Kisah ini berawal saat aku melaksanakan kemah di sekolahan. Berbekal beberapa baju dan keperluan Pramuka lainnya, aku berangkat diantar kakekku ke sekolah.

Pukul 13.00, kami berkumpul di lapangan dan mulai mendirikan tenda. Saat itu sangat panas, matahari benar-benar mengeluarkan energinya.

Namun, semakin condong matahari ke barat, mendung hitam mulai menggantung di angkasa.

Sorenya, hujan turun dengan deras. Kami diungsikan ke dalam kelas. Rencana tidur berlangit tenda berakhir dengan atap plafon.

Aku dan reguku mendapat jatah di ruang 8. Ruang dekat masjid dan koperasi.

Keanehan dari acara itu bermula ketika aku salat Magrib sendirian di masjid.

Dinding masjid terbuat dari full kaca dengan garis hitam sebagai pembatas antara jendela dan kacanya. Sejak mengambil air wudu, aku merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman.

Aku mulai melaksanakan salat. Mungkin aku tak berkonsentrasi karena beberapa kali melirik bayanganku di kaca masjid.

Beberapa kali aku melirik, hanya terlihat bayanganku yang sedang salat.

Hingga di lirikan terakhir, aku melihat diriku tengah menyeringai sembari melambaikan tangan. Padahal, aku hanya diam dan sama sekali tak menyeringai.

Mataku terbelalak dan tak mau lagi menatap ke depan. Aku hanya berfokus ke lantai hingga akhir salatku.

Beberapa gadis lain mulai masuk ke masjid. Aku merasa tenang karena masjid sedikit lebih ramai. Aku merapikan alat ibadahku dan kembali ke kelas.

Di dalam kelas, beberapa temanku yang sudah lebih dulu beribadah sedang menyantap makanan yang diberikan ibu kantin. Aku bergabung dan melupakan hal menakutkan yang terjadi di masjid.

Sekitar pukul 19.30, aku dan salah seorang temanku bergegas untuk salat Isya.

Kali ini aku membawa teman. Ya kalek sendirian lagi terus ketemu sama yang tadi, kan nggak lucu.

Saat itu temanku tidak membawa mukena. Ditambah, mukena masjid dipakai semua. Akhirnya, dia menuju kelas regu lain untuk meminjam mukena.

Aku mengikutinya dari belakang sambil membawa senterku.

Hawa dingin mulai menusuk. Angin sepoi-sepoi dan cipratan air hujan menambah dinginnya suhu.

Temanku mulai berceloteh, membicarakan ulangan matematikanya yang dapat nilai paling rendah sekelas. Padahal aku sudah tahu. Kan aku dan temanku sekelas.

Angin berembus lagi. Namun, anginnya berbeda dengan yang tadi. Saat kami berbelok di ujung lorong, tak sengaja aku menyorot ke arah temanku.

Aku dan temanku spontan berteriak. Pasalnya, bayangan yang dipantulkan temanku ada dua. Yang satu tampak seperti bocah cebol atau apalah yang memiliki rambut terjuntai.

Spontan kami berlari kembali. Di ujung lorong satunya lagi, kami tak sengaja menabrak kakak kelas. Sambil terengah-engah, temanku menunjuk ujung lorong di belakangnya.

Kakak kelas kami menyengir. Tanpa memberikan tanggapan, dia mengantar kami kembali dan meminjamkan mukena yang baru dipakainya. Akhirnya aku dan temanku salat Isya berdua. Tanpa ikut salat berjamaah.

Sekitar pukul 21.00, beberapa kakak kelas masuk ke kelasku. Teman yang bersamaku tadi akhirnya demam. Entah karena terkejut, atau suhu yang dingin.

Temanku akhirnya dirawat di UKS dan kabarnya dipulangkan malam itu juga. Karena kejadian tersebut, teman-temanku yang lain berubah profesi menjadi wartawan yang keponya minta ampun.

Aku diminta menceritakan kronologi kejadian di lorong dekat perpus tadi.

Dengan malas aku menyahuti satu per satu pertanyaan mereka. Di akhir cerita, aku menambahkan kata “entah apa itu” dan mereka menyengir.

Pukul 23.00, aku belum tidur. Ditemani beberapa teman lain, aku makan makanan ringan dan bercerita hal yang menyenangkan. Seakan kami sedang berjaga malam.

Lampu masih dinyalakan. Namun, semakin malam, temanku yang sudah terlelap terganggu dengan cahaya lampu. Mereka ingin lampu dimatikan. Tapi, kami yang masih terjaga menyarankan untuk tidak.

Kami spontan menjerit, membangunkan yang lainnya. Namun, pocong itu malah tergelak.

Singkat cerita, terjadi perebutan lampu. Karena banyak anak yang sudah tidur, akhirnya kami yang terjaga menurut dan ikut tidur.

Lampu dimatikan. Dengan sumber cahaya redup dari lampu teras yang tampak di jendela-jendela, aku berusaha tidur.

Mataku berat dan aku memejamkan mata. Namun, mataku kembali terbuka karena kilatan kaca mengenai mataku. Aku melirik ke arah jam, pukul 02.00. Ternyata aku tadi sudah tidur, namun tidak sadar.

Kilatan kaca mengenai mataku, tapi aku tak tahu sumbernya karena kilatan itu bergerak dengan cepat.

Di ujung ruangan, temanku ikut bangun. Dia menatap ke arahku dan bertanya, “Siapa sih yang usil mainin kaca?”

“Mungkin ada kakak kelas yang mau nakutin kita.”

Temanku mengangguk dan membenahi rambutnya. Aku kembali berbaring. Namun, saat itulah aku mendengar suara orang melompat.

Aku kembali duduk. Temanku ternyata sudah berdiri dan hendak menyalakan lampu. Sakelar ditekan, tapi lampu tak kunjung menyala. Mungkin ada pemadaman karena guntur juga terdengar menggelegar.

“Ck, mati lampunya,” keluhnya. “Dengar, nggak?” lanjutnya, memperhatikan sekeliling.

“Denger-denger, orang lompat-lompat.”

Brakkkk… Pintu menjeblak dan sesosok pocong masuk. Kami spontan menjerit, membangunkan yang lainnya. Namun, pocong itu malah tergelak.

“Lucu sekali,” katanya.

Suaranya aku kenal. Ketua OSIS itu berpakaian seperti pocong untuk menakuti kami. Kami satu kelas langsung terbangun. Dan beberapa pocong lainnya masuk.

“Bagus kan kostum kita?” tanyanya.

“Iya-iya lho, Kak,” jawab kami.

“Siapa aja itu, Kak? Delapan orang?”

“Kok delapan? Ada tujuh. Aku, Dimas, Hans, Bowo, Jati, Saka, sama Satria.”

“Lah itu, delapan.”

Ya, intinya pocongnya ada delapan. Padahal anggotanya hanya tujuh orang.

Ketua OSIS-ku mulai berhitung, dan selalu menunjukkan angka delapan. Tapi, dia nggak mau pusing-pusing mana yang siswa tambahan.

Dia langsung menyuruh semuanya membuka kostum. Anehnya, saat dihitung lagi, jumlahnya kembali ke tujuh. Padahal, sama sekali nggak ada yang keluar kelas.

Itu kejadian aneh terakhir yang aku alami. Banyak cerita lain yang dialami kakak kelasku. Mulai kepala melayang, obor berjalan, hingga gadis berbaju hitam di meja rapat ruang Dewan Penggalang.

Intinya, malam itu malam paling menyeramkan bagi kami.

Yang sampai kini kupertanyakan adalah kilatan cahaya. Yahh, mungkin saja itu dari flash ponsel yang dipantulkan lewat kaca.

Namun, percayalah, kami tak boleh membawa ponsel dan saat itu mati lampu.