ciptaannya.

Liberalisme menghormati sains sebagai sistem berfikir dan pengetahuan sebagai medan pengabdian, meski dengan cara yang sangat Darwinian. Hanya mereka yang cocok dan mampu beradaptasi yang bisa hidup. Mereka yang kolot dan malas berkembang akan dilibas zaman. 

Sistem yang ada berusaha untuk mendorong manusia melakukan perubahan-perubahan untuk kepentingan dirinya sendiri. Belajar memanfaatkan teknologi, belajar memanfaatkan perkembangan kedokteran, dan memanfaatkan pengetahuan.

Umat-umat lain berlomba menjelajahi angkasa luar dengan merengkuh pengetahuan melalui roket dan teknologi terbaru. Umat lain memuja tuhan dengan mencari kebijaksanannya dengan mencari energi alternatif agar peradaban manusia lebih baik. Liberalisme memberikan ruang bagi umat-umat saling bertukar ilmu. Bukan dengan menutup diri dan mencari kemurnian buta.

Saat ilmuan menemukan obat dari sel babi, mengembangkan organ dari embrio hewan yang kita anggap haram, atau memanfaatkan rahim buatan, apakah ini menentang kehendak tuhan? Menantang ajaran agama? Ataukah perlu kesegaran tafsir dalam menghadapi yang berbeda?

Tentu ayat-ayat dalam kitab suci benar belaka, tapi bagaimana tafsir manusia yang punya potensi dhaif? Sementara kita hidup jauh dari zaman Nabi sebagai juru bicara tuhan. 

Liberalisme itu monster, karena saat sebelum islam perempuan tak boleh memperoleh pendidikan setara lelaki. Liberalisme itu hantu, karena sebelum islam perbudakan adalah hal yang halal. Liberalisme itu biadab, karena sebelum islam ilmu pengetahuan adalah bid’ah. Ya liberalisme adalah sekeji-kejinya monster.