Tragedi pembakaran bendera HTI yang kebetulan ada kalimat tauhidnya di Garut benar-benar dimanfaatkan untuk menyudutkan Banser. Padahal, Banser sebelumnya selalu berkomitmen untuk membela NKRI dari berbagai ancaman ideologi ekstrem. 

Tapi, Banser kali ini mendapat ujian ekstra. Yang terusik dengan keberadaan Banser mulai berani melakukan counterattack. Parahnya, Banser sampai diminta bubar.

Bentar, bentar. Sebenernya onok opo sih? Kok sampai ributnya jadi gede gini?

Banser secara sepihak dituduh yang tidak-tidak. Anti kalimat tauhid lah, penista agama lah, dan berbagai tuduhan lainnya. Orang yang menuduh ya itu-itu saja.

Kita bisa menyebut mereka pengklaim kebenaran yang seolah-olah sudah mengkavling tanah di surga.

Sebagai kaum berpendidikan, kita hendaknya bersikap rodok santai dan mempelajari dulu akar masalahnya.

Kalimat tauhid yang jadi sumber masalah tentu saja sering diucapkan Banser dalam keseharian. Ketika salat, berzikir, maupun tahlilan.

Jadi, yang menyebut Banser anti kalimat tauhid perlu mengecek dulu kewarasannya. Sebab, hanya logika bahlul-bahlulan yang setuju menyebut Banser anti kalimat tauhid.

Dalam hal ini, saya setuju dengan perkataan Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholik Qoumas. Dia menjelaskan bahwa aksi tersebut jadi upaya untuk menjaga kalimat tauhid.

Pria yang akrab disapa Gus Yaqut itu memaklumi tindakan para kader badan semiotonom GP Ansor tersebut. Pembakaran dilakukan justru karena di bendera berlatar hitam itu ada lafal tauhid.

Menurut dia, hal serupa juga akan dilakukan bila menemukan sobekan naskah atau mushaf Alquran. Untuk menyelamatkan kalimat suci dari injakan kaki, penyalahgunaan, atau terbuang di tempat yang tidak semestinya.

Dari tayangan video yang viral, terlihat bahwa pembakaran dilakukan secara perlahan dengan posisi bendera dijinjing ke atas. Tak ada tindakan yang mengarah pada pelecehan seperti menginjak-injak atau sejenisnya.

Meski begitu, Gus Yaqut tetap memerintah kader di bawah untuk tidak lagi membakar bendera apa pun. Kalau menemukan bendera-bendera organisasi terlarang, mereka diminta untuk menyerahkannya kepada aparat keamanan.

Biar aman, Lur.

Sebab, efek kejadian itu benar-benar menyebar ke penjuru Nusantara. Di Palu, misalnya. Dalam video viral pengibaran bendera hitam yang bertulisan kalimat tauhid, ada ancaman kalau Banser ditolak di sana.

Selain itu, puluhan anggota Banser yang sedang melakukan misi kemanusiaan di Palu dilaporkan diserang sejumlah orang tak dikenal. Meski tidak sampai berakibat fatal hingga ada korban meninggal atau luka berat.

Bukan hanya Banser yang jadi sasaran tembak. Kantor PB NU di Jakarta juga menjadi sasaran demo. Yang awalnya hanya perang ideologi atau ghazwul fikri kini jadi aksi nyata dengan mengajak adu ngotot.

Serem banget sih, Ya Allah Ya Rabb…

Untung, keinginan adu ngotot ini tidak diladeni PB NU. Bahkan, Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siroj sudah mengeluarkan keputusan sikap. Beliau meminta semua pihak, terutama warga Nahdliyin, untuk menjaga ketenangan dan tidak terprovokasi.

Jadi bagi para pem-bully, kalau ingin terus melakukan tindakan yang tidak terpuji, langsung saja lakukan. Terus-terusno. Sebab, kalau PB NU sudah berubah sikap, kalian bakal susah selamat.

Sebaiknya jaga saja pikiran waras kalian. Santri-santri NU punya tujuan baik kok: membebaskan mereka yang terpapar ideologi ekstrem agar kembali menjadi pemeluk agama Islam yang rahmatan lil alamin.

Saat istighotsah kubro Hari Santri Nasional di GOR Sidoarjo, Ketua PW NU Jatim KH Marzuki Mustamar juga menyampaikan bahwa ulama dan kiai memiliki andil besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Contohnya, sebelum ada tentara, Pangeran Diponegoro bersama santri-santrinya telah berjuang melawan penjajah untuk meraih kemerdekaan.

“KH Hasyim Asy’ari bahkan telah menggagas resolusi jihad. Ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan warisan para ulama dan kiai, dan kita wajib menjaganya,” tegasnya.

Kini pilihan ada di tangan Anda: pilih gelut terus atau berdamai?