Hingga kini, Anindya Shabrina Joediono masih tenang-tenang saja menghadapi ancaman jerat tindak pidana ITE. Dimana dia sebagai terlapor oleh Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS), Pieter Frans Rumaseb pada 25 Juli 2018 ke Polrestabes Surabaya.

Flashback semua ini terjadi dari Asrama Mahasiswa Papua, di Jalan Kalasan, Kecamatan Tambaksari, 6 Juli lalu. Anindya yang aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya mendampingi para mahasiswa Papua yang saat itu didatangi sejumlah aparat satpol pp, kepolisian, hingga TNI untuk melakukan operasi yustisi.

Sempat terjadi ketegangan saat itu. Anindya yang tetap bertahan alias tidak mau pindah dari lokasi diseret ke luar oleh aparat sambil dipegang-pegang bagian payudaranya.

Beberapa jam setelahnya, Anindya mengunggah kronologi intimidasi, tindak kekerasan, dan pelecehan seksual yang menimpa dirinya ke akun Facebook. Hari-hari setelahnya, dia mengunggah beberapa status Facebook untuk mencari keadilan atas perlakuan buruk yang menimpa dirinya.

Hal itu dipilih karena sudah lapor ke pihak aparat penegak hukum, tapi belum ada respons yang serius. Mulai tingkat Polda Jatim, Mabes Polri, hingga Kompolnas.

Ketika dihubungi tim DNK.ID untuk memberikan tanggapan terhadap kasus tersebut, Anin bersikap santai. “Sek maskeran tapi ini, wkwkwk,” ujarnya membalas sebuah pesan yang terkirim dengan nada bercanda.

Sebagai seorang mahasiswi di Universitas Narotama, Anin seakan tidak takut menghadapi kasus tersebut. Seperti kebanyakan aktivis, dia memiliki nyali yang cukup berani untuk menghadapi aparat hukum. Yang mungkin siap kapan saja untuk memenjarakan dia.

Puluhan orang yang berkumpul tanpa mendapat imbalan apapun dari Anin menunjukkan bahwa dirinya kini tidak hanya populer di dunia aktivis Surabaya, tapi sampai ke penjuru Nusantara. Jika pernah mengingat ada lagu Udin Se-Dunia, kini ada dukungan untuk Anin Se-Dunia.

 

Terhadap kasus pelaporan tindak pidana ITE yang dilaporkan kepadanya, Anin mengaku sampai saat ini belum mendapatkan surat panggilan. Namun, dia hanya mendapatkan surat perihal dimulainya penyidikan. “Yang lebih dahulu diperiksa saksi-saksi. Mungkin saya nanti,” ujarnya.

Meski Anin tahu suatu saat bakal dipanggil, dirinya mengaku tidak gentar menghadapi kasus tersebut. Sama seperti temannya yang terus memberikan dukungan di mana-mana. Secara terang dan tegas bukan hanya menyebut stop kriminalisasi terhadap aktivis, tapi langsung menyebut stop kriminalisasi kepada Anin.

Meski kejadiannya di Surabaya, Anin tidak hanya mendapatkan dukungan dari lingkar aktivis di Kota Pahlawan. Tapi juga dukungan dari Malang, Semarang, Jakarta, Makassar, hingga Papua.

“Yang mendukung bukan hanya sesama teman aktivis. Tapi ada serikat pekerja buruh sampai serikat pekerja tani,” jelasnya.

Mendapatkan dukungan begitu intens dan massiv, Anin mengaku senang. Tapi dia menolak jika dukungan itu diberikan lantaran dia yang meminta. “Itu aksi spontanitas,” katanya.

Penyidikan kasus tersebut baru dimulai kemarin. Namun, sudah ada beberapa orang yang berdemo di kantor Polrestabes Surabaya. Saat itu, jumlah demonstran yang memang belum begitu banyak melakukan protes bisu.

Nah, jika nanti Anin sampai diperiksa atau tidak tertutup kemungkinan dijadikan tersangka, tampaknya, bakal ada demo besar-besaran. Mengenai hal itu, Anin tidak menampiknya. “Demo besar-besaran itu pasti,” tegasnya.

Puluhan orang yang berkumpul tanpa mendapat imbalan apapun dari Anin menunjukkan bahwa dirinya kini tidak hanya populer di dunia aktivis Surabaya, tapi sampai ke penjuru Nusantara. Jika pernah mengingat ada lagu Udin Se-Dunia, kini ada dukungan untuk Anin Se-Dunia.