Seakan belum puas menjadikan media sosial sebagai arena pertarungan, kampret dan cebong sekarang juga mulai ngurusin sepak bola. 

Saya sih gak tahu pasti siapa yang dimaksud kampret dan cebong itu. Tapi berdasarkan rumor yang berkembang kampret sering disematkan kepada para pendukung oposisi. Sedangkan cebong adalah pendukung petahana.

Kampret dan cebong ini pun mulai mengeluarkan berbagai argumennya. Seakan mereka ahli di bidang sepak bola. Padahal, kencing saja masih belum lurus apalagi nendang bola.

Atau bahkan sebenarnya mereka tidak suka sepak bola. Tapi karena selagi ada bahan amunisi untuk menyerang maka ditembak juga.

Yang terbaru dan dibuat rame ialah surat penolakan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terkait pemberian dana ke Timnas U-16. Surat itu dengan nomor 272/D.IV-4/V/2018, tertanggal 7 Mei 2018.

Alasannya Kemenpora lebih memilih berkonsentrasi untuk Timnas Putra dan Timnas Putri yang turun pada ajang Asian Games bulan Agustus ini. Dan PSSI diminta mencari dana sendiri untuk terselenggaranya turnament Piala AFF U-16 di Jawa Timur.

Surat itu sebenarnya sudah keluar lama. Sejak bulan Mei lalu. Tapi kenapa baru diributkan sekarang ya? Bahkan diviral se-viralnya.

Ributnya berbarengan saat Timnas U-16 baru saja keluar sebagai juara Piala AFF tahun ini di Sidoarjo. Di mana Indonesia berhasil menang adu penalti lawan Thailand di final.

Padahal kalau meributkan itu kan sudah kasep. Nasi sudah menjadi bubur. Sebaliknya di kubu cebong pun memberikan argumen pembenaran segala cara. Intinya sih biar terlihat gak mau kalah argumen. Dan ada yang sampe parah mengklaim keberhasilan tersebut adalah keberhasilan dari dia.

Perdebatan itu jelas merusak suasana kemenangan yang melingkupi para pemain. Sebab, “pemilik sah” kemenangan itu adalah para pemain serta staff ofisial pelatih yang sudah terlibat langsung di dalamnya secera internal.

Kalaupun ada faktor eksternal, itu adalah suporter yang terlibat langsung menyuntikkan semangat para pemain agar tampil mati-matian di lapangan. Cebong sama kampret mana tau!

Sekarang ini bagaimana ya kira-kira perasaan David Maulana dkk. Mereka yang berjuang mati-matian di lapangan demi mengharumkan nama bangsa kemudian nama mereka dicatut ke sana ke mari demi kepentingan politik praktis.

Pertanyaannya juga ialah kapan para politisi tobat ngurusin sepak bola? Karena selain bukan bidangnya, olahraga adalah bidang yang memang harus dijauhkan dari kepentingan politik.

Olahraga adalah olahraga. Yang mengedepankan azas sportifitas dan fair play di dalamnya. Beda sekali dengan motto politikus yang bisa menghalalkan segala cara demi tercapainya sebuah tujuan.

Dan lagi para pemain Timnas U-16 ini sudah tak seharusnya dijadikan obyek politik. Mereka ini semua masih di bawah umur. Jangan dijadikan alat kampanye. Sebab, godaan dari produk sosis yang menawari mereka jadi bintang iklan sudah cukup besar.